News

Misi rahasia Sutiyoso di Timor Timur, menyusup sendirian dan musuh kocar-kacir di Operasi Flamboyan

TNI sudah beberapa kali menjalankan operasi intelijen untuk mencapai misi tertentu. Selain misi Operasi Alpha yang terkenal karena berhubungan dengan intelijen Israel, TNI, dulu namanya masih ABRI, pernah juga menjalankan Operasi Flamboyan dalam misi pembebasan Timor Timur pada 1970-an. Dalam misi Operasi Flamboyan ini ada peran Sutiyoso atau Bang Yos. Misi rahasia Sutiyoso bantu membuka jalan Operasi Flamboyan.

Sutiyoso yang pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal itu telah makan asam garam selama 25 tahun di Komando Pasukan Sandi Yudha, atau Kopassus serta 4 tahun di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Baca juga: Suzuki XL7 sudah ada bekasnya, harganya turun drastis

Pada operasi itu, Bang Yos menjalani kisah heroik dalam misi rahasia di Timor Timur itu. Bang Yos yang ketika itu masih berpangkat kapten dalam satuan Komandu Pasukan Sandi Yudha, atau Kopassus masa kini. Dalam misi itu, Bang Yos tak bisa membiarkan rekannya disantap musuh. Bang Yos menggendong pasukannya yang terluka sambil terus menghadapi ancaman peluru dari serdadu Fretilin.

Pada pertengahan 1970-an, Timor Timur sedang panas, sebagai wilayah jajahan Portugal itu gejolak muncul dengan terjadinya Revolusi Anyelir di Portugal. Maka dinamika di Timor Timur diantisipasi oleh TNI yang mana Indonesia berbatasan langsung dengan wilayah jajahan Portugal itu.

Misi rahasia dari Benny Moerdani

Sutiyoso saat aktif di TNI AD
Sutiyoso saat aktif di TNI AD. Foto Instagram @h_sutiyoso

Sebelum menjalankan misi klandestin dalam Operasi Flamboyan, Sutiyoso kala itu dipanggil menghadap Brigadir Jenderal Benny Moerdani.

Pada suatu malam di pengujung 1974, Kapten Sutiyoso yang saat itu menjabat Kepala Seksi Intelijen Grup II Komando Pasukan Sandi Yudha meluncur ke kantor Asisten Intelijen Dephankam. Di kantor itu, dia menemui Beigjend Benny Moerdani. Sutiyoso menghadap Benny di ruang kerjanya dan muncul perintah yang menciutkan nyali.

Dalam buku TNI: Kisah Intelijen TNI dalam Beberapa Palagan Sejarah Indonesia yang diterbitkan TEMPO Publishing, dituliskan Sutiyoso mendapat instruksi dari Benny Moerdani untuk terjun dalam misi rahasia.

“Cari dua titik untuk masuk ke Timor Timur. Waktunya sepekan, lakukan sendiri secara rahasia. Jika tertangkap kamu tak diakui sebagai prajurit,” perintah Benny Moerdani ke Bang Yos.

Sutiyoso menjalani misi dari Benny Moerdani pada awal 1975. Tapi ternyata sebelum Sutiyoso bergerak, ada tim intelijen lain yang sudah menyusup ke Timor Timur lho. Malahan tim ini bergerak sejak Juli 1974 di bawah komando Badan Koordinasi Inteijen Negara (Bakin) yang dipimpin Kolonel Aloysius Sugiyanto.

Menyusup jadi kuli panggul

Sutiyoso dalam misi Timor Timur
Sutiyoso dalam misi Timor Timur. Foto Instagram @h_sutiyoso

Akun Twitter @Aan_Hantorov mengisahkan dalam utasannya soal misi sendirian Sutiyoso itu. Jadi pada awal 1975, Sutiyoso meluncur ke Atambua, dengan menyaru sebagai mahasiswa dan kuli panggul supaya bisa aman masuk ke wilayah Timor Timur yang kala itu dikuasai oleh tentara Portugal, Tropaz. Sutiyoso juga mesti menjaga diri jangan sampai ketangkap gerilyawan Fretilin, sebuah parpol komunis yang ingin Timor Timur merdeka dari Portugal.

