Trending

Kisah ditemukannya puluhan tengkorak di Jakarta Kota

10 Tahun lalu warga Jakarta dikejutkan dengan penemuan dua tengkorak manusia di Gedung Bank Mega, Jalan Pintu Besar Utara Nomor 31-33, Jakarta Barat. Tengkorak itu ditemukan oleh dua penggali tanah saat hendak membuat septic tank. Dari hasil otopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo diketahui bahwa tengkorak itu telah berumur ratusan tahun.

Nyai Dasima dibunuh lalu dibuang ke Kali Ciliwung

Tak lama setelah itu, sejumlah pekerja proyek renovasi Gereja Kristen Baptis Jakarta (GKBJ) Sawah Besar juga menemukan benda yang diduga tulang belulang manusia.

Kepolisian segera membawa potongan benda asing itu ke RSCM. Dugaan awal, pecahan tulang di Jakarta Kota itu merupakan tengkorak manusia. Untuk memastikannya, pecahan tulang itu diteliti.

GKBJ sudah berdiri sejak 1952. Adapun benda-benda yang ditemukan para pekerja itu persisn di bawah gereja. Kuat dugaan itu tulang tengkorak dari zaman Belanda.

Kejadiannya saat Bandi (30) ditugaskan menggali tanah untuk pemasangan tiang pancang di lahan gereja tua yang berlokasi di Jalan KH Samanhudi 22 Pasar Baru, Jakarta Pusat, itu. Setelah mencangkul beberapa kali, ia merasa ada benda keras di antara tanah dan bebatuan.

“Saya kira itu pipa biasa, jadi cuek saja dan mencangkul lagi hingga ‘pipa’ itu pecah,” katanya.

Namun, Bandi terkejut karena “pipa biasa” itu kelihatan seperti tempurung kepala orang. Tak lama kemudian di lokasi yang berdekatan, rekan-rekan Bandi juga menemukan tulang belulang, yakni tulang kaki dan tangan manusia. Ditemukan pula sepotong benda kayak gigi.

Sebagian pekerja melaporkan penemuan itu kepada kepala proyek yang diteruskan ke polisi.

“Sebenarnya pada tahun 1972 juga telah ditemukan puluhan tengkorak manusia di Jalan Kopi 2A,” kata Sejarahwan Betawi, Alwi Shahab saat ditemui di rumahnya.

Foto: Dehan

Diceritakan oleh Alwi, saat itu beberapa penggali lobang fondasi dari rencana pembangunan sebuah toko bertingkat dijalan Kopi 2A di daerah Kota, Jakarta, menemukan beberapa tengkorak. Tak ayal lagi Dinas Museum & Sejarah DKI Jakarta serta Lembaga Purbakala & Peninggalan Nasional segera datang. Dan ternyata hasil-hasilnya memang menarik. Penggalian pada Desember 2010 itu berhasil memperoleh 83 tengkorak manusia, serta tulang-tulang tubuh lainnya.

Yang menarik untuk dicatat pada 10 lobang penggalian yang memendam tengkorak atau rangka di Jakarta Kota ini terdapat pula rantai-rantai besi, borgol, uang logam serta benda-benda keramik China. Sebagian rangka dalam keadaan tertekuk – kepala bertemu kaki sedang yang lain banyak tertusuk paku sehingga memberi kesan disalib. Diduga tengkorak-tengkorak itu berasal ketika terjadi peristiwa pembantaian orang-orang China di Batavia tahun 1740.

Alwi mengkisahkan Sejak Jan Pieters Zoon Coen menjadi Gubernur Jenderal dan merebut Batavia, ia mengimbau agar orang-orang China membangun kota sendiri.

Maka ada 8000 orang China yang bermukim di sini, dan di antara mereka ada yang diberi pimpinan atau kepala sendiri yang diberi pangkat kapten, Kapitein der Chineze atau Kapten Orang-orang China. Gubernur Jendral setelah Jan Pieters Zoon Coen juga memberi kesempatan luas bagi kiprah orang-orang China.

Sejarahwan Betawi Alwi Shahab. Foto: Dehan

Di masa Jacques Specx, orang Cina sangat puas atas penerimaan VOC, sehingga ketika akan mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur Jenderal VOC, masyarakat Cina menganugerahinya medali emas.

“Sebagai tanda terima kasih dan kenangan selalu. Kami warga China Batavia membuat medali ini untuk Jacques Specx, Gubernur Jenderal di Hindia Timur tokoh terkemuka dan pelindung kami,” demikian tulisan yang terdapat dalam medali emas tersebut.

Namun peningkatan jumlah penduduk China membuat khawatir para pembesar VOC lainnya. Mereka melihat diantara orang-orang yang pendatang itu, tidak semuanya jago dagang dan berkebun, tapi ada di antara mereka yang menganggur.

“Tak heran bila kemudian bermunculan kasus pencurian, perampokan, dan pembunuhan. Para penganggur ini tidak hanya menyerang warga pribumi tetapi juga warga Belanda,” tambah Alwi.

Pimpinan VOC kemudian membuat aturan yang membatasi kedatangan orang-orang China di Batavia. Pada abad ke-17, diperkirakan ada 4000 orang China di batavia. Akan tetapi orang China menggunakan segala macam cara untuk lolos dari aturan tersebut, ada yang menyogok pegawai VOC ada pula yang membuat kekacauan.

VOC lalu membuat aturan untuk menangkap orang-orang China yang tidak mempunyai pekerjaan atau mata pencaharian, baik yang sudah memiliki ijin menetap apalagi yang tidak mempunyai surat tersebut. Kondisi panas tersebut menyebabkan terjadinya saling curiga antara orang-orang Cina dan Kompeni Belanda.

Ada kabar yang menyatakan bahwa orang-orang China yang ditahan dikirim sebagai budak ke Ceylon (Srilangka). Desas-desus itu menyebutkan mereka dipekerjakan sebagai pengupas kulit kayu manis dan banyak yang mati sehingga dibuang ke laut oleh VOC.

“ Warga China lantas membentuk kelompok-kelompok atau laskar yang terdiri dari 50-100 orang. kabar lain menyebutkan bahwa orang China sudah bersatu untuk menyerbu VOC,” katanya. (Dehan)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close