Unik

Unik! Ditengah pandemi COVID-19, Rani si sapi kecil berhasil curi perhatian

Rani si sapi kecil.

India merupakan salah satu negara dengan angka kasus COVID-19 tertinggi di dunia. Semua transportasi umum sementara diberhentikan dan diberlakukannya lockdown untuk menghentikan infeksi virus corona.

Meskipun sedang lockdwon, bukan suatu halangan bagi masyarakat Bangladesh untuk mengunjungi salah satu peternakan yang menarik perhatian. Lebih dari 15.000 orang telah berkunjung ke peternakan di Changiram dekat ibu kota Dhaka tersebut.

Sapi Bhutti atau Bhutan bernama Rani, merupakan sapi yang berusia 23 bulan dengan tinggi hanya 51 cm dan berat 28 kg. Hal ini menjadi sorotan warga karena ukuran badan dan tingginya terbilang tidak umum seperti sapi lainnya.

Rani si Sapi Kecil dari Bangladesh. Foto: PikiranRakyat
Rani si Sapi Kecil dari Bangladesh. Foto: PikiranRakyat

Manajer peternakan, Hasan Howladar, mendaftarkan Rani ke Guinness World Records dengan sebutan ‘sapi terkecil di dunia’.

Saat ini, sapi yang meraih gelar sapi terkecil di dunia dipegang oleh Manikyam, di negara tetangga India yang tinggi badannya 61,1 sentimeter dari tapak sampai ke tengkuk.

Namun, Howladar mengatakan, jika Rani panjangnya 10 sentimeter lebih pendek dari sapi terkecil yang tercatat di Guinness World Records.

Untuk mengukur Rani, Howladar menggunakan pita dan menunjukan kepada pengunjung bahwa ukurannya lebih kecil dari Manikyam.

Memiliki postur tubuh yang kerdil, membuat Rani kesulitan berjalan dan takut dengan sapi lain. Dilansir dari BBC BangladeshHowladar mengatakan bahwa Rani memiliki kesulitan berjalan, jadi Rani dipisahkan dari kawanan lainnya.

Rani si Sapi Kecil dari Bangladesh. Foto: Kompas
Rani si Sapi Kecil dari Bangladesh. Foto: Kompas

“Dia tidak makan banyak. Dia makan sedikit dedak dan jerami dua kali sehari,” ujar Howladar.

“Dia suka berkeliaran di luar dan tampak bahagia saat kami menggendongnya,” tambahnya.

Mengetahui viralnya Rani di Bangladesh, kepala dokter pemerintahan hewan di wilayah tersebut, Sajedul Islam mengatakan bahwa Rani merupakan hasil perkawinan sejarah genetik yang tidak mungkin menjadi lebih besar.

Sajedul juga meminta kepada pihak peternakan untuk membatasi masuknya pengunjung agar kesehatan Rani tetap terjaga dengan baik.

“Saya mengatakan pada mereka bahwa mereka tidak boleh membiarkan banyak orang memadati pertanian. Mereka mungkin membawa penyakit di sini yang bisa mengancam kesehatan Rani,” ungkap Sajed.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close