Trending

Sanksi kerumunan Jokowi, Dokter Tirta: Nggak relevan diterapkan!

Dokter dan influencer Tirta Hudhi merespons kerumunan massa yang menemui Presiden Jokowi di Nusa Tengga Timur. Menurut Dokter Tirta penerapan sanksi kerumunan nggak relevan diterapkan pada kasus Presiden Jokowi. Menurutnya, sanksi kerumunan Jokowi di NTT itu.

Dokter menyampaikan pendapat itu dengan memerhatikan beberapa hal. Salah satunya kerumunan yang muncul itu spontanitas dan Presiden Jokowi pun sudah edukasi untuk kepada massa untuk mengenakan masker.

Presiden Jokowi sanksi kerumunan

Jokowi di kerumunan NTT
Jokowi di kerumunan NTT foto: Twitter

Dalam postingannya di akun media sosial, Dokter Tirta menjelaskan pendapatnya soal kerumunan yang melibatkan Presiden Jokowi di Maumere, NTT.

Sebagai kepala negara, menurutnya wajar Jokowi jadi magnet massa.

“Jokowi itu sejatinya simbol negara, jadi ke mana pun pergi akan menarik massa. Hal ini sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Atta Halilintar, dia mengatakan dok selesai Jumatan kok banyak yang minta foto,” ujar Dokter Tirta.

Menyoriti respons Jokowi di kerumunan di NTT, Dokter Tirta berpandangan Presiden Jokowi sudah menyelipkan edukasinya soal protokol kesehatan dalam kerumunan tersebut.

“Pak presiden sudah edukasi dan apresiasi, agar tetap memakai masker, karena terlalu banyak (massa) sampai nggak bisa membubarkan. Di salah satu video pun sedan beliau dikerumuni banyak orang,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang ia terima, Dokter Tirta menyampaikan Presiden Jokowi nggak mengundang massa untuk berkerumun. Makanya ini jadi pertimbangan dong soal siapa yang disalahkan dalam kasus kerumunan NTT itu.

“Pak Presiden nggak pernah ajak mereka datang. Tapi ini evaluasi dan refleksi bagi tim protokoler agar hati-hati atur agenda bapak presiden di lapangan,” jelasnya.

Nah bagaimana dok, itu banyak yang protes kok nggak dikenai sanksi kerumunan.

Menjawab hal ini, Dokter Tirta berpandangan Presiden Jokowi nggak tepat dikenai pasal tersebut, dengan menimbang berbagai konteks yang ia sampaikan.

“Penerapan sanksi kerumunan nggak relavan diterapkan,” ujar dia.

Penjelasan Istana

Presiden Jokowi. Foto Presidenri.go.id
Presiden Jokowi. Foto Presidenri.go.id

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin turut memberikan penjelasan dan klarifikasi atas terjadinya kerumunan di NTT tersebut.

Ia mengakui bahwa video tersebut saat Jokowi di Maumere dan rombongan tersendat lantaran masyarakat merangsek masuk ke jalan.

“Benar itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete. Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan, saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan sehingga membuat iring-iringan berhenti,” ujar Bey kepada wartawan, Selasa.

Menurut Bey respon yang diberikan masyarakat Maumere adalah spontan lantaran ingin menyambut dan melihat kepala negara. Sehingga Presiden Jokowi pun menyapa dari mobil.

“Jadi sebenarnya, itu melihat spontanitas dan antusiasme masyarakat Maumere menyambut kedatangan Presiden Jokowi. Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker,” tutur Bey.

Di sisi lain, ia juga menyebut dalam momen itu Jokowi keluar mobil untuk mengingatkan warga akan prokes.

“Karena kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya,” tambahnya.

Terkait souvenir yang diberikan kepada masyarakat, Bey menjelaskan itu bentu spontanitas Presiden Jokowi. Namun dia menekankan, Presiden Jokowi tetap mengingatkan protokol kesehatan bagi masyarakat.

“Itu spontanitas presiden untuk menghargai antusiasme masyarakat, suvenirnya itu buku, kaos, dan masker. Tapi poinnya, presiden tetap mengingatkan warga tetap taati protokol kesehatan,” tandasnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close