Fit

Begini nasib anak-anak Dhena Devanka jika lihat ibunya pukuli Jonathan Frizzy

Kasus perceraian Dhena Devankan dan pesinetron Jonathan Frizzy (Ijonk) kian meruncing. Apalagi sejak paman Ijonk Benny Simanjuntak membeberkan bukti Kekerasa Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan Dhena terhadap Ijonk.

Tak cuma efek psikologis keduanya, yang paling dikhawatirkan adalah konsisi psikis anak-anak dari Ijonk dan Dhena jika menyaksikan kekerasan yang terjadi di rumah.

Meski tidak diketahui apakah anak-anak Dhena dan Ijonk melihat aksi sang ibu memukuli dan menendang ayahnya, namun psikolog anak dan keluarga psikolog Rosdiana Setyaningrum menyebut bahwa KDRT selain berdampak kepada korban juga berdampak kepada anak.

“Anak yang menjadi korban KDRT atau hanya melihat saja, sama-sama bisa memiliki trauma dan ia bisa melampiaskan kepada orang lain di kemudian hari. Anak ini bisa memiliki mindset bahwa kekerasan adalah hal yang wajar dalam kehidupan suami istri,” kata psikolog yang kerap dipanggil Diana ini dikutip dari laman Femina beberapa waktu lalu.

Tak cuma itu, Diana mengatakan bahwa KDRT bisa diibaratkan lingkaran setan. Ada siklus yang tak pernah putus antara pelaku dan korban.

Keluarga Jonathan Frizzy dan Dhena Devanka. Foto: Instagram
Keluarga Jonathan Frizzy dan Dhena Devanka. Foto: Instagram

“Pelaku KDRT biasanya juga senang menjalani siklus KDRT. Ia melakukan KDRT, meminta maaf, hubungan kembali normal, lalu ia melakukan KDRT lagi, minta maaf lagi, dan hubungan kembali normal lagi. Begitu seterusnya,” kata Diana.

Meski ia secara langsung tidak mengomentari kasus Ijonk dan Dhena Devanka namun ia menyarankan pelaku dan korban harus segera menyudahi siklus KDRT.

“Saya sarankan maksimal satu tahun untuk memutuskan keluar dari rumah tangga yang telah terjadi KDRT. Lebih cepat lebih baik sebab jika siklus itu tidak dihentikan maka korban akan terus-menerus mendapatkan siksaan, baik fisik maupun psikis. Ini juga tidak baik bagi perkembangan anak,” ucapnya.

Penting untuk diketahui KDRT bisa terjadi pada siapa saja. Jika korban KDRT adalah seorang perempuan, maka bisa melapor ke Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KDRT).

Sedangkan korban pria bisa melaporkan tindakan KDRT istri ke kepolisian. Suami dan istri memiliki hak yang sama untuk membuat laporan mengenai tindakan KDRT yang dilakukan pasangan.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close