Trending

Misteri puisi kematian Yoris di Facebook, ternyata kebenarannya begini

Beberapa saat setelah Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu dinyatakan terbunuh, Yoris Raja Amanullah sempat menulis puisi mengenai kematian, kecemburuan, serta kebencian di akun Facebook pribadinya. Lantas, mengapa dia membuat tulisan tersebut?

Yoris mengatakan, banyak orang tak melihat puisi itu secara keseluruhan. Padahal, jika diperhatikan, karya tulis tersebut bukan hanya bicara mengenai kematian, melainkan bagaimana cara manusia menjalani hidup dengan baik.

“Untuk status di Facebook itu sebenarnya orang-orang pasti melihatnya tidak secara keseluruhan,” ujar Yoris, dikutip dari saluran Youtube Heri Susanto, Selasa 28 September 2021.

“Saya bukan bercerita tentang terjadinya pembunuhan, bukan, tapi saya bercerita tentang… apa ya, kita itu hidup harus dipergunakan sebaik-baiknya, itu sebenarnya kesimpulannya,” lanjutnya.

Yoris Raja Amanullah. Foto: Ist.
Yoris Raja Amanullah. Foto: Ist.

Menariknya, Yoris memastikan, puisi tersebut bukan buatannya sendiri, melainkan hasil mencomot dari akun Facebook lainnya. Dia beralasan, keputusan meng-copy paste tulisan tersebut diambil usai hatinya merasa tersentuh.

“Itu sebenarnya puisi bukan (buatan) saya, tapi dapet dari copy paste dari (akun) Facebook lain, tapi ini ngena kan,” tegasnya.

Lagipula, menurutnya, puisi biasanya mengandung multi tafsir. Sehingga, masing-masing pembacanya pasti memiliki pemahaman yang cenderung berbeda-beda.

Isi lengkap puisi Yoris di Facebook

Tuti dan Yoris. Foto: TikTok Yoris.
Tuti dan Yoris. Foto: TikTok Yoris.

Biar kalian tidak penasaran, berikut isi lengkap puisi Yoris yang dimuat di akun Facebook pribadinya.

“Kamu datang telanjang, kamu pergi telajang. Kamu tiba dalam kondisi lemah, kamu meninggalkan dunia pun dalam kondisi lemah

“Kamu datang dengan tanpa uang dan barang, kamu juga pergi tanpa uang dan barang.

“Mandi pertamamu? Seseorang membasuhmu. Mandi terakhirmu? Seseorang akan memandikanmu. Inilah kehidupan!

Jadi mengapa begitu banyak kebencian, begitu banyak kecemburuan, begitu banyak pertengkaran, begitu banyak persaingan, begitu banyak keegoisan, dan begitu banyak kebanggaan?

“Mengapa? Sementara kita harus pergi dengan tangan kosong? Jadilah orang baik, waktu kita terbatas di bumu. Jangan sia-siakan dengan hal yang sia-sia. Wallahualam.”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close