Trending

Setelah pramugari dirumahkan, kira-kira mereka ngapain ya?

Persis Ayu Ting Ting yang masih mikir ayah Bilqis. Pikiran kita terjepit pusaran Covid-19 padahal kita pun berpikir, setelah semua pramugari dirumahkan setahun, kira kira mereka ngapain ya? Beralih kerja ke mana? Bakery? Gofood? Atau cepat menikah.

Setelah setahun hotel kosong, kira kira buat apa Grand Hyatt? JW Mariot. Berevolusi jadi apa mereka?

Bebaskan Siti Fadilah Supari, hai Jokowi dan Prabowo!

Pasangan yang sudah booking ballroom untuk pesta bulan April – Juni ini bagaimana? Cetak undangan 3.000 orang ini bagaimana?

Bagaimana kita mempersiapkan pesta terlarang, gara gara social distancing.

Selain pramugari dirumahkan, guru guru dansa, para sopir bus malam. Mereka berevolusi jadi apa, apa bisa jadi sopir virtual.

Pikiran manusia sungguh terbatas. Seolah olah kiamat, kita semua menuju armagedon.

Padahal tahun 48 kita pun perang lawan Belanda, gak mati. Agresi militer Belanda. Hidup.

Tahun 1959 baru kita lepas dari agresi militer Belanda.

Ayah saya masa darurat militer 1965 malah dikasih surat kewarganegaraan RI dari Kodim. Gara gara darurat militer.

Musim sanering pun kita survive. Musim hiper inflssi 600% pun kita survive. Musim darurat militer Aceh, Papua, Timtim pun kita survive. Jadi dipikir pikir bisnis yg paling mudah era 1970an baru bebas masalah. Kalbe baru berdiri. Belom ada persaingan perusahaan lokal.

Para calon bupati yang keburu kampanye curi start. Gibran yang sudah lengser dari Martabak, menyadari bahwa Pilkada ditunda setahun. Satu tahun lagi status ku Cawalkot. Tidak jadi. Setahun jomblo tanpa jabatan. Nanti aku harus bagaimana, kampanye terbentur social distancing.

Sarjana yang baru wisuda, mau kerja dimana? Kita sudah seratus tahun berada di habitat yang berkembang, selalu ada lowongan, selalu ada fasilitas company car, sekarang aku harus naik apa?

Bagaimana Unicorn yang cemas, menunggu IPO yang batal. Uber yang sekarat. Bukalapak, Tokopedia, Shopee, bagaimana membangun hype di tengah kondisi pemakaman di Rumah duka saja sepi.

Mereka cemas, tak berdaya.

Kita semua gentar, dan dengkul pengusaha pun bergetar. Bagaimana caranya menghadapi biaya produksi dengan kurs dollar tidak stabil, daya beli yang kempis, bagaimana caranya naik harga. Ini bukan soal pramugari dirumahkan saja.

UKM yang tutup dua bulan, menjelang Lebaran, apakah THR tahun ini bakal dapat?

Gojek yang dari dulu sibuk berebut penumpang, sekarang sibuk cari warteg gratis.

Bagaimana kita masih bisa berpikir berpedoman?

Di tengah ketakutan akan ketidak pastian ini, apakah pedoman yang pasti di masa depan?

Bayangkan Presiden memberi stimulus darurat Covid-19 sebesar Rp400 T. Berarti anggaran negara masih jalan. Pertumbuhan GDP Republik Indonesia masih ada walaupun 1%.

Berarti dari kecemasan semilyar umat ini ada yang bertumbuh. Hotel Aryaduta sibuk menerima pasien isolasi. Daripada tinggal di rumah pun susah cari perawat. Sekalian booking ICU masuk hotel.

Distributor Alat kesehatan lebih sibuk sekarang cari pabrik Ventilator, Respirator, alat yang tidak pernah kita tahu cara kerjanya.

Tiba tiba kita pun berpikir, setelah bulan Juni 2020 kepastian apa yang ada? Jumlah suplai uang beredar di Indonesia tetap bertambah Rp2 T per hari.

Terjadi shifting revolusi hotel, properti menjadi bisnis kesehatan. Pelayanan treatment, fisio terapi. Rumah jompo. Wisata kesehatan, rumah isolasi setelah operasi kecantikan.

Anggaran jaminan kesehatan makin bermekaran, sumber dana BPJS bertambah asal donasi masyarakat. Entah, apakah social distancing berubah menjadi larangan merokok nasional.

Topik pedoman di era Codid-19 ini akan diseminarkan oleh NSI nawacita sosial inisiatif tanggal 10 juni 2020 hubungi nawacitasosial@gmail.com.

Ir. Goenarjoadi Goenawan, MM.

Pernah menjabat vice president director Lotteria. Kini menjadi motivator dan perencana keuangan. Menulis belasan buku populerdi antaranya Money Intelligent, New Money, Rahasia Kaya: Jangan Cintai Uang.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close