Trending

Pantas AHY-Ibas sangar, SBY lagi panik usai Novel Baswedan lenyap

Dua-kakak beradik Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) belakangan terlihat sangar-sangarnya. Berbagai kritikan tajam terdengar terlontar dari Cikeas.

Mereka bahkan tak segan menyebut Presiden Jokowi gagal memimpin negara dalam menghadapi pandemi. AHY-Ibas bukan cuma garang di media, mereka juga mulai menggunakan narasi bombastis, bahkan sampai melibatkan menantu dan para buzzernya.

Menurut pegiat media sosial Karto Bugel, sebenarnya ada benang merah yang bisa ditarik dari nyaringnya kritikan AHY dan Ibas kepada Pemerintah. Cikeas dinilai tengah panik-paniknya terkait dua isu besar yang bakal dihadapi.

Pertama soal hengkangnya penyidik senior Novel Baswedan di dalam tubuh KPK kini.

“Mereka panik karena wajah KPK sudah berubah. Selama ini di dalam KPK selalu berpihak pada mereka. Dan kini tak lagi. Langkah KPK terlihat lebih ringan ketika kelompok Novel Baswedan tak memiliki akar lagi di sana. Artinya bukan mustahil bagi KPK untuk kembali memilah berkas yang memang selama ini tak tersentuh berkaitan dengan Cikeas,” kata dia dikutip 2045, Senin 19 Juli 2021.

AHY dan Ibas dalam Kongres V Partai Demokrat
AHY dan Ibas dalam Kongres V Partai Demokrat di Jakarta. Foto Instagram @ibasyudhoyono

Apalagi selama ini sejumlah bukti kuat cukup jelas mengarahkan Cikeas ada di dalam beberapa skandal. Seperti kesaksian sejumlah orang, mulai dari Anas Urbaningrum, Nazarudin.

“Di sisi lain ada kasus eKTP dan kasus Antasari. Dan hilangnya pengaruh Novel Baswedan pada lembaga tersebut kemudian harus disikapi serius oleh mereka. Ini serius. Makanya AHY dan Ibas mulai rajin kritik dan terlihat sangar,” katanya.

Taktik serang ala AHY dan Ibas

Selain itu, di belakang itu juga dinilai masih tersisa kasus Century, BLBI, reklamasi Tanjung Benoa, Petral, sampai pengadaan pesawat kepresidenan.

Faktor kedua yang bikin keluarga Cikeas dinilai makin panik adalah, bakal hilangnya pengaruh birokrasi pada 2022-2023. Ini terkait rencana pemerintah pada 2022 dan 2023, 24 provinsi, 224 kabupaten kota akan dijabat oleh PJ.

Di mana para PJ itu semua akan dipilih oleh presiden. “Mereka tentu panik, karena tiba-tiba mereka tak punya lagi banyak pengaruh pada provinsi, kabupaten dan kota. Mereka akan lumpuh pada birokrasi di daerah.”

Menurut Karto Bugel, dua hal inilah yang kemudian membuat Cikeas mengatur taktik agar AHY dan Ibas disulap menjadi sangar mengkritik pemerintah. Menurut mereka, makna panggung memiliki arti penting. “Semua itu demi aman posisi mereka nanti,” katanya.

Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah acara PWI. Foto Twitter @SBYudhoyono

Apalagi pengaruh Novel Baswedan yang selama ini disebut kerap mengamankan mereka kini sudah tak ada. Jelas itu bukanlah kabar baik bagi SBY. Maka pada 2022 dan 2023, dipastikan Demokrat bakal jadi partai yang kena dampak pincang.

“Kedua peristiwa itu bikin mereka panik, mereka khawatir masa depan politik mereka yang makin tak pasti, dan itu sedang menanti mereka. Dan nyatanya, mereka gagal memaknai pandemi dengan solider.”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close