Trending

Ribut film Tilik, Albert Einstein sampai dibawa-bawa

Film Tilik dalam waktu cepat viral dan banyak ditonton oleh masyarakat. Sebagian memuji film dokumenter ini, yang mana memopulerkan tokoh Bu Tejo diperankan oleh Siti Fauziah Saekhuni. Selain puja puji, film ini dikritik oleh fenimis lho. Perdebatan dan ribut film Tilik, Albert Einstein sampai dibawa-bawa segala.

Kritikan feminis pada film Tilik ini yakni misoginis, patriarkis, stigmatisasi pada perempuan serta tidak ada nilai feminisme di dalamnya.

Baca juga: Sidang, hakim dan jaksa ngakak dengar jawaban Rangga Sunda Empire

Kritikan feminis pada film ini memicu perdebatan dan emosi sebagian warganet. Sebab warganet yang awam merasa kaum feminis dianggap ribet memaknai film Tilik yang sudah ditonton 10 juta pemirsa tersebut. Bagaimana sih perdebatan kritik film Tilik tersebut?

Stigmatisasi perempuan

Adegan film pendek Tilik. Foto: YouTube Ravacana Films

Mereka yang mengkritik film Tilik yakni kalangan akademisi dan praktisi film. Akun pemprotes yang viral yakni @FaizaMardz, seorang direktur teater dan produser.

Dalam cuitannya akun ini berpandangan filmTilik mencerminkan realitas Indonesia yang patriarki, misoginis dan stereotip dan stigmatisasi pada perempuan. Akun ini tegas film Tilik dibuat dengan menggunakan cara pandang laki-laki. Oleh karena itu, akun ini mengkritisinya.

Pengkritik lainnya adalah seorang feminis dengan nama akun @sihirperempuan. Dia menilai film dokumenter yang sedang viral ini menggambarkan absennya feminisme dalam metode berkarya.

“Saya tidak perlu menambahkan kritik feminis thd film TILIK, yang sudah sgt baik disampaikan teman2. TILIK sebaiknya tidak dilihat sebagai masalah tunggal tapi gejala fenomena yang lebih besar: absennya perspektif feminis dlm metode berkarya, juga dalam medan produksi kebudayaan,” tulis akun tersebut dalam utasannya di Twitter.

Menurut akun feminis ini, absennya perspektif feminis ke area isu perempuan menyebabkan banyak karya problematis dan abai relasi kuasa.

“Problem ideologi gender, kelas, lokasi (pusat menatap pinggir) tak hanya tercermin di level naratif tapi juga laku kamera yg mempenetrasi subyek scr perverse,” tulisnya.

Utasan kritik akun tersebut menjadi masalah, sebab dianggap ribet oleh sebagian warganet yang bingung dengan bahasa kritikan yang disampaikan, tidak bisa dipahami kalangan awam. Warganet mengomentari kritikan @sihirperempuan dengan sebutan bahasanya terlalu tinggi alias ndakik.

“Mbak kalau mau membicarakan hal2 yg hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan intelek seperti kalian mending bikin forum saja. Bahasa yg mbak sampaikan di dalam thread terlalu tinggi untuk dikonsumsi oleh masyarakat Twitter. Jadinya malah kelihatan ndakik. Berharap semua bakal paham?” balas akun @afrkml.

Bawa-bawa Albert Einstein

Sosok Albert Einstein. Foto: m.sayfamous.com
Sosok Albert Einstein. Foto: m.sayfamous.com

Perdebatan atas kritik film Tilik itu kemudian membawa-bawa nama ilmuwan Albert Einstein. Tapi ini cuma sindiran bagi mereka yang protes atas kritik kaum feminisme tersebut.

Sebuah akun, @Yabsarpote menuliskan satire soal perdebatan itu dengan analogi Albert Einstein.

“Einstein menjelaskan teori relativitas. Sebagian netizen Indon: “Ada yg paham? Ngomong apa sih lu, anjir!” “Coli intelektual.” “Coba bahasanya ga usah ndakik2, su!” “Sini biar saya sederhanakan!” tulis akun tersebut.

Baca juga: Sri Mulyani sudah oke! Mulai kapan PNS dapat pulsa gratis Rp200 ribu per bulan?

Dalam utasannya, akun ini menyindir sebagian warganet yang mengkritik para peminis atas film Tilik tersebut. Nada utasannya terkesan membela sikap feminis yang mencoba ingin memberikan edukasi sudut pandang lain dalam memandang sebuah karya.

“Hasil puluhan tahun kebobrokan pendidikan formal di Indon. Puluhan tahun mata pelajaran apresiasi karya (boro-boro kritik karya) absen di Indon. Puluhan tahun pendidikan lewat sinetron klise dan infotainment. Puluhan tahun sistem sensor dan pelarangan karya,” kata akun tersebut.

Namun utasan akun @Yabsarpote ini pun dikomentari warganet, bahwa kritikan atas film Tilik kenapa tak disampaikan dengan bahasa yang sederhana biar orang laian tahu dan paham maksud yang disampaikan.

“Bro apapun kompleksitas bahasannya, yo harus disesuaikan dengan audience nya. Dikira pada sarjana semua masyarakat Indonesia,” balas akun @aquaeror.

Akun ini mengatakan dia sengaja menyindir tabiat warganet Indonesia, kalau merasa tidak paham dengan materi kritikan ya tanya baik-baik dong kepada pengkritiknya. Jangan kemudian menjelek-jelekkan pengkritik atau pokok bahasannya.

“Poin saya: Kalau ada hal yg ga kamu pahami, kamu ngapain? Nanya, cari tahu, menyimak lagi, atau ngata2in pemateri/pokok bahasannya?
Ketidakpahaman itu bisa terjadi kapanpun, sementara ngata2in pemateri/pokok bahasan ga akan menambah pengetahuanmu,”
balas akun @Yabsarpote membalas akun @aquaeror.

Nah kamu pilih yang mana Hopers, ada yang memuji dan mengkritik? Semoga semuanya saling belajar dari film Tilik ini ya Hopers.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close