Fit

Perawan bukan kondisi medis, stop cari pembuktian keperawanan wanita!

Masalah keperawanan sering kali masih jadi pembahasan di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal, perawan hanyalah konsep yang terbentuk dalam norma sosial, bukan kondisi medis.

Namun, konsep sosial ini bisa jadi bahaya jika dipercayai dan dijadikan patokan untuk berbagai hal krusial. Salah satu yang menggemparkan adalah saat ada uji keperawanan bagi calon anggota kepolisian dan angkatan bersenjata.

Masyarakat memang masih sangat berpegang teguh pada prinsip bahwa wanita yang belum menikah berarti masih perawan. Hal tersebut yang membuat banyak orang, terutama wanita cemas dan khawatir soal keperawanan.

Tidak hanya itu, akibatnya tumbuhlah mitos bahwa keperawanan bisa diuji secara medis, yakni melalui selaput dara. Padahal, tak semua wanita di dunia ini terlahir dengan memiliki selaput dara.

Ilustari macam-macam bentuk selaput dara. Foto: Pinterest
Ilustari macam-macam bentuk selaput dara. Foto: Pinterest

Kepercayaan masyarakat pada konsep sosial ini yang menyebabkan banyak wanita yang merasa rendah dan tidak berharga. Entah karena tidak mempunyai selaput dara atau sudah berhubungan seksual sebelum menikah walaupun dengan aman.

Lalu, sebenarnya bagaimana pandangan medis mengenai kata perawan?

Konsep perawan dalam dunia medis

Seperti yang sudah disebut di awal, perawan hanya konsep sosial. Keperawanan bukan soal kondisi medis. Sebab, tidak ada definisi secara spesifik yang bisa menggambarkan apa itu keperawanan.

Hal ini yang membuat arti perawan berbeda-beda untuk setiap orang. Sebab, dilansir dari Hellosehat, tak ada definisi medis yang bisa menggambarkannya. Namun, pemahaman masyarakat adalah perawan merupakan label bagi perempuan yang belum pernah berhubungan seksual.

Ilustrasi hubungan seksual. Foto: Twitter
Ilustrasi hubungan seksual. Foto: Twitter

Hubungan seksual mempunyai makna ambigu karena bisa bermacam-macam. Sebagian orang menganggap bahwa hubungan seks terjadi jika adanya penetrasi oleh penis pada vagina.

Namun, ada pula yang menganggap bawah aktivitas seksual seperti masturbasi, memasukkan jari ke dalam vagina untuk memunculkan rangsangan seksual (fingering), dan menggesekan alat kelamin (petting) juga termasuk ke dalam hubungan seks.

Keambiguan makna dan kontekstual inilah yang menjadi alasan tak ada seorang pun yang bisa menguji keperawanan seorang wanita. Bahkan dokter atau tenaga kesehatan pun tidak dapat menentukan perawan tidaknya wanita.

Ilustrasi wanita sedih. Foto: Pinterest
Ilustrasi wanita sedih. Foto: Pinterest

Maka, jika kamu pernah mendengar tes keperawanan yang dilihat dari tanda-tanda fisik, itu hanya mitos belaka. Tidak ada tanda-tanda fisik yang dapat dilihat orang lain apakah seorang wanita pernah berhubungan seksual atau tidak. Obsesi masyarakatlah yang menciptakan mitos tes keperawanan tersebut.

Oleh karena itu, stop cari pembuktian atas keperawanan wanita. Wanita berharga karena nilai dan kemampuan yang dimilikinya, bukan karena ‘keperawanannya’.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close