Trending

Ketika orang kaya kehilangan Rp500 triliun sepekan: Panik COVID-19

Anda heran sekarang indeks saham di bursa New York, Asia, termasuk Bursa Efek Indonesia, anjlok. Top 10 orang paling kaya kehilangan uang Rp500 triliun dalam sepekan. Itu semua karena panik COVID-19.

Depok sibuk corona, ternyata ada 288 kasus DBD, tiga meninggal

Lalu kita harus bagaimana?

Sebelum Anda panik gara-gara USD naik Rp14.900 dan naik naik. Harga saham anjlok gak karuan. Haruskah kita buy di saat anjlok?

Pak saya ambil posisi buy, saham turun 30%
Oh, bagaimana kondisi hari ini?
Masih merah, pak (sedih).

Sebelum Anda minum panadol dan jahe merah, sekarang ini gara gara panik COVID-19 yaitu penyakit akibat virus Corona, wabah ini akan terus berlanjut.

Walaupun Jakarta tidak ada panik COVID-19 dengan borong tisu, kenapa bursa BEI ikut anjlok?

Ya ekonomi itu dasarnya adalah:

  1. Suplai uang terus naik, berbentuk M2 kredit bank. Di Indonesia setiap hari bertambah kredit Rp2 T. Oleh karena itu hasil dari kredit bank dibuat investasi menghasilkan capital gain. Saham naik, naik, naik karena suplai uang M2 bertambah.
  2. Sampai kapan naik? Ya ibarat harga properti di Shanghai, lama-lama ya turun. Kenapa? Buble properti di Shanghai pindah ke Hanoi, Ho Chi Minh, Johor, Bangkok, Camboja, Bangladesh, Jakarta. Jadi ada koreksi pasar.
  3. Harga saham turun 30% kenapa? Ya seperti jet coster ada koreksi pasar, saham yang terlalu over price ya terkoreksi. Saat harta Mark Zukerberg naik Anda tidak heran, kenapa sekarang turun Anda heran?
  4. Oleh karena itu saat suplai uang bertambah, nilai integritas uang tunai turun. Uang tabungan Anda Rp10 M dalam lima tahun nilainya separo. Tergerus inflasi.
  5. Demikian kredit bank Anda nilai integritasnya turun pula. Kredit bank Anda Rp10 M nilainya turun separo tergerus inflasi.

Sepanjang Anda mendapatkan fasilitas Kredit bank, maka Anda dapat keuntungan dari penurunan integritas kredit.

Demikian sistem kapitalis menguntungkan pemilik kapital karena suplai uang bertambah terus.

Goenardjoadi Goenawan: Indeks saham turun karena panik Covid-19. Foto: FB
Goenardjoadi Goenawan: Indeks saham turun karena panik Covid-19. Foto: FB

Benarkah rezeki di tangan Tuhan?

Tuhan melakukan redistribusi kekayaan melalui pintu RISIKO. Ketika manusia menutup pintu risiko itu, manusia mengecoh tangan Tuhan.

Bukankah di dunia ini tidak ada kepastian?

Belum tentu. Bilamana dunia tidak pasti kenapa Susilo Wonowidjojo tetap top 10 terkaya? Apa dia yang punya Monas?

Orang kaya itu pasti tambah kaya. Setiap tahun mereka ditop up. Jangankan Susilo, saya pun tiap tahun ditop up kredit bank Rp1M. Kenapa?

Ya itu sifatnya bank, adalah penggelembungan kredit. Bila besok ada penambahan kredit bank, tetus, terus, terus maka integritas kredit turun. Sehingga bank selalu untung. Misal, hari ini Anda akad kredit 100 zaitun, tahun depan integritasnya tinggal 90. Bagaimana bank rugi?

Yang dapat kredit 100 zaitun tahun depan utangnya turun sisa 90. Bagaimana nasabah rugi?

Lalu siapa yang rugi?

Yang rugi adalah yang ketinggalan kredit. Mereka jual tanah, dapat tunai. Rugi. Uangnya warisan beli zaitun naik terus, lima tahun kemudian harga zaitun 2x lipat.

Coba Anda masih ingat zanan jadul Toeti Aditama siaran Dunia Dalam BZerita, Anda beli bakso.

Bakso
Berapa bang?
Semangkok Rp100 neng

Kenapa bakso sekarang Rp20.000.

Bahkan konglomerat yang dapat kredit Rp1 M atau Rp1T atau lebih akan terus turun integritas kreditnya. Satu hal, karena sistem kapitalis menetapkan inflasi.

Tapi bukankah harga properti di Jakarta tidak naik? Kata siapa, sebentar bulan Juni 2020 Masayoshi datang. Dia akan dicintai spekulan properti. Persis Jack Ma dicintai Tokopedia.

Satu hal yang pasti di Indonesia, harga tanah akan segera mencapai ekuilibrium Rp100 juta per meter. Saat itu Anda beli apaetemen per sqf itu ukurannya keramik 30×30 cm.*

Ir. Goenarjoadi Goenawan, MM.

Pensiunan. Pernah menjabat Vice President Director Lotteria. Kini menjadi motivator dan perencana keuangan. Menulis belasan buku populerdi antaranya Money Intelligent, New Money, Rahasia Kaya: Jangan Cintai Uang.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close