Trending

Nelayan Natuna ketakutan di laut sendiri gegara China, Nakes dibantai di Papua, ke mana peran negara?

Belakangan kondisi bangsa Indonesia sebagai tempat berlindung ratusan juta rakyatnya dalam situasi keprihatinan, hal itu dibuktikan dengan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Di mana nelayan Natuna takut mencari ikan di laut sendiri lantaran kapal perang China hingga tenaga kesehatan (Nakes) yang dibantai di Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

Hal itu menjadi sorotan khusus bagi Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid. Politikus PKS ini lantas mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena teror keamanan di Republik Indonesia (RI) tersebut.

“Kita sangat prihatin, di Natuna, para nelayan ketakutan melihat kapal-kapal perang China mondar-mandir di perairan Indonesia,” kata Hidayat Nur Wahid dikutip dari akun Twitter pribadinya, pada Jumat, 17 September 2021.

Bahkan tak hanya itu, persoalan di Tanah Papua juga menjadi sorotan. Hingga kini, pemerintah tak kunjung meredam konflik yang terjadi di Bumi Cenderawasih.

Hal itu terlihat pada peristiwa baru-baru ini di mana Puskesmas dibakar dan nakes dibunuh oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada Senin (14/9).

Namun sayang, politisi PKS ini belum melihat adanya kehadiran negara dalam melindungi segenap bangsa Indonesia.

Padahal tugas tersebut sudah sangat jelas tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea keempat yang berbunyi ‘Melindungi setiap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia’.

“Di Papua Puskesmas dibakar, dokter dan nakes (1 meninggal) jadi korban teror dan serangan KKB. Harusnya negara betul-betul lindungi seluruh WNI dan NKRI sebagaimana ketentuan UUD,” imbuhnya.

Nelayan Natuna takut cari ikan di wilayah sendiri

Sejumlah nelayan di Kepulauan Riau dikabarkan khawatir melihat sejumlah kapal China mondar-mandir di Laut Natuna Utara, pada Senin, 13 September 2021.

Ketua Aliansi Nelayan Natuna Hendri menunjukkan sejumlah video yang diambil nelayan pada koordinat 6.17237 Lintang Utara dan 109.01578 Bujur Timur.

Terlihat dalam video berdurasi singkat yang beredar, enam kapal China berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. Adapun kapal yang terlihat paling jelas adalah kapal destroyer Kunming-172.

”Nelayan merasa takut gara-gara ada mereka di sana, apalagi itu kapal perang. Kami ingin pemerintah ada perhatian soal ini supaya nelayan merasa aman saat mencari ikan,” kata Hendri mengutip Kompas pada Jumat, 17 September 2021.

TNI AL bilang jangan khawatir!

Kapal patroli China. Foto: NHK
Kapal patroli China. Foto: NHK

Sementara Kepala Dinas Penerangan Komando Armada I TNI Angkatan Laut Letnan Kolonel Laode Muhammad mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan mengenai kehadiran enam kapal China yang dilihat nelayan di Laut Natuna Utara.

Namun, apabila ada kapal China yang mondar-mandir di ZEE Indonesia, biasanya kapal TNI AL akan membayangi dan melakukan komunikasi dengan mereka.

Laode mengatakan, ada empat kapal TNI AL yang bersiaga di Natuna, yakni KRI Diponegoro-365, KRI Silas Papare-386, KRI Teuku Umar-385, dan KRI Bontang-907.

Pihaknya juga mengatakan perairan Natuna merupakan daerah sengketa, sehingga tak heran jika banyak kapal perang asing di lokasi itu.

“Laut China Selatan memang karena daerah klaim. Khususnya Cina akibatnya intensitas kapal-kapal asing juga meningkat,” kata Laode kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/9).

Kendati demikian, kata Laode, TNI AL rutin melakukan patroli di perairan Natuna, untuk memberikan keamanan bagi para nelayan.

“Untuk memastikan, unsur TNI AL ada di laut untuk memberi rasa aman bagi nelayan,” ujarnya.

TNI AL selalu siaga di laut Natuna

Prajurit TNI AL. Foto: Istimewa
Prajurit TNI AL. Foto: Istimewa | Nelayan Natuna ketakutan di laut sendiri gegara China, Nakes dibantai di Papua, ke mana peran negara?

