Trending

Ribut-ribut kasus Puan, Sujiwo Tejo: Sorry, emang Pancasila ada?

Perkataan Ketua Bidang Politik dan Keamanan PDIP, Puan Maharani mengenai ‘Sumatera Barat atau Sumbar harus mendukung negara Pancasila’ menuai sejumlah respon. Tak sedikit yang berpendapat, Puan telah melukai hati masyarakat setempat yang sejatinya telah menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.

Berkenaan dengan hal itu, budayawan Sujiwo Tejo merasa, apa yang diributkan masyarakat Indonesia terkait perkataan Puan mengenai Pancasila sama sekali tak esensial. Sebab, buat apa memperdebatkan sesuatu yang abstrak—yang keberadaannya hingga kini masih dipertanyakan.

Baca juga: Ade Armando benarkan Sumbar tak pancasilais, bela Puan Maharani?

Pada diskusi yang digelar Indonesia Lawyers Club atau ILC tvONE semalam, Selasa 8 September 2020, Sujiwo Tejo menilai, saat ini Pancasila hanya dibaca dan dihafalkan masyarakat tanpa dipahami maknanya. Itulah mengapa, perilaku pancasilais jarang terlihat di lingkungan umum ataupun pemerintahan.

Sorry to say, sebenarnya Pancasila itu ada atau enggak, sih? Kalau ada, dasar Pancasila adalah Bhineka Tunggal Ika. Berarti bukan hanya mengakui daya, kaharingan, suku-suku, dan provinsi-provinsi, tetapi Bhineka Tunggal Ika juga mengaku berbagai cara untuk mendekati rakyat,” ujar Sujiwo dengan nada tinggi.

“Kalau Pancasila ada, mengapa UMKM itu susah dapat kredit? Mana Pancasila-nya?” sambungnya.

Sujiwo Tejo. Foto: Youtube ILC

Sujiwo menambahkan, sikap ‘gontok-gontokan’ atau saling menyalahkan yang acap terjadi di lingkungan masyarakat, sebenarnya bukti Pancasila tidak ada. Sebab, seandainya paham tersebut ada, maka pertikaian akibat perbedaan pendapat tak akan terjadi. Semua orang bakal mengutamakan toleransi dan perilaku welas asih.

“Lho, kalau kita memang pancasilais, setiap lihat orang pakai celana cingkrang, hargai, karena itu penalaran dari mereka. Asalkan, mereka tidak memaksa kita. Tapi yang kita lihat saat ini, malah dimaki-maki di media sosial dan pemerintah membiarkan hal itu terjadi. Berarti Pancasila sebenarnya tidak ada,” terangnya.

Merujuk pada hal itu, Sujiwo menduga, agaknya bukan Sumbar saja yang ke-Pancasila-annya patut dipertanyakan, melainkan seluruh suku dan provinsi yang ada di Indonesia.

“Sebenarnya pertanyaan untuk Mbak Puan itu bukan ‘apakah masyarakat Sumbar mendukung Pancasila?’, tapi menurutku ‘apakah seluruh provinsi sudah betul-betul mendukung Pancasila?’ Karena ini pertanyaan untuk seluruh suku dan provinsi,” kata dia.

Puan sempat dihujani kritik

Sebelumnya, Anggota DPD RI asal Sumbar, Alirman Sori mengaku kecewa dengan perkataan Puan. Sebab, kata dia, Pancasila sejatinya sudah final. Sehingga, tak perlu lagi dipertanyakan, apalagi sampai disangkutkan dengan daerah.

“Malah saya balik bertanya apa dasarnya Puan Maharani menyebut semoga Sumbar menjadi pendukung Pancasila? Puan mesti jelaskan,” tuntut Sori.

Puan Maharani hadir di Istana pakai tekuluk bai bai dari Jambi. Foto: Antara
Puan Maharani hadir di Istana pakai tekuluk bai bai dari Jambi. Foto: Antara

Sementara, disitat dari DW, Anggota DPR RI Komisi II dari daerah pemilihan (dapil) Sumbar II, Guspardi Gaus merasa tak terima dan mengimbau Puan meminta maaf terkait pernyataan tersebut.

“Jadi saya merasa prihatin kecewa terhadap statement yang disampaikan Ibu Puan Maharani yang notebene-nya beliau adalah pejabat negara. Tidak hanya pejabat negara, tapi juga Ketua DPR RI dan petinggi partai,” kata Guspardi.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close