Trending

Pantes Nurdin Abdullah itu bupati tercerdas di Indonesia, gegara ini sih

Penangkapan Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah oleh KPK menjadi buah bibir nasional. Sosok Nurdin sebelumnya cukup positif dalam rekam jejaknya. Sebelum menjadi gubernur, Nurdin merupakan Bupati Bantaeng dua periode dari 2008 sampai 2018. Moncer lho Nurdin saat menjabat bupati. Sebab dia mendapat label Bupati tercerdas di Indonesia.

Lho kok bisa ya Sobat Hopers, Nurdin Abdullah menyandang label Bupati tercerdas di Indonesia. Ternyata ini berkaitan dengan pencapaian akademiknya. Dia nggak sembarangan lho.

Profesor dan Bupati tercerdas

Nurdin Abdullah
Gubernur Nurdin Abdullah. Foto Instagram @nurdin.abdullah

Nurdin Abdullah menjadi Bupati Banteang dalam posisi pencapaian akademik puncak lho. Dia menjadi bupati dengan gelar profesor. Makanya dia dilabeli bupati tercerdas di Indonesia, satu-satunya bupati dengan gela profesor di Tanah Air.

Selain pencapaian akademiknya, Nurdin ternyata pengusaha sukses.

Dalam buku Nurdin Abdullah Act Locally Think Globally yang ditulis Fahruddin mengungkap rekam jejak Nurdin.

Fahruddin mengaku nama Nurdin populer lantaran sukses membuat nama Kabupaten Bantaeng menjadi terkenal. Terdorong oleh hal itu Fahruddin penasaran, malah tambah penasaran kala dia bicara sebuah bincang di televisi dengan BJ Habibie.

Dalam pernyataannya itu, Nurdin Abdullah mengungkapkan latar belakangnya tak punya basis politik. Dia pengusaha dan terjun dalam pemilihan bupati.

“Saya ini seorang pengusaha dan akademis, tidak memiliki bakat dalam politik. Namun rakyat Bantaeng memaksakan saya menjadi seorang bupati,” kata dia, sebagaimana dituliskan Fahruddin dalam buku tersebut.

Sebelum terjun dalam politik, Fahruddin menuliskan, Nurdin merupakan pengusaha sukses dan menjadi presiden direktur di empat perusahaan modal asing Jepang yaitu PT Maruki International Indonesia, Hakata Marine Indonesia, Hakata Marine Hachtery dan Kyushu Medical Co. Ltd.

Riwwayat ini membuat Fahruddin penasaran, dan akhirnya menelusuri kisah hidup dan siapa sih sosok Nurdin itu.

Hasilnya membuat si penulis terpesona dan terkesima gitu.

“Akhirnya saya banyak mengetahui sepak terjang Nurdin Abdullah dalam menduduki posisi nomor satu di Bantaeng dan merupakan satu-satunya Bupati bergelar profesor di Indonesia. Maka, tak heranlah, jika Nurdin Abdullah disebut sebagai Bupati tercerdas di Indonesia,” tulis Fahruddin.

Bertengkar dengan ayah

Nurdin Abdullah
Nurdin Abdullah. Foto Instagram @nurdin.abdullah

Dalam buku tersebut, Nurdin mengungkapkan perjalanannya menjadi bupati.

Jadi di rumah dia sering emosi dan bertengkar denan ayahnya, Haji Andi Abdullah, karena terus diminta memimpin Kabupaten Bantaeng.

Nurdin merasa dipaksa sang ayah. Karena nggak punya passion di politik. Dalam pertengkarannya, berkali-kali Nurdin menegaskan kepada ayahnya bahwa dia adalah akademisi dan pengusaha, nggak ada potongan layak jadi politikus dan bupati.

“Saya tidak berbakat, Ayah!” tulis Fahruddin menceritakan pergolakan Nurdin dengan ayahnya itu.

Perlawanan Nurdin itu juga didukung denga sikap istri, mertua dan kolega bisnisnya di Jepang.

Namun karena terus menerus dipaksa mencalonkan jadi bupati oleh ayahnya, akhirnya Nurdin sedikit melunak. Dalam sebuah komunikasi di masa lalu, Nurdin akhirnya membalas akan menimbang untuk jadi bupati dan berjanji akan mendiskusikan dengan istri dan direksi perusahaan.

Mendengar sikap lunak anaknya, sang ayah kala itu sakit langsung sembuh.

Setelah ayahnya sudah membaik, akhirnya Nurdin tenang dan kemudian terbang ke Bali untuk sebuah urusan bisnis. Namun baru beberapa jam menginjakkan kaki di Pulau Dewata dalam lawatannya itu, dia dapat kabar sang ayah berpulang.

Bukan cuma ayahnya saya yang memaksanya untuk jadi maju mencalonkan jadi bupati. Sejumlah kiai pun membujuknya untuk terjn ke politik dengan pesan, ingin menurunkan kenikmatan seorang Nurdin.

Maksudnya menjadi bupati adalah jabatan yang nggak nikmat, banyak pemasalahan dibandingkan jadi pengusaha.

“Sara risih jadi bupati, karena itu bukan sebuah posisi enak tetapi malah cari susah,” ujar Nurdin dalam buku tersebut.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close