Sebelumnya, Panglima Koarmada I Laksamana Muda Arsyad Abdullah pada Kamis, 16 September 2021 juga sempat melakukan kunjungan di perairan Natuna. Tujuannya, untuk memastikan kehadiran unsur TNI AL di daerah operasi

Merujuk pada UU Nomor 34 Tahub 2004, kata Arsyad, salah satu tugas TNI AL adalah menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.

“Mengacu pada undang-undang tersebut, TNI AL dalam hal ini Koarmada I melaksanakan tugas mengamankan perairan Laut Natuna Utara, dalam mengamankan laut Natuna utara dituntut kehadiran KRI selalu ada 1 X 24 jam di wilayah tersebut,” ucap Arsyad dalam keterangan tertulis.

Disampaikan Arsyad, dalam pengamanan di perairan Natuna, TNI AL mengerahkan lima KRI yang beroperasi secara bergantian untukmemantau kapal-kapal yang kemungkinan memasuki perairan Indonesia.

“Bahwa sikap TNI AL di Laut Natuna Utara sangat tegas melindungi kepentingan nasional di wilayah yurisdiksi Indonesia sesuai ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi sehingga tidak ada toleransi terhadap berbagai bentuk pelanggaran di Laut Natuna Utara,” tuturnya.

Diserang dan dilecehkan KKB Papua, Nakes muda cantik ini gugur, jasadnya di jurang

Seorang tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas Distrik Kiwirok, Gabriela Meilan (22) meninggal di jurang usai diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Gabriela Meilan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Rabu, 15 September 2021.

Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo menyampaikan, jenazah Gabriela belum bisa dievakuasi dari lokasi karena terkendala peralatan dan cuaca yang tidak mendukung.

“Rencana dilakukan evakuasi pengangkatan jenazah dari jurang Kamis (16/9),” kata Cahyo saat dikonfirmasi, mengutip Cenderawasih Pos pada Jumat, 17 September 2021.

Gabriella Meilani, nakes yang gugur akibat serangan KKB Papua. Foto: Ist
Gabriella Meilani, nakes yang gugur akibat serangan KKB Papua. Foto: Ist | Diserang dan dilecehkan KKB Papua, Nakes muda cantik ini gugur, jasadnya di jurang

Cahyo menjelaskan, untuk satu tenaga kesehatan (nakes) lainnya hingga saat ini masih dilakukan pencarian oleh tim gabungan yang ada di Kiwirok.

Sebagaimana diketahui, KKB melakukan aksi kriminal di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) pada hari Senin, 13 September 2021.

Teroris KKB lecehkan perawat dan menganiaya dokter hingga mengalami patah tulang pada lengan. Selain itu, teroris KKB juga membakar Puskesmas Kiwirok dan menganiaya para tenaga kesehatan (nakes).

Teroris KKB yang diperkirakan berjumlah 50 orang, menyerang 6 nakes yang sedang bertugas.

Sontak serangan yang dilakukan secara tiba-tiba itu membuat empat nakes berusaha menyelamatkan diri dengan cara melompat ke dalam jurang, sedangkan dua nakes dinyatakan hilang.

Ditikam belati, dipukul besi, kena busur tanah, hingga dilecehkan

KKB Papua. Foto: Ist
KKB Papua. Foto: Ist | Nelayan Natuna ketakutan di laut sendiri gegara China, Nakes dibantai di Papua, ke mana peran negara?

Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito mengatakan salah satu perawat yang lompat ke jurang mengaku ditikam belati dari belakang.

Dilaporkan pula seorang dokter mengalami patah tulang di lengan akibat dipukul menggunakan besi.

Dua perawat yang sempat dinyatakan hilang telah ditemukan. Perawat tersebut mengalami luka-luka dan sempat dilecehkan (tindakan asusila) oleh teroris KKB.

“Kemarin kami sempat cari-cari mantri dengan suster yang hilang, puji Tuhan sudah ditemukan,” ucap Nelson Kalakmabin, tokoh masyarakat di Distrik Kiwirok.

“Mantri dia tangan patah, ada juga yang kena panah. Cuma suster-suster ini yang membuat kami sangat karena marah melihat keadaannya. Ada yang dapat parang, luka-luka, mereka juga dilecehkan,” tambah Nelson.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close