Trending

Pakar: Cek dinas dan rumah tangga Bripka Cornelius, menyimpang atau nggak

Buntut insiden penembakan anggota Polsek Cengkareng, Bripka Cornelius Siahaan kepada prajurit TNI Pratu Martinus Sinurat dan dua pegawai RM Cafe, sebagian masyarakat menyoroti psikologi si polisi. Nah pakar meminta polisi periksa juga rumah tangga Bripka Cornelius.

Mestinya kan sebagai polisi pemegang senjata api, psikologinya sudah nggak bermasalah. Tapi kenapa kok Bripka Cornelius brutal menembaki orang sipil dan prajurit TNI di kafe tersebut. Nah pakar mengatakan jangan cuma cek kondisi psikologi saat kerja Bripka Cornelius, cek pula kasus dan perjalanan dinasnya.

Cek rumah tangga Bripka Cornelius

Bripka CS pelaku penembakan Cengkareng. Foto: Ist.
Bripka CS pelaku penembakan Cengkareng. Foto: Ist.

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel mengakui kondisi psikologi Bripka Cornelius ini patut ditelisik. Bukan cuma saat dia berdinas atau saat momen menembaki korbannya saja, cek pula psikologi Bripka tersebut dari kasus yang ia tangani dan perjalanan dinasnya.

Reza mengatakan pemantauan kondisi psikologi Bripka Cornelius bisa ditelisik pada kesehariannya lho. Sejauh mana perilaku dan psikologi dia. Sebab menurut Reza, psikologi seorang yang bekerja sebagai polisi itu nggak lepas dari kehidupan sehari-hari.

“Jadi pemantauan bukan sebatas saat kesiapan psikologi yang bersangkutan untuk memakai senjata api. Mestinya observasi dilakukan keseharian yang bersangkutan, apakah ada konflik di rumah tangga, apakah ada permusuhan dengan masyarakat, yang bisa termanifestasikan saat yang bersangkutan bekerja. Jadi lingkup psikologi itu tak ada lingkup kerja saja tapi non kerja,” jelas Reza dalam Kompas TV, Sabtu 27 Februari 2021.

Dia mengatakan sesuai prosedur, polisi yang pegang senjata api pasti sudah lulus tahapan dan tes dan sudah diperiksa psikologinya secara berkala. Namun itu nggak cukup, sebab kondisi psikologi seseorang itu fluktuatif kan. Apalagi seorang polisi, kondisi psikologinya tergantung situasi dan kegentingan yang dihadapi atau masalah serius yang harus dipecahkan.

“Bisa sewaktu-waktu kondisi psikologi drop. Makanya pemeriksaan psikologi harus diintensifkan kepada personel yang berhadapan dengan situasi kegentingan. Semakin genting maka pemantauan psikologi semakin sering pula,” jelasnya.

Cek kasusnya

Bripka CS saat diamankan
Bripka CS saat diamankan di Polda Metro Jaya Foto: Suara

Nah Reza meminta publik dan petugas untuk nggak melupakan riwayat konsumsi miras si Bripka Cornelius. Kalau ternyata si Bripka ini sudah lama konsumsi miras atau narkoba maka profesionalitasnya sebagai pemegang senjata jangan cuma dinilai saat dia menembaki korbannya saja.

“Patut dievaluasi dan diaudit kerja-kerja penegakan hukum yang bersangkutan, adakah kasus yang ditangani secara menyimpang, periksa disposisinya, cek ulang, periksa perjalanan dinasnya, dan segala macam yang diindikasikan kemungkinan penyimpangan dalam melayani masyarakat dan tugas penegakan hukum,” jelasnya.

Salah sisir, pasal Bripka CS bisa berbeda

Bripka CS, tersangka penembakan Cengkareng. Foto: Kolase.
Bripka CS, tersangka penembakan Cengkareng. Foto: Kolase.

Dalam kesempatan sebelumnya, Reza mengatakan, perlu dipahami juga faktor lain yang menyebabkan peristiwa itu terjadi. Seperti apakah ada perilaku atau tindak tanduk korban yang turut berkontribusi pada kejadian ini, sebut saja bentuk perdebatan yang memancing pelaku misalnya.

“Saya tak investigasi, Polisi yang bisa memastikan ini, soal kondisi pelaku, stabilitas pelaku. Lalu patut dipahami juga bagaimana interaksi pelaku dengan korban, adakah perilaku tindak tanduk yang turut berkontribusi.”

“Benar dia meletuskan senjata, cabut nyawa 3 orang, tapi apakah itu sungguh pembunuhan yang dibingkai atas kesengajaan,” katanya lagi.

Andai semua bisa disisir dengan baik, maka kata dia pasalnya akan berbeda. Bukan 338. Akan tetapi dia mengaku belum mengetahui persis bagaimana peristiwa itu terjadi. Terutama tentang deskripsi tempat kejadian di perkara atau TKP, termasuk interaksi korban dan pelaku.

“Saya sendiri belum tahu bagaimana deskripsi situasi di TKP, kondisi pelaku, dan interaksinya dengan para korban. Kalau pelaku mabuk, bagaimana niatan untuk membunuh korban bisa dijelaskan,” kata dia lagi.

Walau begitu, yang pasti dari kejadian ini bisa diambil pelajaran jika pemeriksaan psikologi atas Polisi pemegang senjata disebut perlu dilakukan makin intensif. Sebab psikologi personel Polisi, kata Reza, sangat fluktuatif, sama seperti manusia biasa.

Dia bisa tenang, tegang, bahkan buruk tergantung kehidupan mereka. “Inilah pentingnya pemeriksaan terhadap personel polisi pemegang senjata secara berkala, semakin genting, makin intensif untuk diperiksa,” katanya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close