Siaran Pers

Nasib seni di tengah pandemi covid-19, tetap berkibar atau kalah?

Kondisi pandemi berdampak pada setiap aspek ekonomi yang berdampak ke banyak sektor, salah satunya dunia seni seperti pementasan yang terdampak pandemi covid-19. Nasib dunia seni di tengah adaptasi pandemi saat ini pun tetap dipertahankan agar tidak kalah dengan keadaan.

Dua tahun merupakan waktu panjang untuk terus mempertahankan dunia seni yang menjadi salah satu dunia hiburan dengan banyak unsurnya mulai dari budaya hingga produk folm dan banyak turunan lainnya yang sudah lama berjalan.

Dua tahun sudah pandemi Covid-19 mengganggu semua lini kehidupan, termasuk seni. Pementasan yang mengundang penonton dihentikan, gedung pertunjukan serta tempat pentas lain mendadak sepi. Namun, seni tidak boleh mati.

Dunia seni saat pandemi
Dunia seni saat pandemi Foto: Ist

Dunia seni bertahan di berbagai bidang agar tetap hidup

Termasuk seni yang beradaptasi dengan menjelajah ruang virtual di dunia internet. Rusdy Rukmarata (59) koreografer dan direktur artistik EKI (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) Dance Company bersamacompany-nya melakukan itu sejak pertengahan 2020.

Terkait dengan itu, Fakultas Film dan Televisi IKJ (Institut Kesenian Jakarta) mengundang Rusdy menjadi dosen tamu memberikan materi “Surfing along the way of time” atau bagaimana terus-menerus membuat adaptasi menyiasati berbagai tantangan yang ada, termasuk saat pandemi.

“Kolaborasi, bisa jadi kunci yang dibutuhkan seni untuk dapat beradaptasi dalam situasi seperti apa pun,” kata Rusdy perihal bagaimana menyikapi berbagai situasi, terutama pandemi.

Dunia seni
Dunia seni Foto: Ist

Sekitar 25 tahun lalu, sebelum EKI Dance Company terbentuk, setiap kali menggelar produksi pertunjukan, Rusdy dan penari lain dipusingkan oleh urusan jadwal, karena penari yang tergabung dalam produksinya juga sedang terlibat di produksi lain. Proses latihan jadi tidak maksimal dan tidak jarang harus batal karena penari yang tergabung dalam produksi tidak banyak jumlahnya.

Untuk mengatasi hal ini, Rusdy putar otak, tenaga dan dana, untuk kemudian merekrut sejumlah remaja yang bisa jadi tidak memiliki bakat seni yang baik. Sepanjang mereka mau dilatih dan kerja keras untuk jadi penari, sudah membuat Rusdy berpengharapan. “Saya mengajak sejumlah teman dan rekan senior untuk mau jadi guru mereka, bukan saja kelas teknik menari juga sastra, etika, bahkan filsafat,” Rusdy mengenang langkahnya ketika mendirikan EKI Dance Company.

Remaja yang belum memiliki kemampuan menari, perlu waktu untuk berlatih dan berproses. Dan menjadikan mereka penari professional adalah pekerjaan yang lain lagi. Beberapa di antara remaja yang direkrutnya

sempat terlibat urusan yang tidak ringan, seperti produk keluarga yang berantakan, pemakai narkoba, hingga keterikatan pada seks. “EKI, menjadi dance company juga bengkel, buat remaja yang ingin memperbaiki hidupnya melalui seni. Dengan kerja keras dan kolaborasi dengan banyak pihak, kami bisa terus ada hingga 25 tahun,” ujar Rusdy.

Kerja keras dan kerja sama juga yang menyelamatkan EKI Dance Company ketika harus berhadapan dengan pandemi. Sebelum pandemi, EKI telah merencanakan pentas rutin untuk melanjutkan program EKI Update serta beberapa produksi permintaan pihak swasta. Semua harus batal. Namun bukan berarti kerja seni boleh berhenti.

Di awal pandemi, bersama Yola Yulfianti, rekan Rusdy saat masih menjabat sebagai anggota Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, menggagas platform panggung virtual di Youtube dengan nama Indonesia Dance Network (IDN).

Salah satu programnya adalah Saweran Online yang juga bekerja sama dengan platform OVO sehingga memungkinkan penonton di mana saja, mengapresiasi karya-karya tari di IDN dengan cara menyawer.

Kemudian, bersama dengan sutradara film Nia Dinata, penulis skenario film Titien Wattimena, musisi Oni Krisnerwinto dan sejumlah seniman lainnya, Rusdy menggarap film musikal Lutung Kasarung #musikalDiRumahSaja.

Dunia seni
Dunia seni di masa pandemi Foto: Ist

Secara pencapaian jumlah penonton, musikal Lutung Kasarung mencapai lebih dari 500.000 viewers dalam waktu seminggu! “Hal ini sangat fantastis, karena kalau dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta yang berkapasitas 500 seats, butuh berapa lama untuk mencapai angka ini?” kata Rusdy.

Selama tahun 2020, Rusdy juga berkesempatan menggarap dua film musikal lain yaitu Jaka Tarub dan Calon Arang. Kedua karya ini ditayangkan di TVRI. Kerja keras dan kolaborasi yang telah Rusdy lakukan sejak mendirikan EKI Dance Company, sedikit banyak membuatnya Rusdy lebih terbiasa untukterlatih menembus dunia panggung di era pandemi ini.

Proyek yang baru saja diselesaikan Rusdy Rukmarata, yang juga pernah sekolah di London Contemporary Dance School ini adalah menggarap pertunjukan Milenium Pancasila untuk sekolah Santa Ursula BSD, bertepatan dengan Hari Lahirnya Pancasila. Pertunjukan ini ditampilkan di kanal youtube SMA St. Ursula dan EKI Dance Company. Untuk ke depannya, juga ada penggarapan Konser Musikal ‘Mimpi’ yang diprakarsai oleh Karya Musik Indonesia dan Benih Baik, berkolaborasi dengan Metro TV.

Kolaborasi serta pentas masih akan terus digelar dengan berbagai kreasi yang ada. Rusdy Rukmarata, bisa jadi satu di antara sedikit seniman yang terus berupaya dan tetap punya daya untuk berkarya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close