Lifestyle

Pemerintah RI gak terapkan herd immunity karena hal ini

Ada beberapa cara yang dilirik untuk mengatasi pandemi COVID-19, salah satunya herd immunity atau kekebalan kelompok. Teorinya, komunitas membuat kemungkinan virus menginfeksi akan semakin kecil saat tercipta keadaan di mana banyak orang yang sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Menurut situs Kementerian Kesehatan, herd immunity menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan atau dengan semakin kecilnya kemungkinan berkontak dengan orang yang terinfeksi.

Baca juga: Asteroid setinggi gedung Empire State mengarah ke Bumi, NASA waspada

Herd immunity
Herd immunity. Foto: Samuele Schirò dari Pixabay

Herd immunity tak akan terbentuk

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan pemerintah enggak akan menerapkan kekebalan kelompok untuk menekan penyebaran virus corona.

Meski aktivitas berangsur pulih, masyarakat tetap harus mengikuti protokol kesehatan seperti cuci tangan, kenakan masker serta physical distancing.

Menurut Wiku, penerapan kekebalan kelompok jika suatu kelompok sama sekali tidak mengikuti protokol kesehatan dan saling berinteraksi seperti biasa. Hingga imunitas melawan COVID-19 akan terbentuk dengan sendirinya. Dia menegaskan hal ini tidak dilakukan oleh Indonesia.

Ilustrasi COVID-19
Ilustrasi COVID-19. Photo by Miguel Á. Padriñán from Pexels

“Herd Immunity itu kalau kita berdampingan bersenggol-senggolan, tapi semuanya tertutup (protokol kesehatan) seperti itu, enggak akan terbentuk penularan itu. Sehingga imunitasnya tidak terbentuk,” kata Wiku dari Kantor BNPB, Selasa 2 Juni 2020 dikutip dari Suara.com.

Selain itu agar kekebalan kelompok bisa berhasil, perlu interaksi yang cukup tinggi dan waktu yang lama. Terlebih Indonesia terdiri dari provinsi yang terpisah laut maupun daratan.

“Indonesia ini kelompok besar, 270 juta orang. Selain itu, dibagi-bagi dalam pulau, provinsi yang terpisah laut. Jadi, kalau kita bicara Herd Immunity kapan terjadinya?” ucapnya.

Skenario paling buruk

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga mengimbau kalau herd immunity sangat berbahaya dijadikan strategi mengatasi pandemi COVID-19.

Risiko besar juga disampaikan oleh peneliti mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra.

Herd immunity
Herd immunity. Foto: Brian Merrill dari Pixabay

“Herd immunity adalah skenario terburuk sebetulnya, jangan sampai kita terinfeksi semua karena biaya perawatan bisa menjadi lebih mahal,” kata Sugiyono seperti dilansir dari Antara.

Kekebalan seseorang dapat muncul setelah pulih dari infeksi penyakit atau lewat intervensi medis lewat vaksinasi. Tapi, herd immunity membutuhkan jumlah orang yang terinfeksi dan sembuh dalam jumlah besar. Sedangkan untuk kasus virus yang belum terdapat vaksinnya seperti COVID-19 hal itu akan menimbulkan risiko besar.

“Lebih baik saat ini mendorong pencegahan jangan sampai tertular, jangan sampai kita menunggu sakit lalu terus kebal,” kata dia.

Upaya pencegahan ada dalam bentuk farmasi dan non farmasi. Untuk farmasi saat ini para peneliti tengah meneliti vaksin untuk mencegah virus corona dan obat untuk menyembuhkan dari penyakit yang menyerang sistem pernapasan tersebut.

“Sedangkan upaya nonfarmasi seperti yang tengah digalakkan oleh pemerintah saat ini yaitu physical distancing atau menjaga jarak untuk menekan angka penularan penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu,” ujar Sugiyono.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close