Trending

Bahaya, Polri dibuat kesal oknum berkomentar liar penembakan laskar FPI

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) saat ini tengah menyelesaikan kasus penembakan laskar FPI yang tewas ditembak petugas saat mengawal Habib Rizieq. Sebanyak 3 anggota Polda MetroJaya tengah menjalani proses peradilan terkait penembakan laskar FPI yang terjadi di Km 50 tol Jakarta-Cikampek.

Namun dalam prosesnya Polri sendiri saat ini dibuat kesal oknum yang terus melemparkan komentar liar tanpa tanggung jawab terkait perjalanan kasus penembakan laskar FPI yang tengah masuk dalam persidangan.

 Banyaknya komentar liar yang muncul selama proses persidangan sendiri membuat Polri justru dibuat kesal dengan oknum yang melakukan dan banyak berkomentar liar namun tak mempertanggung jawabkan komentar tersebut.

Saking kesalnya Polri justru tetap bijak dan membuka kesempatan pihak lain yang ingin terlibat dalam pengungkapan kasus tewasnya 4 pengawal Habib Rizieq yang ditembak 3 anggota Polda Metro Jaya di KM 50, tol Jakarta-Cikampek.

Rekonstruksi penembakan 6 laskar FPI. Foto: Suara
Rekonstruksi penembakan 6 laskar FPI. Foto: Suara

Polri beri ruang siapapun ungkap kasus penembakan

Bahkan secara tegas Kabagpenum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan menegaskan polisi memberikan ruang seluruh pihak yang ingin membantu penyelidikan. Hal tersebut diungkap atas banyaknya komentar liar yang beredar.

 “Siapa pun yang ingin melibatkan diri membantu Polri dalam pengungkapan ini kami terbuka, tetap aturan dan dasarnya undang-undang. Jadi bukan yang komen liar ataupun memberikan komen yang tidak bertanggung jawab, tapi memberikan masukan,” kata Ahmad di Mabes Polri, Jakarta.

Dijelaskannya, jika seluruh lapisan masyarakat maupun pihak yang memiliki keterangan dan petunjuk terkait peristiwa penembakan laskar FPI tersebut bisa membantu Polri untuk mempercepat proses hukum yang tengah berjalan.

Rekonstruksi penembakan 6 laskar FPI. Foto: Suara
Rekonstruksi penembakan 6 laskar FPI. Foto: Suara

 “Kita juga masih membuka ruang bagi siapa pun yang ingin memberikan keterangan, jadi banyak yang memberikan komen dan keterangan, memberikan petunjuk, surat, kita acuannya adalah hukum, di Pasal 184 KUHP,” kata Ahmad.

Dalam UU, Ahmad menjabarkan untuk pemenuhan alat bukti yang digunakan dan atas dasar hukum terdapat 5 alat buktinya. Diantaranya berbagai keterangan dan informasi pendukung lainnya atas saksi atau seseorang yang berada di tempat kejadian perkara.

“Alat bukti yang sah itu ada 5, keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa,” sambung Ahmad.

Untuk itu, Ahmad kembali meminta pihak yang mau terlibat tidak hanya sekadar memberi komentar. Tapi juga mau menyumbangkan tenaga ataupun barang bukti yang ditemukan.

Rekonstruksi penembakan laskar FPI oleh Bareskrim Polri
Rekonstruksi penembakan laskar FPI. Foto Antara/Ali Khumaini

“Jadi kita (lihat) banyak komen di luar, kecuali ada komen-komen yang bisa bertanggung jawab, saya memberi komentar, saya ingin dijadikan sebagai saksi, itu bisa,” ucapnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close