Trending

PPKM Darurat, ini buruh-karyawan yang siap-siap kena PHK: Jutaan orang

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang bakal ditempuh Pemerintah untuk menekan laju covid-19 bukan tanpa persoalan. Sebab diperkirakan akan ada jutaan orang yang kena PHK akibat penerapan PPKM Darurat selama 3 sampai 20 Juli 2021 itu.

Hal ini ditegaskan oleh Ahli Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah. Menurut dia, ini adalah dampak mahal yang harus diterima publik akibat penerapan PPKM Darurat. Katanya akan ada banyak sekali tenaga kerja yang terancam PHK akibat PPKM Darurat.

Adapun salah satu karyawan dan buruh yang akan kena dampak langsung dari aturan PPKM Darurat ini adalah mereka yang bekerja di pusat perbelanjaan. Lantaran mal selama 20 hari ke depan bakal tutup total.

“Ada banyak sekali karyawan, tenaga kerja, buruh yang kena dampak luar biasa. Karena apa, karena selama ini banyak dari mereka yang menggantungkan keberadaan pusat perbelanjaan. Kalau itu ditutup, maka yang terjadi adalah pemecatan dan PHK,” kata Trubus dikutip Apa Kabar Indonesia, Jumat 2 Juli 2021.

Bukan cuma di Jakarta, masalah hantu PHK atas dampak PPKM Darurat ini juga akan dialami di 44 kabupaten dan kota. Maka diperkirakan akan ada sekira 2 juta orang siap kena PHK.

“Bisa sampai 2 juta ini, bahkan saya pikir lebih. Mereka perlu segera mendapat pertolongan,” katanya.

Pusat perbelanjaan atau mal
Pusat perbelanjaan atau mal. Foto: Andreas Lischka dari Pixabay

Pertolongan yang dimaksud adalah pemerintah diminta bergotong royong bersama para tenant mal untuk membayar setengah gaji karyawannya. Ini penting agar mereka tak di PHK tempatnya bekerja.

“Jadi tenant-tenant itu membayar separuh, separuhnya Pemerintah. Sebab mal dan bioskop termasuk restoran kan jadi korban dari program ini. Apalagi di daerah bisa cepat tutup, karena kalau di Jakarta sudah punya pengalaman di PSBB,” katanya.

PPKM Darurat dan PHK masalah dilematis

Trubus lalu menyatakan, kasus PPKM Darurat dan PHK massal ini memang dilematis. Di satu sisi angka covid memang terus melonjak naik. Di satu sisi mal juga menjadi korban terus. Apalagi selama ini mereka sudah running, dan belum mendapat untung dari semenjak buka beberapa waktu terakhir.

“Lalu tiba-tiba kini ditutup mendadak. Mereka pasti bingung, sementara mereka sudah mulai bangkit sekarang. Mereka belum dapat untung, apalagi dengan beragam aturan, termasuk pembatasan 50 persen. Anda bisa bayangkan dampak dari itu semua,” katanya.

Ilustrasi ojek online
Ilustrasi ojek online. Photo: Instagram @grabid

Di satu sisi pasar tradisional hingga kini masih dibiarkan buka. Ini dianggap Trubus akan menjadi satu kecemburuan alias diskriminasi. Di satu sisi ditutup total, namun di sisi lain dibiarkan walau dibatasi.

Padahal covid horor ini menurut dia terjadi karena kebijakan yang sangat terlambat. Tidak diantisipasi dari awal, namun baru mengumumkan darurat ketika covid sudah meledak.

“Jangan sampai dampak-dampak ini jadi sangat luar biasa di daerah. Jakarta punya pengalaman rem dan gas. Sementara daerah rem dan gas mereka enggak pengalaman. Kalau di rem sekarang mereka pasti bingung, saya khawatir terjadi banyak pelanggaran.”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close