Trending

Pernikahan beda agama dari sudut pandang Islam, boleh kah?

Perbedaan agama sering kali menjadi polemik bagi pasangan yang ingin melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Tak jarang pula, pernikahan beda agama dianggap sbeagai hal yang tabu dan tidak umum di masyarakat. Lantas, seperti apa Islam menyikapi pernikahan beda agama sendiri? Simak artikel berikut selengkapnya!

Ilustrasi Alquran
Ilustrasi Alquran. Foto Pixabay/TayebMEHZADIA

Ustaz Ibnu Kharish LC, M.Hum atau yang akrab disapa Ustaz Ahong menjelaskan bahwa terdapat 3 ayat yang menjadi acuan pandangan ulama soal pernikahan beda agama dalam Islam. Ayat tersebut di antaranya adalah Al-Baqarah, Al-Mumtahanah, dan Al-Maidah

“Dalam pernikahan beda agama, paling tidak ada 3 pendapat ulama. Ayatnya adalah Surat Al-Baqarah ayat 221, Al-Mumtahanah ayat 10, dan Al-Maidah ayat 5. Itu ulama berdebat mengenai penafsiran di 3 ayat itu,” ujarnya dilansir dari kanal YouTube metrotvnews pada Rabu, 28 Maret 2021.

Menurut Ustaz Ahong, terdapat 3 pandangan yang berbeda soal menikah beda agama. Ketiganya yaitu, diperbolehkan secara mutlak, diharamkan secara mutlak, serta diperbolehkan jika laki-lakinya muslim.

Jadi, pernikahan beda agama masih dimungkinkan jika laki-laki muslim menikah dengan wanita non-muslim. Namun, hal sebaliknya tidak berlaku.

“Jadi ada 3 pandangan. Pertama, ada yang membolehkan secara mutlak, ada yang mengharamkan secara mutlak, ada alternatif ketiga yaitu boleh apabila suaminya muslim, istrinya non muslim. Tapi tidak sebaliknya.”

Mengapa demikian? Hal ini berkaitan dengan alasan kekhawatiran. Jika perempuan muslim menikah dengan laki-laki non-muslim, dikhawatirkan si perempuan akan mengikuti agama sang imam.

“Kalau menurut ulama tafsir, umat Islam mempercayai Nabi Isa dan Nabi Musa, tetapi tidak sebaliknya. Umat-umat Kristiani atau Yahudi tidak mempercayai Kenabian Nabi Muhammad. Nah, ini alasannya untuk kehati-hatian. Kan, laki-laki itu sebagai pemimpin yang menentukan. Takutnya, kalau perempuan ikut laki-laki yang nonmuslim, ikut suami malah pindah agama.”

Lebih lanjut, Ustaz Ahong juga menjelaskan bahwa masih ada kemungkinan bagi pasangan beda agama untuk menikah. Hal ini berkaitan dengan konteks yang disebutkan dalam karya tafisr Al-Qur’an yang ditulis oleh Imam Ibnu Araby.

“Di situ ada namanya musyrikat, perempuan musrik. Terus juga ada Al Kuffar. Dalam Ahkamul Quran, Imam Ibnu Araby itu menyebutkan bahwasanya yang dimaksud musyrik dan kuffar di situ adalah musyrik mekah dan kufar mekah. Artinya, mereka itu adalah orang-orang yang non muslim tapi memerangi Islam.”

“Kalau di balik, kalau bukan muslim Arab terus tidak memerangi orang Islam itu masih ada peluang diperbolehkan.”

Pilihan anak soal agama

Al Quran
Al Quran. Photo: Pixabay

Dalam kesempatan yang sama, Ustaz Ahong juga menjelaskan terkait pilihan iman anak jika terlahir dari orang tua yang berbeda agama. Menurutnya, ada empat mazhab yang berbeda yang mengatur hal ini.

Ada mazhab yang menganjurkan anak untuk memilih agama Islam, sementara itu ada pula mazhab yang membebaskan pilihan agama anak.

“Ulama beda pendapat. Kalau mazhab Imam Syafii dan Hambali, yaitu (anak mengikuti) orang tua yang beragama Islam. Tapi ada mazhab lain, yaitu mazhab Maliki dan Hanafi, agama (anak) enggak jadi persyaratan anak itu mau ikut ayahnya atau ibunya.”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close