News

Refly Harun ‘bongkar’ di balik survei Prabowo jadi menteri paling memuaskan

Baru-baru ini survei menyebut Prabowo Subianto sukses menorehkan kinerja positif. Dalam survei yang dirilis Lembaga Arus Survei Indonesia ini, Prabowo disebut-sebut bertengger di posisi teratas sebagai menteri paling memuaskan.

Dia mengantongi raihan 43,7 persen, di mana masyarakat mengaku puas atas kinerja Prabowo selaku Menteri Pertahanan.

Baca Juga: Survei buktikan PDIP masih jadi partai idola rakyat hingga kini

Survei dilakukan pada 9-12 Juni 2020, dengan melibatkan 1.000 responden di 34 provinsi di Indonesia. Di mana survei menggunakan metode telesurvei.

“Di posisi kedua, ada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan raihan 38 persen, dan ketiga Menkopolhukam Mahfud MD 37,9 persen,” kata Direktur Eksekutif ASI Ali Rifan, dalam saluran Youtube, 19 Juni 2020 lalu.

Terkait hal ini, pakar hukum tata negara Refly Harun angkat suara. Menurutnya, survei Prabowo sebagai menteri paling memuaskan seolah membenarkan sinyalemen kalau orang nomor satu Gerindra itu memang layak diajukan dalam kontestasi politik di 2024.

Padahal, jika menghitung jumlah berapa kali dia bertarung, dan berkenaan dengan usianya, tidak memiliki korelasi.

Tertolong popularitas

Menurut Refly Harun, survei yang menyebut kalau Prabowo sebagai menteri paling memuaskan sejatinya tentu ada kaitannya dengan popularitas yang dia sandang. Hal ini sejalan dengan nama-nama menteri populer di tingkatan atas.

Prabowo Subianto saat aktif di militer
Prabowo Subianto saat aktif di militer. Foto Instagram @prabowofanskeren

Hal ini pula yang sempat terjadi sewaktu kabinet Jokowi di periode satu. Kata Refly, nama mantan menteri kelautan Susi Pujiastuti selalu berada di posisi teratas paling populer, dan Menteri Pendidikan Anies Baswedan (kala itu) selalu berada di posisi kedua survei.

“Jadi memang popularitas itu berpengaruh pada tingkat kepuasan masyarakat. Dan jangan lupa, tingkat kepuasan itu belum tentu menggambarkan tingkat kinerja yang sesungguhnya,” kata Refly Harun di saluran Youtube-nya, disitat Minggu 28 Juni 2020.

“Karena kalau kinerja sesungguhnya kan harus ada ukuran-ukuran yang baik dan bisa dipertanggung jawabkan. Kalau ini kan baru persepsi,” kata dia lagi.

Ambisi politik

Ada hal lain yang menarik perhatiannya berkaitan dengan survei tersebut. Kata Refly Harun, bisa jadi tingkat kepuasan ini adalah merupakan kampanye, bahwa Prabowo memang mempersiapkan diri untuk maju kembali sebagai calon presiden di 2024.

“Mungkin yang dipersiapkan adalah kinerja sebagai Menhan yang baik, sebagai modal, kemudian kesehatan yang baik juga, tentu diharapkan surveinya akan tinggi pada 2024,” katanya.

Dia pun kemudian menggambarkan jika keinginan Prabowo menjadi Capres di 2024 bukan bualan semata. Sebab, katanya, ambisi politik itu pada dasarnya tidak mengenal usia.

“Saat saya berbincang dengan Rizal Ramli dia bilang banyak juga tokoh-tokoh di luar yang sudah berusia. Sebagai contoh, Donald Trump misalnya 74 tahun tahun ini, Ronald Reagan kemudian waktu terpilih juga 70 tahunan usianya.”

“Kemudian Mahathir Muhammad yang lebih gila lagi 90 tahun. Jadi yang namanya ambisi itu memang unlimited.”

“Begitu juga ketua umum partai politik. Awalnya kita tahu kan, Partai Nasdem misalnya, bukan Surya Paloh awalnya. Namun tiba-tiba, Surya Paloh dari dewan Pembina tiba-tiba turun menjadi ketua umum. Gerindra, bukan Prabowo, tetapi turun sebagai ketua umum. Megawati tidak tergantikan sebagai ketua umum. Nah ini menunjukkan sebenarnya, bahwa lifetime di politik itu makin panjang. Dan ambisi itu unlimited,” katanya panjang.

Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun. Foto: Dok Antara.
Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun. Foto: Dok Antara.

Dia kemudian turut menyebut nama Amien Rais yang di usianya yang sudah tua masih tetap berambisi membangun partai politik baru. Walaupun belakangan mengklaim tak akan menjadi ketua umumnya, tetapi setidaknya menggambarkan kalau usia tua tidak menjamin bagi manusia untuk istirahat. Melainkan bisa saja meneruskan hasrat politiknya yang unlimited.

Atas hal ini, Refly Harun kemudian menduga, tahun 2024 gelanggang politik Indonesia akan kembali diisi pula ‘jago-jago tua’, selain generasi muda seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil.

“Dan yang penting adalah, politik harus terbuka, buanglah presidential threshold itu. Jadikan dia nol, sehingga semua orang punya kesempatan untuk berkompetisi. Tentu semua orang yang mempunyai syarat, ketentuan,” katanya.

“Bukan me-lock kandidasi, jadi cuma dua saja, karena partai politik sudah dibeli oleh kartel, dan cukong politik. Sehingga kartel besar usung satu calon, dan kartel kecil usung satu calon. Dan itu bukan calon-calon terbaik misalnya.”

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close