Fit

Selalu sugesti merasa demam, batuk dan sesak napas, dokter: itu reaksi psikosomatik wabah corona

Wabah corona kian mengganas di Indonesia, hingga kini pasien positif terinfeksi virus corona bertambah menjadi 579 orang sementara korban yang meninggal pun bertambah menjadi 49 orang. Hal ini kerap menimbulkan kekhawatiran bagi setiap orang, sehingga sering merasakan gejala corona COVID-19, padahal suhu tubuhnya normal. Seorang spesialis jantung mengatakan hal itu reaksi psikosomatik wabah corona dan normal dialami saat wabah penyakit.

Spesialis Jantung dr. Andri,SpKJ,FACLP lewat twitternya @mbahndi mengatakan reaksi psikosomatik wabah corona wajar terjadi pada setiap orang.

Baca juga: Viral, orangtuanya meninggal sekaligus karena corona wanita ini kubur ibunya tanpa pelayat, peti jenazahnya dibungkus plastik

“Masa saat ini ketika kita membaca berita atau cerita tentang gejala virus #corona atau #COVID19 dan tiba2 kita merasa tenggorokan kita agak gatal, nyeri dan merasa agak sedikit meriang walaupun suhu tubuh normal. ITU WAJAR.Reaksi psikosomatik tubuh saat ini memang terasa,” tulisnya lewat akun twitternya.

Lebih lanjut, dr Andri menjelaskan bahwa salah satu yg membuat reaksi ini bisa timbul adalah rasa cemas berlebihan.

Salah satu yg membuat reaksi ini bisa timbul adalah KECEMASAN kita yang dipicu oleh berita-berita yang terus menerus terkait #COVID19 ini.

“Amygdala atau pusat rasa cemas sekaligus memori kita jd terlalu aktif bekerja, akhirnya kadang dia tidak sanggup mengatasi kerja berat itu, amygdala yg bekerja berlebihan ini juga mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan, kita jd selalu dalam kondisi FIGHT or FLIGHT atau siaga terus menerus. Ketidakseimbangan ini yg membuat gejala psikosomatik muncul sbg suatu reaksi untuk siap siaga menghadapi ancaman,” ujarnya.

Dilansir laman Healthline, reaksi psikosomatik adalah kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik.

Flu
Flu Photo: Pixabay

Gangguan psikosomatik tak hanya menyerang orang dewasa melainkan jugua anak-anak. Penyebab utama gangguan ini pada anak berawal dari sikap dan hubungan orang tua dengan anak. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental keluarga memungkinkan anak-anak bisa mengalami gangguan psikosomatik.

Gejala yang dialami pada umumnya sebagai penyakit atau keluhan fisik yang disebabkan maupun diperburuk oleh pengaruh faktor mental pada diri seseorang. Psikosomatik biasanya berawal dari masalah psikologis, seperti takut, stres, depresi, atau cemas.

Faktor mental atau psikologis itulah yang memicu munculnya beragam gejala fisik, seperti sakit perut atau nyeri ulu hati, sakit punggung belakang, sakit gigi, sakit kepala dan migrain.

Beberapa kasus lainnya terjadi bernapas dengan cepat, jantung berdebar, gemetar (tremor), berkeringat hingga dalam kondisi wabah seperti ini gejala yang timbul bisa menyeruai geja;a corona seperti batuk hingga demam.

Gejala-gejala fisik ini timbul akibat adanya peningkatan aktivitas impuls atau rangsangan saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Selain itu, pelepasan adrenalin (epinefrin) ke dalam dalam pembuluh darah yang sering muncul saat kita gelisah.

Hal itu juga diungkapkan dr Andri, karena itu penting sekali untuk tetap tenang dan waspada dalam menghadapi wabah corona seperti sekarang ini. Salah satu cara untuk mengurangi gejala psikosomatik di tengah wabah corona adalah dengan membatasi informasi terkait COVID-19.

“Salah satu cara kita untuk mengurangi gejala psikosomatik akibat amygdala kita yg terlalu aktif ini adalah mengurangi dan membatasi informasi terkait dgn #COVID19 ini. Lakukan hal lain selain browsing, lakukan hobi yg menyenangkan & sebarkan optimisme kita bisa lewati semua ini,” tulisnya.

Untuk mengikuti perkembangan kasus corona tanpa takut hoax dan khawatir berlebihan. Bisa di lihat lewat tautan ini.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close