Sains

Penasaran, apa yang terjadi jika manusia tinggal di Mars?

Hingga hari ini, masih banyak pertanyaan manusia seputar Mars yang belum terungkap. Badan penerbangan dan antariksa asal Amerika Serikat, NASA berulang kali menggelar misi ke planet tersebut untuk meneliti dan mencari tahu jejak kehidupan di Mars.

Salah satu temuan terbesar mereka, ialah bekas saluran air yang menyerupai sungai. Dilansir dari Nasa.gov, Senin 1 Juni 2020, tanda-tanda tersebut terlihat melalui garis-garis gelap atau noda yang terdapat di dinding kawah serta tebing Mars. Gambar itu tertangkap jelas melalui satelit.

Baca Juga: Polisi bicara keterlibatan Widi Mulia atas kasus narkoba Dwi Sasono

Sebelumnya, hasil studi terbaru menunjukkan, air di Mars memiliki salinitas lebih rendah dari lautan di bumi, tetapi lebih tinggi dari air tawar. Salinitas sendiri merupakan tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.

Mars. Foto: NASA.
Mars. Foto: NASA.

Selain itu, kandungan air tersebut juga mengandung tingkat pH netral mirip air laut dan mengandung banyak mineral yang berbeda.

Sejauh ini, para peneliti masih melakukan riset serta rekonstruksi tentang bagaimana komposisi air di Mars berubah dari masa ke masa. Namun dalam prosesnya, ada satu hal yang menghambat studi tersebut, yakni minimnya pengetahuan manusia tentang aspek penunjang yang diperlukan soal Mars.

Pada 2017 lalu, pendiri SpaceX, Elon Musk pernah mengungkap mimpinya membangun koloni di Mars. Ia berkata pada Telegraph, 50 tahun dari sekarang—atau sekira tahun 2060-an nanti—keinginannya itu pasti bakal terwujud.

“Saya rasa akan ada dua jalan fundamental. Pertama adalah kita tinggal di Bumi untuk selamanya, dan nanti mengalami kepunahan. Alternatifnya adalah membangun peradaban baru di planet lain,” tutur Musk pada 21 Juni 2017 lalu.

Meski Mars dikabarkan mengandung air, namun nyatanya planet merah itu mustahil dihuni manusia. Berbagai hal menjadi penyebab, mulai kandungan oksigen yang rendah, suhu yang terlalu dingin, hingga tanahnya yang tak bisa ditumbuhi tanaman.

Sekadar diketahui, di Mars, kandungan oksigennya hanya berada di kisaran 0,15 persen. Maka saat berada di Mars, manusia pasti kesulitan bernapas. Karuan saja, di Bumi kandungan oksigennya mencapai 21 persen.

Lebih jauh, suhu rata-rata di Mars mencapai minus 60 derajat celcius. Bahkan, bisa meningkat hampir tiga kali lipat saat memasuki musim dingin. Itulah mengapa, jika tidak mengenakan pakaian khusus, bisa dipastikan tubuh manusia seketika membeku.

Mars. Foto: NASA.
Mars. Foto: NASA.

Alasan lain yang membuat manusia tak bisa tinggal di Mars ialah lapisan atmosfer planet yang tergolong tipis. Sehingga, tamengnya tak cukup kuat menghalau paparan radiasi berbahaya. Seperti sinar ultraviolet (UV) dan sinar kosmik berenergi tinggi.

Bukan hanya itu, tanah di permukaan Mars yang tak subur juga menjadi penghalang kuat mengapa manusia tak bisa tinggal dan berkoloni di sana. Namun, ilmu pengetahuan terus bergerak maju. Beberapa sumber menyebut, bakal ada teknologi canggih yang membuat tanaman dan buah-buahan tumbuh.

Menariknya, dikutip dari Modern Farmer, para ilmuwan di Wageningen University & Research mengaku ada sembilan jenis tanaman yang bisa tumbuh di Mars. Misalnya tomat, kacang polong, lobak, dan bawang perai. Sedang tumbuhan hijau seperti bayam atau kangkung sulit tumbuh, bahkan tak bisa sama sekali. (Jalaludin Rumi)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close