Hobi

Terungkap! Pemerintah Indonesia rewel ke Google, banyak minta hapus konten

Google mengeluarkan Laporan Transparansi Penghapusan Konten untuk paruh pertama tahun 2021. Dari laporan tersebut terlihat bahwa Google mendapat banyak request dari pemerintah sejumlah negara di dunia untuk menghapus konten. Bahkan permintaan itu meningkat seiring Google mengesahkan undang-undang baru untuk mengizinkan konten dihapus.

“Undang-undang ini berbeda di setiap negara dan wilayah dan mengharuskan penghapusan konten pada berbagai masalah yang sangat luas, mulai dari ujaran kebencian, konten dewasa dan cabul, kesalahan informasi medis, hingga pelanggaran privasi dan kekayaan intelektual,” kata petinggi Google, David Graff dikutip dari ZDNet, 26 Oktober 2021.

Muslima Fest

“Sementara penghapusan konten dan undang-undang perwakilan lokal sering dikaitkan dengan rezim represif, mereka semakin tidak terbatas pada negara-negara tersebut,” lanjutnya.

Negara-negara yang memiliki jumlah permintaan paling banyak penghapusan konten adalah Rusia, India, Korea Selatan dan Turki. Kemudian Pakistan, Brasil, AS, Australia, Vietnam dan Indonesia menutup sepuluh besar negara paling banyak minta hapus konten.

Aplikasi layanan Google. Foto: Cyberthreat
Aplikasi layanan Google. Foto: Cyberthreat

Sementara dalam hal jumlah konten yang diminta untuk dihapus, Indonesia menempati peringkat pertama. Pemerintah Indonesia meminta kepada Google untuk menghapus lebih dari 500 ribu URL karena melanggar undang-undang perjudian.

Google menjelaskan, telah menghapus lebih dari 20.000 URL yang diminta pemerintah Indonesia, dan sedang meninjau sisanya.

Kemudian Rusia menempati posisi nomor dua, diikuti oleh Kazakhstan, Pakistan, Korea Selatan, India, Vietnam, AS, Turki, dan Brasil.

Di Amerika Serikat dengan 404 permintaan, 45 persen permintaan terkait dengan pencemaran nama baik terutama di hasil penelusuran, diikuti oleh permintaan terkait merek dagang yang paling umum di YouTube, serta alasan privasi dan keamanan.

Untuk Australia dengan tertinggi baru 392 permintaan, alasan menonjol adalah intimidasi dan pelecehan yang merupakan 80 persen dari permintaan. Dari 300-an permintaan tersebut, 261 terkait dengan Gmail.

Ilustrasi Google. Foto: Dok Antara.
Ilustrasi Google. Foto: Doc. Antara.

Sementara di India, pencemaran nama baik jadi konten yang paling banyak di-request untuk dihapus, yakni sebanyak 1.332 konten, dengan 28 persennya adalah permintaan pemerintah. Kemudian diikuti oleh peniruan identitas dengan angka 26 persen, yang merujuk ke halaman Aplikasi Google Play.

“Kami menerima permintaan dari Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi, India, otoritas yang ditunjuk berdasarkan Bagian 69A Undang-Undang Teknologi Informasi, 2000, mengenai konten di Google Play,” kata Google.

“Karena pembatasan kerahasiaan yang diamanatkan oleh Bagian 69A, kami tidak dapat memberikan detail apa pun tentang konten yang dipermasalahkan atau tindakan yang diambil oleh Google,” tambahnya.

Sejak awal tahun hingga akhir Juni, Google mengatakan menerima permintaan di Korea Selatan untuk menghapus sekitar 5.000 URL yang berkaitan dengan gambar eksplisit non-konsensual korban kejahatan seks digital pada hasil pencariannya, dan menghapus lebih dari 3.000 URL.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close