News

Salah paham seminar makar UGM, padahal bela Jokowi lho

Isu kebebasan akademik sedang menjadi pembahasan hangat, buntut dari teror dan stigmatisasi seminar Consitutional Law Society Fakultas Hukum UGM. Seminar dengan topik pemberhentian presiden itu distigma sebagai seminar makar. Dan belakangan diyakini ada salah paham seminar makar UGM yang sebenarnya mau bela Jokowi.

Belakangan seminar daring itu dibatalkan Consitutional Law Society Fakultas Hukum UGM karena ada ancaman pembunuhan pada penyelenggara webinar. Webinar sedianya diselenggarakan pada Jumat 29 Mei 2020 siang hari.

Baca juga: Jerinx bilang Siti Fadilah Supari inspirasi, selamatkan Indonesia dan lawan WHO

Isu ini menjadi pembahasan dari pakar hukum tata negara, Refly Harun dan Zainal Arifin Mochtar. Keduanya menjelaskan duduk perkara dari webinar yang banyak membuat salah paham banyak orang, salah satunya dosen Fakultas Teknik UGM, Bagas Pujilaksono. Dosen tersebut memviralkan stigma seminar makar tersebut.

Kebijakan tak bisa jatuhkan presiden

Zainal menjelaskan panitia seminar Consitutional Law Society Fakultas Hukum UGM sejatinya berusaha membantah atau menolak wacana pemberhentian presiden.

Pengamat tata negara tersebut mengatakan dia sudah membaca isi keseluruhan atau TOR dari webinar tersebut. Dalam TOR, terlihat detail bahwa maksud webinar ini adalah membantah wacana pemecatan atau pemberhentian presiden, bukan bermaksud mau makar.

“Saya baca TOR-nya, di sana mahasiswa itu membahasakan bahwa mereka gundah resah dengan isu presiden bisa di-impeach karena penanganan covid-19 yang enggak serius,” jelas Zainal dalam channel Youtube Refly Harun.

Webinar yang dituding gerakkan makar
Webinar yang dituding gerakkan makar. Foto Instagram @clsfhugm

Zainal menjelaskan, para mahasiswa di komunitas tersebut selama ini sering membincangkan isu pemberhentian presiden atau wacana meminta presiden mundur. Namun mahasiswa Consitutional Law Society Fakultas Hukum UGM berpandangan, dalam sistem presidensial di konstitusi, presiden tidak bisa dijatuhkan karena kebijakan.

“Mereka mau mengatakan enggak bisa. Bangunan konstitusional kita tetap mengenal impeachment article kan, pasal khusus pemberhentian presiden. Makanya mereka mau mendiskusikan dan menyebarluaskan itu sebagai pesan kepada publik bahwa berhenti dong bicara pemecatan presiden dong, pemecatan presiden ini tak lazim dalam ketatanegaraan,” jelasnya.

Bela Jokowi

Menurutnya, karena kegusaran itu kelompok mahasiswa itu berupaya menseminarkan. Namun apa daya, maksud mulia tersebut direspons dengan salah paham sampai ada teror dan ancaman pembunuhan.

“Jadi sebenarnya tidak ada maksud (makar). Mereka malah bermaksud membela sebenarnya. Kalau orang bicara apakah ada upaya mau menjatuhkan presiden, mereka membela itu tidak bisa, presiden tak bisa jatuh karena kebijakan. Kalaupun salah penanganan kebijakan tetap tak bisa dijatuhkan, karena untuk jatuhkan harus tetap merujuk pada spesifik impeachment article,” jelas Zainal.

Pasal impeachment yang dimaksud adalah Pasal 7A dan 7B UUD 1945 terbaru. Pasal 7A mengatur presiden dan wakil presiden diberhentikan jika melanggar hukum yaitu berkhianat pada negara, korupsi, penyuapan dan tindak pidana berat lainnya. Sedangkan Pasal 7B mengatur mekanisme pemberhentian presiden atau wakil presiden melalui Mahkamah Konstitusi atas pengajuan DPR dan MPR.

Presiden Jokowi. Foto Instagram @jokowi
Presiden Jokowi. Foto Instagram @jokowi

Zainal menyayangkan akademisi UGM yang tidak detail membaca TOR dan maksud webinar tersebut. Asal melihat judul webinar langsung membuat tulisan provokatif yang menstigma seminar makar di UGM dan kemudian diviralkan.

Teror dan salah paham seminar makar

Dinamika webinar itu jadi perhatian masyarakat. Sebab pelaksanaan seminar daring itu akhirnya dibatalkan.

Awalnya panitia diprotes dengan judul awalnya soal ‘pemecatan presiden di tengah pandemi’, kemudian panitia mengubah judulnya dengan ‘pemberhentian presiden’ saja. Kemudian semalam sebelum pelaksanaan webinar, narasumber webinar itu diteror di rumahnya. Bukan itu saja, narahubung dan moderator webinar itu diteror bahkan diancam keluarganya akan dibunuh.

Setelah melihat situasi yang tak kondusif itu, panitia memutuskan membatalkan webinar tersebut. Bagaimana menurutmu, apakah setuju ada salah paham seminar makar tersebut?

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close