Fit

Orang berkacamata tak mudah tertular corona, terbukti! Ini alasannya

Berbagai relawan orang berkacamata, diteliti untuk buktikan risikonya tertular corona.

Gejala covid-19 hingga kini masih banyak diteliti. Risiko orang-orang yang rentan tertular Covid-19 kian hari juga makin beragam.

Jika di awal pandemi, WHO menyebut pasien komorbid (dengan penyakit bawaan) lebih rentan tertular covid-19, kali ini peneliti merilis temuan baru.

Baca juga: Sekeluarga kena corona, wanita ini bagikan cerita 11 hari di Wisma Atlet

Para peneliti menyebut bahwa orang yang menggunakan kacamata setiap hari, ternyata mampu mengurangi risiko lima kali lebih kecil tertular virus Corona (Covid-19).

Tim ilmuwan dari The Second Affiliated Hospital of Nanchang University mengatakan, bahwa ini karena reseptor ACE2, yang dilekatkan virus untuk masuk dan menginfeksi sel manusia, dapat ditemukan di mata.

Kacamata
Kacamata Foto: Pixabay

Dilansir laman Daily Mail, penemuan ini juga memberikan lebih banyak bukti mengapa petugas kesehatan harus memakai pelindung mata dan mengapa perhatian lebih perlu difokuskan pada tindakan pencegahan, seperti sering mencuci tangan dan menghindari menyentuh wajah.

Dalam penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal kesehatan JAMA Ophthalmology, ilmuwan telah mengamati 276 pasien yang didiagnosis Covid-19 antara 27 Januari dan 13 Maret.

Dari data tersebut dibuktikan bahwa sebanyak tiga puluh pasien memakai kacamata, mencakup 16 kasus rabun jauh dan 14 kasus rabun dekat.

Tak satu pun dari pasien tersebut memakai lensa kontak atau menjalani operasi refraksi untuk memperbaiki penglihatan mereka.

Total 16 pasien yang rabun jauh adalah pemakai kacamata jangka panjang, yang didefinisikan menggunakan kacamata selama lebih dari delapan jam sehari, terhitung 5,8 persen.

Untuk populasi umum, para ilmuwan melihat penelitian beberapa dekade lalu dari siswa berusia antara tujuh hingga 22 tahun di Provinsi Hubei, yang 31,5 persennya memakai kacamata untuk rabun jauh.

Pada saat publikasi, siswa tersebut akan berusia antara 42 dan 57 tahun, mendekati usia rata-rata 31 tahun untuk pasien Covid-19.

Ini berarti populasi umum 5,4 kali lebih mungkin memakai kacamata setiap hari daripada orang-orang yang didiagnosis dengan virus Corona.

Perempuan menggunakan masker. Foto: Pixabay
Perempuan menggunakan masker. Foto: Pixabay

“Temuan utama kami adalah bahwa pasien dengan Covid-19 yang memakai kacamata untuk waktu yang lama setiap hari relatif jarang terjadi, yang bisa menjadi bukti awal bahwa pemakai kacamata sehari-hari kurang rentan terhadap Covid-19,” tulis para ilmuwan pada Jumat 18 September 2020.

Para ilmuwan beranggapan bahwa bingkai mencegah pemakainya menyentuh area mata, sehingga menghindari penularan virus dari tangan ke mata.

Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa mata menghasilkan ACE2, menjadikan organ mata sebagai target utama virus. Covid-19 tidak hanya ditemukan di permukaan mata, tetapi juga di dalam air mata, yang akan mentransfer patogen.

Ini mungkin juga menjelaskan mengapa hingga 12 pasien Covid-19 memiliki “manifestasi mata”, seperti kemerahan dan bengkak. Oleh karena itu, mata dianggap sebagai saluran penting bagi Covid-19 untuk masuk ke tubuh manusia.

Baca juga: Mutasi virus corona di Indonesia 10X lebih menular, tapi tak perlu khawatir

Bagi pemakai kacamata sehari-hari, yang biasanya memakai kacamata pada acara-acara sosial, memakai kacamata dapat menjadi faktor pelindung, mengurangi risiko penularan virus ke mata, dan menyebabkan pemakai kacamata harian jangka panjang jarang terinfeksi Covid-19.

Meski begitu menurut Dr Lisa Maragakis, profesor kedokteran dan epidemiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins, mengatakan orang tidak boleh memakai kacamata jika mereka tidak membutuhkannya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close