Trending

Buka salon pijat plus-plus saat PSBB, therapist ini didenda Rp200 juta

Seorang wanita di Singapura didenda 22 ribu dolar Singapura atau lebih dari Rp200 juta setelah nekat tetap buka layanan salon pijat plus-plus di tengah pembatasan sosial.

Dilansir dari Channel News Asia, wanita berusia 55 tahun bernama Jin Yin tetap membuka dan mengizinkan pelanggan datang ke salon pijat plus-plus miliknya serta memberikan layanan masturbasi saat PSBB atau circuit breaker di Singapura.

Baca juga: Salat joget disko di TikTok, endingnya dijemput polisi

Berdasarkan keputusan pengadilan pada Rabu, 10 Juni 2020 Jin harus membayar denda secara penuh. Jika tidak maka ia akan menjalani hukuman penjara selama delapan minggu sebagai gantinya.

Jin mengaku bersalah atas tuduhan memberikan layanan pijat dan pelanggaran karena membuka bisnis pada saat pembatasan sosial.

Ilustrasi salon spa. Foto: Pixabay
Ilustrasi salon spa. Foto: Pixabay

Bisnis salon pijat merupakan bisnis yang belum boleh dibuka di Singapura lantaran masih berlakunya pembatasan sosial.

Wakil Jaksa Penuntut Umum, Jane Lim mengatakan bahwa Jin mengaku mengetahui larangan operasional salon miliknya selama pembatasan sosial sejak 7 April 2020 lalu. Jin juga sudah mendapat pemberitahuan melalui WhatsApp bahwa salonnya bukanlah termasuk bisnis esensial.

Kronologi kejadian salon pijat plus-plus saat PSBB

Kejadian Jin memberikan layanan masturbasi bermula ketika seorang pelanggan bernama Chan Fun Hwee yang berusia 67 tahun, melihat iklan di situs web Locanto, yang mengiklankan layanan pijat dan masturbasi salon Jin, termasuk pemangkasan bulu kemaluan.

Kemudian Chan menelepon nomor salon Jin dan membuat janji dengannya untuk paket dua jam dengan harga 150 dolar Singapura atau sekitar Rp1,5 juta untuk layanan pijat tubuh dan masturbasi.

Meskipun tahu bahwa salonnya dilarang beroperasi, Jin mengatakan kepada Chan bahwa salonnya tetap buka dan semuanya berjalan seperti biasa.

Toko kembali dibuka
Toko kembali dibuka. Foto: Pexels

Jin juga meyakinkan Chan yang ketakutan akan ketahuan polisi, ia berkata akan menutup pintu salon agar aman.

Akhirnya, pada tanggal 10 April Chan mendatangi salon pijat plus-plus tersebut dan mendapatkan pelayanan sesuai yang ia pesan sebelumnya.

Namun, salah seorang warga sekitar yang melihat kegiatan salon Jin melapor pada polisi. Kemudian tak berapa lama pihak kepolisian tiba di salon milik Jin dan menggerebeknya.

Lebih lanjut, investigasi yang dilakukan pengadilan menemukan bahwa salon milik Jin yang sudah beroperasi sejak 2013, tidak memiliki izin pendirian pijat yang valid. Ia juga diketahui pernah terkena kasus pada tahun 2014 dan 2016 lantaran menjalankan tempat pijat tanpa izin.

Kepada hakim, Jin mengaku melakukan hal itu karena terpaksa. Ia mengungkapkan harus tetap membuka bisnisnya karena punya banyak hutang. Ia juga mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal pada September lalu. (hsp)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close