Trending

Dolar AS tembus Rp16.000, apa yang harus kita lakukan?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bikin heboh. Menurut Google nilai mata uang Paman Sam itu sudah tembus Rp 16.000. Waduh, betul enggak ya?

Sejumlah warganet mencuitkan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp 16.000. Pernyataan tersebut umumnya menyertakan hasil tangkapan layar nilai tukar rupiah yang disampaikan oleh mesin pencari Google.

Tangkapan layar google, Jumat 20 Maret pukul 10.15 WIB.

Hari ini rupiah memang melemah terhadap dolar AS, tapi belum sampai membawa The Greenback ke kisaran Rp16.000.

Dikutip dari Riset CNBC Indonesia, Kamis (19/3/2020) pukul 12:02 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 15.400 di perdagangan pasar spot. Rupiah melemah 1,34% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Bebaskan Siti Fadilah Supari, hai Jokowi dan Prabowo!

Namun di mesin pencari Google, tertulis bahwa rupiah sudah mencapai kisaran Rp 16.000/US$. Pada pukul 12:04 WIB, US$ 1 dihargai Rp 16.077,5.

Kemungkinan kurs Google itu mengacu ke pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Di pasar tersebut, kurs rupiah terhadap dolar AS memang sudah berlari kencang.

Tangkapan layar google yang bersumber dari Bank Indonesia, Jumat 20 Maret pukul 10.18 WIB.

Apa yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini?

Pertama, nilai exhange rate atau nilai tukar rupiah ada yang nominal dan ada yang real. Artinya bilamana nilai nominal lebih tinggi daripada real, maka trend-nya akan turun.

Sebaliknya bilamana nilai nominal lebih rendah daripada real, maka akan cenderung naik.

Daripada kita berjudi seperti ramalan cuaca, atau jadi tidaknya konser Black pink, maka lebih baik kita evaluasi hal hal fundamental.

Nilai tukar rupiah terhadap USD bukan ditentukan oleh SARS-CoV2. Soal virus ini hanyalah masalah pertumbuhan per kwartal (3 bulan). Juga bukan gara-gara Jokowi mau lockdown atau tidak. Juga bukan gara gara George Soros, itu kan tahun 1998.

Kedua, berapakah angka nilai tukar USD yang real terhadap rupiah?

Nilai tukar USD terhadap rupiah tergantung dari daya tarik investasi luar negeri atau disebut FDI – foreign direct investment.

Indikator data tarik investasi tersebut, misalnya ditunjuknya Marie Pangestu menjadi direktur World Bank. Jadi yang mengatur arus masuk keluar investasi asing adalah World Bank, dan G20, dan Bank Indonesia.

Ketiga, melihat risiko real pertumbuhan rezim keuangan Tiongkok yang tertutup, artinya keuntungan investasi asing di Tiongkok tidak dapat keluar, dan risiko peg Hongkong dolar akan dilepas, maka mau tak mau arus FDI akan semakin deras ke negara asia tenggara termasuk Indonesia.

Oleh karena itu daripada panik beli USD saat harganya tinggi, kita tunggu saja disahkannya UU IKN ibu kota negara. Harapannya, setelah itu ekonomi kita jaug lebih stabil.

Ir. Goenarjoadi Goenawan, MM.

Pernah menjabat Vice President Director Lotteria. Kini menjadi motivator dan perencana keuangan. Menulis belasan buku populerdi antaranya Money Intelligent, New Money, Rahasia Kaya: Jangan Cintai Uang.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close