Trending

Sebelum bunuh diri, Kades Sulbar tulis surat: Jangan masuk politik, dosa

Kepala Desa atau Kades Buangin, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), Pilipus (38 tahun), ditemukan tewas gantung diri di kebon kopi warga.

Sebelum melakukan aksi nekatnya itu, ia sempat menulis surat kepada keluarganya untuk jangan pernah masuk ke dunia politik. Sebab, hal itu merupakan perbuatan dosa dan tak sesuai ajaran agama.

Saat dimintai keterangan, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mambi, IPTU Binton P. Sihombing mengatakan, Pilipus ditemukan tergantung dengan seutas kabel speaker yang terikat di lehernya.

Baca juga: 3 Fakta peran Prasetijo di pelarian Djoko Tjandra, auto kena pasal berlapis

“Kabel tersebut diikat pada dahan pohon kopi. Jarak kakinya dengan tanah setinggi 10 centimeter,” ujar Binton, disitat dari Tagar, Rabu 29 Juli 2020.

Menurut kabar yang beredar, Kades di Sulbar itu gantung diri setelah tak kuat menahan tekanan warga sebagai pemimpin daerah. Ia disebut-sebut sempat mengalami depresi hebat yang membuat pikirannya runyam. Namun, dugaan itu dibantah pihak keluarganya.

Ilustrasi jenazah atau maat. Foto: Suara.
Ilustrasi jenazah atau maat. Foto: Suara.

Sebelum ditemukan tewas tergantung, Kades di Sulbar, Pelipus, sedianya hendak melakukan penyaluran Bantuan Langsung Tunai atau BLT tahap ketiga di Kantor Desa yang berlokasi di Dusun Buangin.

Kala itu, ia berangkat bersama keponakannya, Alber, mengendarai sepeda motor. Namun di tengah jalan, ia meminta turun dengan dalih ingin buang air besar.

Di Kantor Desa, warga sudah menunggu kehadiran Pilipus. Akan tetapi, batang hidungnya tak kunjung terlihat. Setelah merasa tak sabar, akhirnya mereka dan Camat setempat berinisiatif mencari sang Kades. Barulah kemudian para warga menemukan dia sudah tergantung tanpa nyawa.

Sempat tulis surat untuk keluarga

Menariknya, seperti yang telah disinggung di awal, sebelum mengakhiri hidupnya, Kades di Sulbar, Pilipus ini sempat menulis surat untuk anak-anak dan istrinya. Salah satu poin terpenting yang ia sampaikan, adalah melarang keluarganya untuk masuk ke dunia politik.

Isi surat kepala desa Pilipus. Foto: Tagar

Begini isi lengkapnya:

“Pesan-pesan saya buat keluarga, kiranya apa yang terjadi pada saat ini tidak mempengaruhi hubungan atau tekanan keluarga.

Untuk istri tercinta (Elsi) jaga baik-baik Arga sama Dirga, sekolahkan dengan baik, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan.

Buat ananda Arga/Dirga, sekolah yang baik agar tidak mengulang apa yang dilakukan bapak kalian, jangan sekali-kali masuk jalur politik karena tidak sesuai dengan ajaran agama kita.

Kalau kalian sudah besar nanti, jaga baik-baik ibu kalian kasihi dan sayangilah, maafkan saya, saya melakukan semuanya ini dengan sangat terpaksa karena lebih baik saya berdosa hanya satu kali lagi, dari pada tiap hari melakukan kebohongan hanya karena terpaksa.

Selamat tinggal semuanya, aku akan pergi untuk selamanya. Harapan saya semoga desa saya, daerah yang saya cintai lebih maju dan masyarakat akan sejahtera.

Sekali lagi, bagi semua masyarakat saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan saya selama ini yang kurang berkenan di hati saudara-saudaraku.

Terima kasih atas dukungannya selama saya menjalankan pemerintahan saya, kiranya Tuhan mengampuni akan semua kesalahan yang terjadi selama ini dan tidak akan menjadi batu sandungan bagi pemimpin seluruh lapisan masyarakat untuk membangun kampung tercinta ini.” (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close