Trending

Rahasia karir moncer Jenderal Dudung terungkap, ternyata ada peran…

Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman bercerita bagaimana dia bisa dengan berani memukul mundur para pendemo hingga menekuk kekuatan-kekuatan yang berniat membuat ricuh ibu kota.

Hal itu juga berlaku ketika Jenderal Dudung dengan berani menurunkan baliho-baliho Habib Rizieq Shihab ketika eks pentolan FPI itu kembali ke Indonesia. Saat itu dia menjabat sebagai Pangdam Jaya. Menurut dia, ada satu hal yang tertanam dalam di benaknya.

Yakni, ciri pemimpin yang baik itu adalah orang yang berani ambil keputusan. Apalagi jika keputusan itu adalah benar-benar bagus bagi kepentingan banyak orang.

“Saya dari pertama kali menjabat harus ada getarannya, ada pengaruhnya. Jangan landai-landai saja, saya enggak mau,” kata Dudung dalam wawancara dengan Pemred Kompas Wisnu Nugroho, dikutip Hops.id, Kamis 25 November 2021.

Dari sanalah kemudian karirnya moncer, yakni karena adanya peran keberaniannya menangkal perusuh ibu kota. Dia juga selama ini dikenal tegas, dan berani mengambil keputusan. Apalagi jika itu menyangkut merah putih. Katanya jiwanya selalu bergejolak berupaya untuk melakukan yang terbaik.

Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman
Jenderal Dudung Abdurachman. Foto Instagram @dudung_abdurachman

“Apa pun yang perlu saya perbuat demi NKRI akan saya perbuat. Apalagi Jakarta itu barometer, kalau Jakarta aman, maka semua wilayah lain akan aman. Berkaca dari kasus 98, jika Jakarta goyang, maka semua wilayah akan goyang semua,” katanya.

Jenderal Dudung nekat copoti baliho HRS

Sewaktu menjadi Pangdam, Jenderal Dudung juga dikenal orang yang berhadapan paling depan dengan Habib Rizieq Shihab. Dia bahkan memerintahkan pada anak buahnya untuk mencopoti seluruh baliho HRS di seantero negeri.

Di kepalanya cuma satu, dia tak ingin benih permusuhan muncul. “Kita perlu ketegasan. Dan ketika saya lihat info sebelum-sebelumnya memang perlu ada ketegasan yang hakiki,” katanya.

Menurutnya, berkaca pada tauladan Nabi Muhammad yang menyebut orang yang tak berani ambil risiko adalah orang yang merugi, jiwanya terpanggil. Kata Jenderal Dudung, berkaitan dengan apapun termasuk HRS, dia tak sama sekali takut dengan pencopotan.

Terpenting adalah kepentingan negara di atas lainnya. Dan dia tak mau bermain-main. “Hidup itu mengandung risiko, tapi kalo hati nurani kuat risiko akan kecil,” katanya.

Dia lantas bercerita soal pengalamannya saat mengamankan Istana Negara dari kepungan mahasiswa. Dari sana, namanya kemudian dikenal. Dudung ketika itu ternyata berhasil memukul mundur mahasiswa, meski sempat menjadi imam salat berjamaah para pendemo.

“Mereka memaksakan kehendak. Saya bilang kalau kalian memaksakan kehendak kalian akan berhadapan dengan saya. Itu saya katakan kepada pimpinan demonya. Ya saya pegang pistol saya saja. Saya enggak akan nembak, cuma saya takut-takutin biar dia tahu saya tidak takut sama mereka.”

KASAD Jenderal Dudung Abdurachman. Foto: Tangkapan Layar YouTube
KASAD Jenderal Dudung Abdurachman. Foto: Tangkapan Layar YouTube

“Oke kalau begitu berhadapan sama saya. Saat itu azan berkumandang. ‘Ya pak bagaimana pak, ini azan berkumandang pak. Bagaimana kalau kita salat berjemaah’,” kata Dudung menirukan ucapan pemimpin demo.

Dudung lalu mengamini. Dia juga ikut mengaminkan ketika dirinya diminta untuk memimpin salat. Dudung yakin tak mungkin ada yang berani macam-macam. Adapun ketika itu, mahasiswa menuntut pembatalan pengesahan Omnibus Law dan berencana menduduki Istana. Dan aksi Dudung memimpin salat kemudian menjadi viral usai fotonya tersebar luas di jagat maya.

“Saya pimpin salat, setelah pimpin salat, selesai kami kan bawa selebaran. Ada brosur semacam pamflet. Waktu itu saya dikasih Pak Luhut Pandjaitan. Kita jelaskan ke mahasiswa, ini lho Omnibus Law seperti ini. Kenyataan yang sebenarnya. Jadi jangan mendengarkan sepihak,” kata dia.

Dari sana mereka akhirnya mengerti dan meminta untuk dikawal sampai pulang. “Akhirnya mereka pulang dikawal TNI dan Polri. Enggak jadi itu duduk di Istana,” kata Jenderal Dudung.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close