Trending

Ustaz Adi Hidayat: Santri tutup kuping itu toleransi, chemistry Alquran dan musik itu nggak ketemu

Ustaz Adi Hidayat angkat bicara soal viral dan ramai santri penghafal Alquran tutup telinga saat dengar musik. Menurutnya sikap yang pas adalah menghormati saja langkah mereka tutup kuping, jangan lah dilabeli dengan narasi ekstrim atau radikal. Toh para santri tutup kuping juga nggak ganggu ketertiban saat itu kan.

Ustaz Adi Hidayat mengulas pula sisi Alquran dan musik itu memang berbeda dan tidak bisa disandingkan. Ustaz Adi Hidayat mengatakan soal hukum musik memang ada ikhtilaf atau ragam pendapat dari ulama, ada yang mengharamkan ada yang membolehkan. Ya mestinya hormati saja keyakinan masing-masing, nggak usah dinyinyirin.

Santri tutup kuping itu toleransi

Ustaz Adi Hidayat berpandangan, dari video yang viral, justri santri menunjukkan toleransinya lho. Maksudnya santri walau tak senang dengan suara musik, mereka memilih tutup kuping dan tidak mengambil langkah protes keras kepada panitia penyelenggara vaksin.

Santri penghafal Alquran tutup telinga
Santri penghafal Alquran tutup telinga. Foto Instagram

Dia melihat, sikap santri dalam video itu menolak musik tapi tak menghormati mereka hadirin peserta vaksin atau penyelenggara vaksin yang ingin menikmati musik. Kan dengan santri menutup musik, mereka yang di lokasi dan ingin menikmati musik tak dirugikan, tetap bisa menikmati alunan musik kan.

“Ini toleransi ditunjukkan santri yang hormati orang yang sedang dengarkan musik tanpa harus ganggu mereka atau panitia yang dalam jalankan tugasnya yang ingin menikmati musik,” jelas Ustaz Adi dikutip dari Youtubenya, Kamis 16 September 2021.

Harusnya hormati saja, apalagi santri tidak merugikan lingkungan sekitar. Mestinya, kata dia, santri diapresiasi karena mereka berlaku tutup kuping tanpa merugikan yang lain.

“Harusnya sisi apresiasi bukan nyiyiran, kecaman atau tuduhan tertentu, justru dipertanyakan kalau ada perspesi negatif yang dialamatkan ke mereka dengan diksi radikal, super ekstrim misalnya,” ujar pendakwah itu.

Chemistry Alquran dan musik

Ustaz Adi menjelaskan antara Alquran dan musik itu sesuatu yang beda dan ngggak bisa disandingkan. Beda alam lah bahasa mudahnya.

“Chemistry quran dengan musik itu nggak ketemu, transmisinya beda, karena itu saya anjurkan santri yang sedang hafalkan Alquran untuk jauhi atau tinggalan musik, karena itu beda transmisi,” kata dia.

Alquran
Jemaah membawa Alquran di Masjidil Haram. Foto Instagram @quranmushafmadinah

Mengenai hukum musik, Ustaz Adi menjelaskan ada ragam pendapat dari para ulama dengan berlandasarkan pada hadis yang mereka terima.

Ada ulama yang mengharamkan mutlak musik, tapi ada juga ulama yang membolehkan musik dengan batasan dan syarat yang ketat.

Ada ulama yang karena melihat aspek negatif musik karena konteks masa jahiliyah masa lalu, kemudian putuskan musik itu dilarang alias haram. Sedangkan di sisi lain ada ulama yang melihat aspek kemanfaatan dari musik, maka bolehkan musik dengan syarat ketat.

Bagaimana harusnya bersikap, kata Ustaz Adi, tinggal yakin atau cenderung dengan pendapat ulama yang mana. Silakan saja, dengan tentu menghormati pandangan yang lainnya.

“Kalau saya lebih cenderung meninggalkan musik, ini pribadi saya ya. Tapi kalau hukum musik, saya mesti objektif. Jangan sampai jauhi musik, misalnya saya nggak suka musik saya katakan haram mutlak, ya nggak boleh, kita katakan ada haramkan ada yang nggak haramkan. Kalau kecenderungan Anda bagaimana silakan, yang penting saling hormati,” jelasnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close