Fit

Rambut rontok parah bisa jadi gejala baru covid-19

Corona Covid-19 hingga kini masih menjadi perhatian serius pemerintah di seleuruh dunia. Setelah berlangsung setengah tahun, vaksin virus masih di kerjakan oleh berbagai negara.

Yang belakangan digaungkan adalah waspada terhadap beberapa gejala untuk menghindari penularannya. Gejala ringan seperti demam, menggigil, kehilangan rasa dan bau, serta batuk kering dan sesak napas adalah gejala utama corona yang harus diwaspadai.

Baca juga: Tanda aneh di kaki ini gejala Covid-19?

Namun baru-baru ini berbagai gejala ‘unik’ yang terkait dengan corona muncul, yang terbaru adalah kerontokan rambut. Meski belum lembaga kesehatan Amerika CDC belum mengidentifikasi hal itu namun, laman USA Today melaporkan bahwa rambut rontok bisa jadi geja aCovid-19.

Dilansir laman Eat This Not That, survei dilakukan pada sedikitnya 1.100 orang di grup Facebook Survivor Corps. Lebih dari 27 persen pasien Covid-19 dilaporkan mengalami kerontokan rambut.

Dr Michele S. Green, dokter kulit di Lenox Hill Hospital di New York City, mengatakan bahwa ia telah mengalami gelombang masuknya pasien yang datang mencari perawatan rambut rontok sejak pandemi dimulai.

Alat pemeriksaan cepat (rapid test) COVID-19. Foto: Antara
Alat pemeriksaan cepat (rapid test) COVID-19. Foto: Antara

“Pasien benar-benar datang dengan kantong penuh rambut. Mereka semua memiliki cerita yang sama. Bahwa mereka sangat sakit dengan demam tinggi dan tidak pernah seburuk itu sepanjang hidup mereka,” ujarnya.

Juli Fisher, seorang perawat perjalanan yang tertular virus ketika merawat pasien Covid-19 mengatakan bahwa beberapa minggu didiagnosis, ia mengalami kerontokan rambut yang parah.

“Aku mulai memperhatikan helaian rambut rontok ketika mandi. Awalnya, kupikir karena sampo yang murah, ternyata semakin hari rambut semakin banyak yang rontok,” ujarnya.

Para ahli mengatakan bahwa covid-19 secara tidak langsung dapat menyebabkan kerontokan rambut. Hal itu terjadi karena respons stres kala tubuh berusaha memerangi virus.

Kondisi ini disebut sebagai Telogen effluvium, yang sering dipicu oleh trauma fisik utama, stres, dan infeksi parah, misalnya.

“Ada tiga siklus umum dalam siklus hidup rambut. Hingga 90 persen setiap saat tumbuh, 5 persen adalah dalam fase istirahat, dan hingga 10 persen rontok. Ketika Anda memiliki peristiwa stres atau syok besar, hingga 50 persen rambut itu patut dicurigai,” ujar Sara Hogan MD, seorang instruktur klinis ilmu kesehatan di Fakultas Kedokteran David Geffen di UCLA.

Ia menambahkan bahwa 50 persen rambut rontok itu merupakan hal yang serius. Sama halnya dengan pasien kanker. Itu bisa disandingkan dengan gejala penyakit tertentu.

“Itu biasanya bersifat sementara dan hanya berlangsung selama empat hingga enam bulan. Pasca pemulihan semua akan kembali seperti semula.”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close