Unik

Richard Dawkins: Tuhan hampir pasti tidak ada

Peneliti sekaligus ahli etologi ternama asal Inggris, Richard Dawkins, menyebut Tuhan sejatinya tak pernah ada. Kata dia, sosok yang diyakini manusia sebagai Tuhan, sebenarnya hanya delusi yang hidup di kepala mereka.

Melalui buku yang berjudul The God Delusion, Dawkins menentang kaum kreasionis yang menyebut Tuhan merupakan sosok di balik terciptanya bumi dan alam semesta. Padahal menurutnya, Tuhan yang digambarkan agama terlalu ‘lemah’. Dia, kata Dawkins, memiliki sifat layaknya manusia biasa yang bisa marah, sedih, dan bahagia.

Baca juga: Mozaik Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia ditutupi dengan teknologi khusus

“Misalnya Tuhan di Kristen Perjanjian lama, mungkin dia sosok yang paling tidak menyenangkan. Sebab, dia pencemburu, angkuh, dan tidak pemaaf. Tapi (sayangnya), sebagian anak dipaksa menerima sifatNya yang seperti itu,” tulisnya di buku tersebut, dikutip Jumat 24 Juli 2020.

Richard Dawkins. Foto: The Times

Lebih jauh, Richard mengatakan, banyak kaum beragama yang kerap melibatkan Tuhan untuk menjelaskan sesuatu yang rumit. Misalnya, mengapa tanaman bisa tumbuh, mengapa bumi bisa berputar, dan mengapa planet bisa bergerak teratur tanpa terjadi tabrakan. Mereka mengatakan ‘semua itu kuasa Tuhan’ karena mereka tak paham sains.

“Argumen desain (pendapat yang menyebut segala sesuatu ada karena Tuhan) merupakan argumen paling populer untuk mendukung keberadaan Tuhan. Bagi kaum Theis (beragama), argumen itu dinilai sangat meyakinkan. Padahal jika dijabarkan lagi, itu nyaris membuktikan Tuhan tidak ada,” terang Dawkins.

Selain mengkritisi pihak-pihak yang percaya Tuhan, pria yang diketahui mengagumi Charles Darwin itu menyebut, agama sejatinya hanya omong kosong belaka. Alih-alih mendamaikan, kata dia, agama justru sering menyebabkan terjadinya perpecahan kelompok.

“Penganut agama tidak mempertanyakan apa yang mereka anut. Jika itu (ajarannya) diyakini bagian dari agama, maka orang lain dituntut menghargainya tanpa bertanya. Hingga akhirnya termanifestasi dalam bentuk pengorbanan horor seperti penghancuran gedung World Trade Center, pemboman London, atau pemboman Madrid,” katanya.

“Tidak mengherankan, karena agama muncul berdasarkan tradisi lokal berupa wahyu privat daripada bukti, sehingga hipotesis Tuhan juga jadi beranekaragam,” tambah Dawkins.

Bisakah sains dan agama sejalan?

Secara tak langsung, Dawkins mengungkapkan, sains merupakan ilmu yang menjabarkan suatu hal berdasarkan riset dan bukti. Sedangkan agama hanya mengedepankan iman tanpa rasionalitas. Sehingga, keduanya terlihat berseberangan.

Richard Dawkins. Foto: BBC

Pada salah satu kutipan, Albert Einstein pernah mengatakan: ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh. Namun, agama yang Einstein maksud bukan kelompok penyembah Tuhan, melainkan di luar daripada itu.

“Apa yang kalian baca mengenai agama saya, tentu merupakan kesalahan. Banyak yang salah paham, saya tidak percaya pada Tuhan secara personal. Kalaupun saya beragama, itu merupakan bentuk keterpesonaan tak terbatas pada struktur dunia yang bisa disingkap sains,” terang Einstein masih dikutip dari buku yang sama.

“Itu merupakan kondisi beragama yang berbeda dan tidak ada kaitannya dengan mistisme. Gagasan tentang suatu Tuhan personal sangat asing bagi saya, bahkan sangat naif.” (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close