Misi penyamarannya nyaris terbongkar beberapa kali oleh gerilyawan Fretilin. Namun Bang Yos bisa lolos berkat kemampuan intelnya. Akhirnya misi rahasia Sutiyoso sukses dengan masuk menyusup, dia bisa memetakan dan menggambarkan jalur masuk ke Timor Timur. Segera dia melapor ke Brigjend Benny Moerdani.

Hasil gambaran dari Bang Yos ini jadi landasan mula operasi yang lebih besar TNI di Timor Timur, yaitu Operasi Flamboyan. Operasi ini terdiri dari 300 pasukan Kopassandha yang dibagi menjadi 3 tim, yaitu tim Susi, tim Tuti dan tim Umi. Sutiyoso masuk dalam tim Umi sebagai Wakil Komandan.

Karena rahasia, semua pasukan dalam Operasi Flamboyan ini tak bersegaram militer dong. Mereka menyaru dengan mengenakan pakaian sipil, berkaos oblong dan celana jeans. Maka belakangan dikenal pasukan ini dengan sebutan Blue Jeans Soldiers.

Tim Umi mahasiswa KKN

Blue jeans soldiers
Blue jeans soldiers dalam misi Timor Timur. Foto Twitter @Aan_Hantorov

Tim Umi ke Atambua pada 27 Agustus 1975. Menyusup ke Motaain via laut menumpang kapal bea cukai. Sutiyoso dan anak buahnya menyaru sebagai mahasiswa yang KKN.

Senjata serta amunisi disembunyikan dalam karung dengan kamuflase alat pertanian. Tiga tim ini dilaporkan banyak bertempur dengan Fretilin, dan beberapa kota di Timor Timur berhasil direbut oleh misi Operasi Flamboyan ini. Pada akhir 1975, pasukan Blue Jeans Soldiers dilebur dalam Operasi Seroja.

Pertempuran heroik

Sutiyoso mengenang satu pertempuran saat bersama timnya menghancurkan pos-pos militer Fretilin, Sutiyoso sangat liar bertempur dan membuat ngeri Tropaz serta Fretilin. Saking jengkelnya dihancurkan pasukan Sutiyoso, Tropaz dan Fretilin bersekutu menjebak tim Umi.

Tim Sutiyoso ini terdesak sampai ke tengah hutan, dan dua pasukan itu terus menekan menyerang. Tim Umi terkunci di tengah hutan. Pada suatu malam tim Sutiyoso dibombardir tembakan sampai menjelang Subuh. Pertahanan tim Umi rontok, banyak pasukan tim Umi gugur, tim sudah kecapekan bertempur semalaman.

Akhirnya Sutiyoso putuskan keluar hutan dan menuju pos militer TNI di perbatasan.

Sambil membawa senapa Ak-47, Kapten Sutiyoso menggendong Tamtama pelayan radio yang terluka parah. Sang pasukan itu aslinya memaksa untuk diturunkan saja tapi ditinggali senjata, supaya bisa menghambat pasukan musuh dan Bang Yos bisa terus menyelamatkan diri.

Namun Bang Yos menolak. Dia ingin prajuritnya bisa aman bersamanya. Kapten Sutiyoso terus berlari dengan menggendong prajurit terluka dengan menembaki musuh untuk pengamanan diri.

Sampai akhirnya Bang Yos dengan lelahnya, melihat pos pengamatan intelijen Indonesia. Bang Yos mengomando dan menyemangati anak buahnya untuk segera sampai di pos. Pasukan musuh akhirnya mengendurkan serangan dan mundur begitu tahu di depannya ada pos pengamatan intelijen Indonesia.

Sayang, sesampainya di pos bantuan, sang Tamtama terluka itu gugur karena kehabisan darah. Kapten Sutiyoso begitu terpukul dan kecewa dengan dirinya harus kehilangan anggotanya lagi di punggungnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
X
Close