Trending

Roro Mendut, kisah kecantikan yang membuat petaka

Masih ingatkah dengan kisah Roro Mendut, yang kabarnya sempurna sebagai seorang wanita. Cantik, seksi, sensual, cerdik, pintar berasal dari kampung nelayan di pesisir Kadipaten Pati (Kabupaten Pati sekarang). Namun, kecantikan yang dimilikinya justru membawa petaka. Kisah cintanya dengan Pronocitro berakhir dengan kematian.

Dikutip dari berbagai sumber, kisah cinta Rara Mendut dan Pronocitro terjadi sekitar abad ke-17 atau kurang lebih pada 1600-an, zaman Kesultanan Mataram, di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Roro Mendut, putri Adipati Pragolo, terpaksa hidup dalam kurungan Tumenggung Wiroguno setelah tanah kelahirannya direbut oleh Kerajaan Mataram. Ayahnya tewas dan dirinya menjadi rampasan perang.

4 Pasangan artis dituding kumpul kebo

Wiroguno hendak menjadikan dirinya sebagai selir. Namun Roro Mendut menolak sekuat tenaga. Dia tidak hanya diam dan pasrah dengan nasibnya namun justru sebaliknya, dengan cerdik ia berjuang untuk keluar dan bergaul dengan masyarakat. Apalagi, dia punya seorang kekasih yang amat dicintai namanya Pronocitro.

Poster Film Roro Mendut. Gramedia Film 1982
Poster Film Roro Mendut. Gramedia Film 1982

Karena Roro Mendut tidak mau menjadi selirnya, Wiroguno pun mewajibkan untuk membayar upeti. Roro Mendut menyanggupi, dan berjualan tembakau di pasar. Dengan wajah rupawan, dia menarik banyak pembeli. Dia menjual rokok yang telah diisapnya dengan harga mahal. Kisah ini menandai, tradisi menghisap tembakau , datang dari berbagai kalangan sejak abad 16.

Kecantikan Roro Mendut sangat tersohor sehingga banyak rakyat membicarakan dirinya. Hingga kemudian, Pronocitro menyusulnya. keduanya lalu merencanakan untuk melarikan diri, kembali Pati.

Tentu saja Wiroguno tak terima. Wiroguno kontan murka. Lalu mengirimkan pasukan untuk menangkap mereka berdua. Pada akhirnya, Pronocitro mati di tangan Wiroguno. Roro Mendut yang tak terima kematian kekasihnya merampas keris Wiroguno lalu menikam tubuhnya sendiri. Roro Mendut pun tewas menyusul sang kekasih.

Kisah erotisme Rara Mendut dengan rokoknya dan kisah cintanya itu masih dikenal hingga saat ini. Namun, cerita cinta Roro Mendut dan Pronocitro, yang dikisah dalam salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi (teks Jawa Kuno), sempat dipertanyakan apakah cerita nyata atau sekadar cerita mitos turun temurun.

Namun faktanya, ada sebuah makam yang diyakini sebagai makam Roro Mendut-Pronocitro di Kebon Suwung Dusun Gandu, Desa Sendangtirto, Berbah, Sleman. Dua makam ini terletak di tengah hutan kecil yang berada di tengah desa, terletak di sebelah selatan Jalan Wonosari Km 10, arah jalannya tembus ke Prangwedanan dan Segoroyoso. Makam itu tak terurus, kumuh dan rusak di sana-sini.

Makam itu berada dalam sebuah rumah kecil, yang dalam bahasa Jawa disebut cungkup berukuran sekitar 4 x 5 meter. Kedua nisan makam kini telah ditumpuk menjadi satu sehingga tingginya mencapai 1 meter. Di atasnya ada kelambu dari kain kafan putih.

Makam itu rusak dan tak terurus setelah sejak juru kunci makam meninggal dunia. Kondisinya tak terurus akibat terlanda bencana gempa bumi pada 2006. Meski demikian, makam ini masih saja didatangi para peziarah yang ingin mengalab berkah, terutama di malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon.

Cerita Rakyat Nusantara. Foto: Histori.id
Cerita Rakyat Nusantara. Foto: Histori.id

Dari sekian banyak permintaan, kebanyakan dari para pengalap berkah yang datang ke makam ini adalah mereka yang berprofesi sebagai padagang yang ingin bisnis serta dagangannya diberikan kelancaran.

Menariknya, konon di era tahun 1970-an bagi yang ingin mengalap berkah atau pesugihan, agar proses ritual sempurna, harus melakukan ritual hubungan seks. Dan, hubungan itu dilakukan bukan dengan pasangan sahnya. Serangkaian ritual yang harus dilakukan mulai dari mengitari makam sebelum melakukan hubungan seksual. Sebagai tanda bahwa ritual itu diterima, konon bagi pelakon ritual bakal didatangi oleh sesosok perempuan cantik, dialah Roro Mendut.

Namun seiiring berjalan, masyarakat setempat menolak ritual semacam itu. Karena itulah, makam itu dibiarkan telantar agar tak lagi dikeramatkan. (dehan)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close