Unik

Pandangan Islam dan hadis soal dosa pelaku bunuh diri, abadi di neraka hingga dicap kafir?

Bunuh diri merupakan salah satu tindakan yang sangat dilarang dalam ajaran agama Islam, lantas bagaimana dosa bagi pelaku dan hadisnya?

Menyitat media online milik Nahdlatul Ulama, sejumlah hadis menjelaskan bahwa dosa pelaku bunuh diri dan penderitaan yang dialami orang yang bunuh diri.

Muslima Fest

Dalam artikel bertajuk “Dosa Pelaku Bunuh Diri, Apakah Kekal di Neraka?” oleh Mahbub Maafi Ramdlan, terdapat pembahasan dalam format tanya jawab terkait dosa orang bunuh diri. Apakah benar pelaku bunuh diri kekal di neraka?

Ilustrasi aksi bunuh diri. Foto: Pixabay
Ilustrasi aksi bunuh diri. Foto: Pixabay

Menurut pandangan Islam, tindakan bunuh diri adalah tindakan yang diharamkan dan termasuk dosa besar.

Logika sederhana pelarangan bunuh diri yakni nyawa milik Allah, sehingga manusia tidak memiliki hak apapun atas nyawa. Sementara dosa orang melakukan bunuh diri lebih besar dibandingkan membunuh orang lain.

Hal tersebut sebagaimana dipahami dari keterangan dalam kitab Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah. Artinya: Sungguh orang yang melakukan bunuh diri dosanya lebih besar dibanding orang yang membunuh orang lain. (Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Darius Salasil, juz III, halaman 239).

Kemudian apabila dosa membunuh orang lain dikategorikan sebagai dosa besar, sedangkan dosa bunuh diri dianggap lebih besar lagi, apakah orang yang mati bunuh diri akan kekal di neraka?

Hadits Nabi SAW riwayat Muslim:

Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi yang tergenggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya.

Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka jahanam dan ia kekal di dalamnya.

Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka jahanam dan dia kekal di dalamnya. (HR Muslim).

Ilustrasi aksi bunuh diri. Foto: Pixabay/ArtWithTammy
Ilustrasi aksi bunuh diri. Foto: Pixabay/ArtWithTammy

Secara tekstualis hadits di atas jelas menyatakan bahwa orang yang mati karena melakukan bunuh diri akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini sebagai balasan atas tindakan bodohnya. Tetapi apakah maksud hadits ini sesuai dengan makna tersuratnya atau tekstualisnya?

Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim-nya menghadirkan beberapa pandangan yang mencoba untuk menjelasakan maksud dari sabda Rasulullah SAW tentang kekekalan di neraka bagi orang mati karena bunuh diri.

Pertama, bahwa maksud dari ia (orang yang mati karena bunuh diri) kekal di dalam neraka adalah apabila ia menganggap bahwa melakukan tindakan bunuh diri tersebut adalah halal padahal ia tahu bahwa bunuh diri itu adalah haram. Karena itu maka tindakan menganggap halal bunuh diri menyebabkan ia menjadi kafir.

Artinya, “Adapun sabda Rasulullah SAW; ‘maka ia kekal selama-lamanya di dalam neraka Jahanam’, maka dalam hal ini dikatakan ada beberapa pandangan. Pertama, sabda ini mesti dipahami dalam konteks orang yang mati karena bunuh diri dan menganggap bahwa tindakan bunuh diri adalah halal padahal ia tahu bahwa bunuh diri itu haram. Maka hal ini menjadikannya kafir dan kekal di dalam neraka sebagai siksaan baginya (karena melakukan tindakan bunuh diri),” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Beirut, Daru Ihya`it Turats Al-‘Arabiy, cet ke-2, 1392, juz II, halaman 125).

Apabila seseorang melakukan bunuh dirinya karena mengalalkannya padahal ia tahu bahwa hal itu diharamkan maka ia kekal di dalam neraka. Sebab, konsekuensi dari menghalalkan yang haram (bunuh diri) menyebabkan ia menjadi kafir.

Kalau kamu atau orang di sekitarmu memiliki gejala depresi atau kecenderungan untuk bunuh diri, kamu bisa hubungi Kementerian Sosial di hotline 119 extension 8 untuk layanan konsultasi kesehatan jiwa.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close