Trending

Ditolak warganya, Pemerintah China malah wajibkan swab anal bagi diplomat AS?

Beberapa waktu lalu Pemerintah China mengumumkan pihaknya telah menemukan metode baru deteksi covid-19 yaitu lewat swab anal. Metode baru ini disebut lebih akurat hingga mencapai 90 persen.

Namun penemuan ini dihindari banyak orang termasuk warga China karena proses pengambilan sample yang dinilai banyak mengundang kontroversi.

Di sisi lain, tidak sedikit pula warga China yang merasa risih jika diharuskan melakukannya. Namun baru-baru ini timbul narasi yang menyebut Pemerintah China mewajibkan para diplomat Amerika Serikat yang berdomisili di China untuk melakukan tes tersebut.

Tes usap gratis digelar Pemda Aceh Barat. Foto Antara/Syifa Yulinnas.
Tes usap gratis digelar Pemda Aceh Barat. Foto Antara/Syifa Yulinnas.

Tentu keputusan yang belum jelas itu langsung ditentang banyak pihak di seluruh dunia hingga mengundang sorotan dari dunia internasional. Seperti yang telah dilaporkan sebuah media AS baru-baru ini.

Dilansir laman Metro.co.uk, ternyata Pemerintah China telah mengkarifikasi narasi yang beredar luas di media sosial itu.

Pemerintah China membantah tuduhan mewajibkan para diplomat Amerika Serikat (AS) menjalani tes swab (usap) dubur untuk virus corona.

Bantahan ini dilakukan atas sebuah laporan dari media AS yang memuat keluhan para diplomatnya setelah diminta menjalani prosedur yang mungkin dianggap memalukan tersebut.

Sebelumnya, beberapa kota di China, terutama yang masuk kategori berisiko tinggi penularan COVID-19, mewajibkan warga yang baru datang melakukan tes usap melalui dubur (anal swab test).

Pemerintah Kota Beijing dan Qingdao di Provinsi Shandong mulai Kamis memberlakukan kewajiban anal swab test tersebut terhadap para penumpang pesawat internasional sebelum mengakhiri masa karantina.

Demikian halnya di Kota Yangzhou, Provinsi Jiangsu, juga menerapkan metode tersebut kepada para pekerja di perusahaan makanan beku.

Direktur Pusat Kesehatan Masyarakat Universitas Fudan, Shanghai, Lu Hongzhou, mengatakan bahwa pengambilan sampel melalui anus tersebut lebih akurat daripada melalui tenggorokan atau hidung.

“Mengambil sampel dari hidung atau tenggorokan ada kemungkinan hasilnya salah,” ujarnya dikutip media setempat.

Sampel vaksin COVID-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing.
Sampel vaksin COVID-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, 11 April 2020. Foto ANTARA Xinhua/Zhang Yuwei/pras)

Para ilmuwan juga mendapati bahwa virus di hidung dan tenggorokan lebih cepat hilang daripada di anus. Oleh sebab itu, diduga ada banyak kasus COVID-19 tanpa gejala yang ditemukan.

Akan tetapi, metode tes COVID melalui anus tersebut memunculkan perdebatan di jagat dunia maya di China.

“Kau angkat pantatmu, letakkan di atas kasur, lalu kau akan merasakan kapas lidi dimasukkan di anusmu dua kali atau mungkin beberapa kali,” kata seorang warganet yang menceritakan pengalamannya kepada Beijing News.

Pemkot Shanghai pernah menerapkan metode tersebut pada awal 2020, namun kemudian tidak dipakai lagi.

Seorang warga negara Indonesia yang baru saja menjalani karantina selama 14 hari di Guangzhou sebelum memasuki wilayah Beijing juga mengaku risih saat mengetahui kebijakan anal swab test itu.

“Aneh-aneh saja, masak tes swab melalui anus,” ujar pria tersebut kepada ANTARA Beijing, Kamis malam.

Anal swab test memang tidak cocok dilakukan secara masif. Namun, Lu Hongzhou mendukung kebijakan tersebut diterapkan kepada para pengguna penerbangan internasional dan kelompok berisiko tinggi lainnya untuk memastikan akurasi hasil tes.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close