News

Ngaku Panglima Kumbang, Organisasi Dayak akhirnya bongkar siapa Udin Balok

Belakangan sosok Panglima Kumbang ramai disorot publik. Pangkalnya, nama itu disebut-sebut turut hadir dalam pembebasan Habib Bahar bin Smith, beberapa waktu lalu.

Dengan wajah dan sekujur tubuh penuh tato serta pakaian khas Dayak, dia pun diperkenalkan Habib Bahar sebagai Panglima Kumbang, orang yang disegani di masyarakat tanah Kalimantan.

Baca Juga: Dua meninggal, kenapa polisi sebut Kapolsek tabrak rumah sebagai korban?

Belakangan, saking viralnya sosok ini, sejumlah masyarakat Dayak kemudian protes, dan menyebut kalau Panglima Kumbang yang hadir dalam pengawalan Habib Bahar adalah palsu.

Surat edaran Organisasi Dayak Internasional. Foto: IG Ferdinan Hutahaean.
Surat edaran Organisasi Dayak Internasional. Foto: IG Ferdinan Hutahaean.

Bahkan Organisasi Dayak Internasional (DIO) ikut turun tangan atas klaim Panglima Kumbang yang disematkan pada pengawal Habib Bahar, tempo hari. Setidaknya keterangan resmi Organisasi Dayak Internasional disampaikan pada Selasa, 26 Mei 2020.

Menurut surat edaran yang ditandatangani Presiden DIO Jeffrey G Kitingan, dan Sekjen DIO Yulius Yohanes, disebutkan kalau Udin Balok bukanlah Panglima Kumbang, yan terus diklaimnya hingga kini.

“Dia bukan orang Dayak, melainkan orang dari Pasuruan, Jawa Timur. Pada tahun 2000, pernah menetap di Desa Bajarum, di pinggir sungai Mentaya, dekat Kotawaringin Timur. Dan sekarang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya,” sebut DIO.

Adapun Udin Balok memiliki nama asli Saprudin. Menurut DIO, sosok Panglima Kumbang merupakan figur spiritual yang paling dihormati dalam legenda suci dan mitos suku Dayak. Di mana, sosok itu selalu disebut-sebut di dalam penerapan adat istiadat dan hukum adat Dayak sebagai sumber doktrin di dalam religi masyarakat Dayak.

“Karena diyakini (Panglima Kumbang) selalu hadir setiap kali orang Dayak mendapat ancaman pihak lain di dalam berbagai bentuk.”

Udin Balok dicari

Dalam surat edarannya, warga Dayak pun diminta segera melaporkan kepada otoritas yang berwenang jika menemukan keberadaan Udin Balok, apalagi jika kedapatan melakukan aktifitas religi masyarakat Dayak.

Karena sekali lagi, Udin Balok bukan orang Dayak, dan Panglima Kumbang, seperti yang diklaimnya hingga kini.

Organisasi ini juga meminta seluruh masyarakat Dayak menertibkan sesuai dengan hukum adat terhadap Udin Balok dan oknum-oknum orang Dayak yang menjadi pengikutnya.

Panglima Baonk dan Panglima Kumbang (kanan)
Udin Balok (kanan). Foto Facebook Letambunan Abel

“Karena apa yang dilakukan Udin Balok dan sejumlah oknum Dayak bertentangan dengan unsur religiusitas, dan spiritualitas di dalam masyarakat Dayak. Di mana masyarakat Dayak menganut trilogi peradaban kebudayaan, seperti hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh pada negara,” sebut DIO.

Hentikan ngaku Panglima Kumbang

Sebelumnya, Biro Hukum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah juga telah bersuara soal klaim Udin Balok. Suara itu dinyatakan secara terbuka oleh Biro Hukum DAD Letambunan Abel.

“Bahwa orang ini yang selalu membawa-bawa nama Dayak di mana-mana, dan mengaku sebagai Panglima Dayak, setelah kami telusuri bahwa mereka ini bukan orang Dayak dan tidak ada keturunan Dayak,” kata Letambunan di akun Facebook-nya.

Untuk itu DAD Kalimantan Tengah meminta Udin Balok untuk berhenti mengaku dan mengatasnamakan Dayak. “Agar yang bersangkutan menghentikan aktivitasnya yang berhubungan dengan mengatasnamakan Dayak,” tulis Letambunan.

DAD Kalimantan Tengah setahun lalu telah meminta keduanya membuat pernyataan pengakuan serta permohonan maaf secara terbuka di media.

Klarifikasi ini menjadi berita media daring dan Kementerian Komunikasi, di mana Kominfo) telah melabeli postingan Panglima Kumbang besuk Habib Bahar di penjara tersebut dengan label disinformasi.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close