Trending

Pengamat: Kalau Jokowi jadi Ketua Umum PDIP, keluarga Mega bakal tersingkir

Pengamat Politik Ujang Komarudin mengomentari nasib PDIP ke depan jika Megawati Soekarnoputri alias Mega tak lagi memimpin. Menurut dia, PDIP akan berubah jadi partai pecah dan tenggelam.

Mengapa demikian? Menurut Ujang, sebenarnya di tubuh PDIP saat ini sudah ada faksi-faksi. Namun belum ada yang berani dan takut dengan sosok Mega. Makanya isu meredam dengan sendirinya.

Muslima Fest

Sang ketua umum yang menjabat selama dua dekade itupun sebenarnya sudah membaca potensi faksi, maka itu dia memilih rela bertahan jadi pemimpin PDIP, agar partai banteng moncong putih itu tetap selamat dari perpecahan.

“Kalau Mega tak lagi memimpin, saya yakin dukungan publik akan turun pada partai itu, akan turun elektabilitasnya. Makanya Mega hingga kini terus bertahan,” kata dia di sebuah webinar dengan Tagar TV, dikutip Hops.id, Jumat 10 September 2021.

Ujang bahkan sempat menyinggung perkataan Mega pada media beberapa waktu lalu, yang menyatakan apabila PDIP tetap ada sampai kiamat, maka dia akan rela mundur. “Jadi ini pernyataan serius. Ini menjadi terlihat bahwa kepemimpinan PDIP itu saat ini hanya berharap pada sosok Mega,” katanya lagi.

Megawati dilarikan ke RS
Ilustrasi Megawati dilarikan ke RS Foto: Antara

PDIP bisa pecah tanpa Mega

Adapun, Mega sendiri saat ini adalah sosok yang paling disayangi, dihormati, dan disenangi oleh banyak sekali kader di PDIP. Lantaran sosoknya yang memang teruji, mampu bertahan meski sudah disingkirkan orde baru. Sampai akhirnya dia bisa menjadi presiden.

Ujang lantas menyebut, besarnya PDIP sebenarnya bukan karena bagusnya sistem organisasi, kaderisasi dan sebagainya yang dimiliki. Melainkan karena betapa besarnya ketokohan Mega di PDIP, yang membuat partai itu jauh dari kata pecah.

“Dan jika Mega tak lagi memimpin, saya kira bakal pecah dan tenggelam ya,” kata dia.

Maka itu, dia menyatakan agar PDIP tak dihantam isu perpecahan, maka partai ini mesti melakukan regenerasi pada trah Soekarno. Di mana tongkat estafet tidak diberikan pada Jokowi misalnya. Melainkan pada kedua anaknya yakni Puan Maharani atau Prananda Prabowo.

“Lalu apakah (estafet) ke trah Soekarno atau ke Jokowi, saya melihat akan ke arah trah Soekarno entah ke Puan atau Prananda. Sebab kalau tidak ke Soekarno, maka trah itu akan tersingkir. Kan memang begitu politik Indonesia. Kalau pemimpin berubah, mohon maaf bisa tersingkir keluarga Soekarno di PDIP.”

Bendera PDIP. Foto: Antara
Bendera PDIP. Foto: Antara

“Maka itu, entah Prananda, atau Puan, tongkat estafet itu akan diberikan pada anak-anaknya,” kata dia lagi.

Soal partai PDIP disebut sebagai partai keluarga, dia tak menampiknya. Sebab hal itu juga terjadi pada hampir semua partai di sini. Sebut saja Nasdem, PKB, Gerindra, yang dibangun atas asas keluarga.

Hal ini tentu jauh dari asa sebuah partai modern, yang besar karena organisasi berjalan, kaderisasi terbangun, dan rekrutmen politik mulus. Tetapi yang terjadi tidak demikian.

Maka itu, yang muncul kemudian adalah pemimpin-pemimpin kuat yang bisa membangun partai.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close