Trending

Pemerintah pusat mirip Abu Nawas, hobi kambing hitamkan Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mejadi sorotan publik, ada yang membela dan juga mengkritiknya soal penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lebih ketat di Jakarta per Senin 14 September 2020. Yang mengkritik adalah pemerintah pusat, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengeluhkan langkah PSBB DKI Jakarta membuat anjloknya IHSG. Sampai ada yang mengatakan pemerintah pusat mirip Abu Nawas.

Abu Nawas merupakan pujangga Arab. Dia salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik ia digambarkan sosok yang bijaksana sekaligus kocak. Kisah jenaka dan kocak serta populer dalam kisah Seribu Satu Malam. Nah, langkah Anies ini mendapat serangan dari berbagai orang-orangnya Jokowi di pemerintahan maupun para buzzer politik. Semua kompak salahkan Anies mengambil keputusa PSBB.

Baca juga: Ngeri, BIN Sebut pasukan bersenjata yang dimiliki setara TNI

Pemerintah pusat mirip Abu Nawas

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi di istana Bogor, Jawa Barat. Foto Instagram @jubir_presidenri

Menurut pengamat politik Tony Rosyid, respons pemerintah pusat itu menunjukkan mereka gagal mengatasi Covid-19 tapi kemudian mencari kambing hitam. Kondisi ini mirip degan kisah Abu Nawas. Cincin hilang di depan rumah, dicari di ruang tamu. Alasannya, karena depan rumah gelap. Sedang ruang tamu terang.

“Nah, pemerintah pusat mirip Abu Nawas. Awal Covid-19 masih jadi ancaman, siapin kunyit dan empon-empon. Saat covid-19 sudah betul-betul masuk dan menyerbu, panik soal ekonomi. Ekonomi collaps dan datang resesi, bicara kesehatan,” tulis Tony dikutip Senin 14 September 2020.

Melihat langkah pusat dan DKI Jakarta yang kerap tak kompak dalam penanganan Covid-19, Tony menilai pusat yang lebih lamban, sedangkan DKI Jakarta relatif respons dengan cepat. Pola berkali-kali salahka Anies ini, menurut Tony, terlihat. Makanya dia bertanya mengapa tiap ada masalah kok pemerintah pusat bukan fokus pada objeknya sih, tapi malah mengerahkan buzzer untuk mencari kambing hitam? Yang muncul ya kegaduhan, begitu tulisnya.

“Mestinya, semua unsur yang ada di pemerintahan pusat, termasuk para menteri, fokus saja bekerja. Identifikasi berbagai masalah, lalu pikirkan dengan serius penyelesaiannya. Jangan kerja, kerja, kerja, tapi gak tahu apa yang harus dikerjakan,” ujarnya.

Baca juga: Walau ditusuk, Syekh Ali Jaber minta jemaah hentikan gebuki pelaku

Soal risiko disalahkan dengan menerapkan PSBB, Anies sebelumnya sudah menyadarinya. Bagi Anies, dia memilih disalahkan daripada salah langkah. Anies dikesankan melangkahi pemerintah pusat dalam penerapan PSBB. Soal itu, Tony mengingatkan lagi, Anies telah menyadarinya.

“Saya dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, salah langkah. Kedua, melangkahi. Saya pilih yang kedua,” ujar Anies suatu waktu.

Reshuffle yang tak becus

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto (tengah) saat evakuasi 188 awak kapal World Dream di Jakarta. Foto Instagram @kemenkes_ri

Tony mengkritik Jokowi yang lamban pada menteri yang tak becus bekerja pada masa pandemi Covid-19. Dia menyoalkan kenapa Jokowi diam saja dengan kinerja Menteri Kesehatan Terawan Putranto.

Seharusnya kalau dinilai si menteri tak bagus, ya langsung pecat saja. Tak perlu nunggu perombakan kabinet berbarengan.

“Kalau memang Menkes dianggap tak mampu, ganti. Lakukan reshuffle. Presiden punya otoritas. Gak usah nunggu jadual reshuffle berjamaah. Gak mampu, ganti. Supaya mesin pemerintah bisa beroperasi dengan baik,” kritik Tony ke Jokowi.

Baca juga: Terkait ucapan Puan soal Minang, aktivis usul Sumbar jadi negara bagian

Dia juga menyoroti soal alokasi anggara yang besar untuk Covid-19 yang mencapai ratusan triliun dan semakin ke sini semakin naik. Namun lucunya, dari ratusan triliun itu, alokasi untuk kesehatan cuma 10 persennya saja.

“Dari sekitar 905 T, anggaran untuk kesehatan hanya 87,5 T. Kurang dari 10 persen. Itupun yang lewat kemenkes hanya 25,7 T. Dengan catatan, tidak ada korupsi,” kata dia.

Makanya, tulis Tony, nggak heran bila angka kematian kini meninggi lagi. Data yang diterima Tony, saat PSBB berlaku April-Mei, angka terinveksi relatif bisa ditekan.

Rata-rata per hari 445 orang. Namun, buru-buru diumumkan wacana New Normal. Pada Juni, angka terinfeksi langsung naik jadi 1.141 rata-rata perhari. Bulan Juli 1.714 perhari. Bulan Agustus naik lagi jadi 2.380 perhari. Dan bulan september ini sudah di atas 3000 rata-rata per hari.

Begitu juga angka kematian. Bulan April-Mei, ada 26 orang mati rata-rata per hari. Malah muncul wacana New Normal, angka kematian jadi naik. Rata-rata per hari di bulan Juni 49 orang. Bulan Juli 73 orang. Bulan Agustus rata-rata 80 orang.

Kok Anies jadi kambing hitam

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam rapat Covid-19. Foto Instagram @aniesbaswedan

Dengan pola tersebut, Tony heran mengapa seakan semua menargetkan Anies. Dia melihat kebijakan Anies, hampir selalu jadi sasaran dan tumbal atas kegagalan pemerintah pusat.

“Kebijakan Anies injek rem dianggap jadi sumber anjloknya IHSG. Dituduh sengaja ingin membuat ekonomi terpuruk agar Jokowi jatuh. Macam-macam khayalan imajinasinya,” tulisnya.

Baca juga: Kelompok ini nekat ubah lambang Garuda Pancasila jadi begini bentuknya

Tony membela langkah Anies menerapkan lagi PSBB. Sebab berdasarkan data statistik jika tidak ada perlakuan ketat dan khusus, kenaikan kasus positif Covid-19 di Jakarta bakal terus naik.

“Berdasarkan data statistik, jika kenaikan positif Covid-19 di Jakarta tidak ada treatmen khusus, maka tanggal 17 september, diperkirakan rumah sakit di DKI tak akan lagi mampu menampung pasien. Anies segera ambil langkah cepat. Injek rem. Berlakukan PSBB ketat,” katanya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close