Trending

Beda pendapat, MUI Bogor minta salat 5 waktu tetap di masjid

Imbauan terbaru dirilis Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor. Dalam imbauannya, MUI Bogor menyerukan agar umat Islam tetap salat berjamaah di masjid, kendati wabah virus corona terus menghantui.

Pernyataan itu disampaikan langsung Ketua MUI Kabupaten Bogor, Ahmad Mukri Aji. Kata Ahmad Mukri, kegiatan salat berjamaah di Bogor sendiri dianjurkan tetap digelar di masjid, baik itu salat fardhu lima waktu maupun salat Jumat yang digelar sepekan sekali.

Baca Juga: Gatot serukan tetap salat di masjid, MUI: Soal virus jenderal tak tahu

Walau begitu, kata Ahmad Mukri, para jemaah tetap diminta waspada agar terhindar dari penyebaran virus corona ketika menggelar salat berjamaah di masjid.

“Tetap Salat Jumat dan salat berjamaah lima waktu seperti biasa di masjid disertai dengan kehati-hatian dan kewaspadaan sesuai dengan apa yang telah dianjurkan pemerintah agar terhindar dari penyebaran virus corona,” kata Ketua MUI Kabupaten Bogor Ahmad Mukri Aji, disitat Antara, Sabtu 21 Maret 2020.

Lebih lanjut Ahmad Mukri mengatakan, putusan yang dia serukan untuk tetap salat berjamaah di masjid bukanlah keputusan sendiri. Melainkan, keputusan itu bagian dari hasil musyawarah dengan Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Bogor.

Agar terhindar dari penyebaran virus corona, Ahmad Mukri pun meminta agar umat Islam selalu menjaga kesucian badan dengan air wudhu. Lalu memperbanyak zikir dan berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara.

“Menghindari rasa takut dan panik yang berlebihan terhadap wabah yang berkembang terkait penyebaran virus corona,” kata Mukri.

loading...

Di samping itu, ia mengajak masyarakat membiasakan diri dengan pola hidup sehat. Sebab, dengan daya tahan tubuh yang kuat, dapat meminimalkan penularan infeksi COVID-19.

“Senantiasa menjaga kewaspadaan dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di semua tempat dan kondisi,” katanya.

MUI Pusat: Di rumah saja

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Anwar Abbas sebelumnya menegaskan umat Islam untuk sementara waktu menggelar ibadah salat di rumah saja.

Anjuran salat di rumah pun dikatakan Anwar Abbas bukan berarti menganggap masjid itu sarang penyakit dan apalagi mendorong orang untuk fobia kepadanya.

“Tetapi masalahnya di sini ada orang yang tidak tahu bahwa dia sudah terkena oleh virus tersebut lalu datang juga ke masjid akibatnya orang lain yang belum terkena juga menjadi terkena,” kata Anwar.

Baca Juga: Lagi kerja keras, Istana minta masyarakat jangan kritik negatif dulu

Atas dasar itulah, banyak pihak termasuk pemerintah kemudian menganjurkan kegiatan salat di rumah, termasuk untuk ibadah salat Jumat yang bisa diganti dengan salat Dzuhur. Karena pemerintah tentu tak bakal membiarkan penyebaran virus dapat terus terjadi.

Apalagi, lanjut dia, di dalam Al-Quran, masyarakat diingatkan oleh Allah SWT untuk tidak menjatuhkan dan menyeret diri kita ke dalam kebinasaan.

“Pertanyaannya kebinasaan seperti apa yang akan mungkin bisa terjadi? Dalam masalah perang yang tahu banyak tentang kebiasan yang mungkin terjadi akibat dari suatu perbuatan adalah tentara dan atau jenderalnya. Tapi dalam masalah virus yang tahu akibat buruk yang akan ditimbulkannya adalah dokter dan atau orang yang memang bidang studi dan kajiannya adalah tentang virus,” terangnya.

“Itulah sebabnya MUI belum bisa mengeluarkan fatwanya sebelum mendengar penjelasan dari pihak yang kredibel dan kompeten tentang masalah virus ini. Dan setelah itu dilakukan barulah komisi fatwa mengkaji lebih lanjut dan mengeluarkan fatwanya seperti yang sudah beredar tersebut,” lanjutnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close