Trending

Pantas terasa dingin terus, ternyata Indonesia lagi alami fenomena ini

Masyarakat pasti merasa beberapa waktu terakhir terasa dingin terus. Wajar saja rupanya, sebab Indonesia tengah dilanda fenomena cuaca ekstrem. Bukan cuma di Jabodetabek saja, namun menjalar hingga banyak wilayah di Indonesia.

Penasaran, cuaca ekstrem apa yang tengah melanda Indonesia sekarang ini, sampai-sampai terasa dingin terus menerus?

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkap, ada sejumlah fenomena cuaca ekstrem yang tengah dialami RI. Kata Dwi, pertama karena fenomena global. Yakni dipengaruhi suhu muka air di Samudera Pasifik, dengan suhu muka air di perairan Indonesia.

“Maka itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi ekstrem berupa curah hujan lebat yang diperkirakan masih akan berlangsung sampai sepekan ke depan,” kata dia saat live di Metro TV, dikutip Kamis 18 Februari 2021.

Menurut BMKG, pihaknya meminta masyarakat mewaspadai hujan lebat disertai petir dan angin kencang yang akan terjadi mulai dari 15 sampai 21 Februari 2021 mendatang.

Hujan deras
Hujan deras. Photo: Pixabay

Kata dia, hujan deras dan cuaca ekstrem secara umum masih berpotensi di seluruh wilayah Indonesia. Terutama di Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, maupun Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

“Wilayah yang kami sebutkan bukan berarti di seluruh provinsi tersebut, ada di sebagian di wilayah itu yang ekstrem. Intinya ada kenaikan 40 persen dari curah hujan normal, atau setara 200 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter dalam satu bulan.”

“Artinya dalam satu hari dapat mencapai lebih dari 50 milimeter,” katanya.

Penyebab cuaca ekstrem di Indonesia

Dwi lantas memberi contoh cuaca ekstrem sudah terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Di mana, kemarin, dalam 24 jam, sudah ada 180 milimeter hujan dalam satu hari.

“Jadi bisa dibayangkan, hujan yang harusnya turun 1 bulan, dalam waktu 1 hari bisa terjadi 180 mm. Jadi bila diakumulasikan lebih dari 300 mm, bahkan 500 mm dalam beberapa hari dalam satu bulan,” katanya lagi.

Apabila dibandingkan dengan priode yang sama tahun lalu, cuaca di 2021 ini menurut BMKG terbilang lebih ekstrem 40 persen dari kondisi normal. Soal penyebab, kata dia, karena adanya fenomena iklim global, yaitu Lanina.

gelombang tinggi sepanjang pesisir pantai Pasir Padi, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (14/1/2021).
gelombang tinggi sepanjang pesisir pantai Pasir Padi, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (14/1/2021). Foto Antara/Anindira Kintara/Lmo/foc.

Fenomena ini diperdiksi baru akan berakhir pada April bahkan awal Mei. Di mana fenomena tersebut membuat kontribusi peningkatan curah hujan meningkat 40 persen dari normal.

Ada lagi fenomena yang rutin berlangsung di Tanah Air. Yakni adanya fenomena angin Monsun Asia. Angin ini, kata Dwi, membawa uap-uap air yang mengakibatkan terjadinya cuaca gelap dan musim hujan di Indonesia.

Selain itu ada pula fenomena sirkulasi siklonik, depresi di wilayah Samudera Hindia, dan wilayah Indonesia Utara yang juga turut meningkatkan pembentukan awan-awan hujan.

Lantas, dari beberapa fenomena tersebut, kapan puncak musim hujan akan berakhir di Indonesia? “Dari prediksi kurang lebih 70 persen wilayah RI akan turun pada Januari dan Februari, atau paling awal Maret. Sementara 30 persen sisasnya di bulan Maret ini. Turunnya tidak bersamaan, dan baru akan berakhir di Maret,” katanya.

Minta masyarakat waspada

Maka itu, pada kesempatan tersebut, BMKG mengimbau agar masyarakat diminta untuk terus mengupdate informasi dari mereka. Baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui aplikasi mobile phone, dan sosial media.

“Jaga lingkungan, jangan sampai ada tambahan kerusakan, dan waspadai daerah-daerah rawan,” kata dia.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close