Fit

Sekeluarga kena corona, wanita ini bagikan cerita 11 hari di Wisma Atlet

Di masa pandemi seperti sekarang, tak ada yang bisa menghindari penularan covid-19. Meski ada segelintir orang yang menganggap bahwa covid-19 hanyalah isapan jempol, namun nyatanya hingga kini lebih dari 200.000 jiwa di Indonesia positif covid-19.

Sebuah pengalaman pilu nan ‘berharga’ dialami seorang ibu rumah tangga di Jakarta. Bagaikan tersambar petir ketika ia dan keluarga kecilnya didiagnosis positif covid-19.

Baca juga: Perjuangan dokter transgender rawat pasien covid: Saya dikira wanita tulen

Rima 35 tahun, menceritakan kisahnya kepada Hops pada Selasa 15 September 2020. Berikut ini kisahnya, supaya menjadi pembelajaran sekaligus bisa jadi panduan apa saja yang harus dilakukan jika kamu atau kerabat ada yang mengalami nasib serupa.

Semua berawal dari 13 Agustus lalu. Rima mengatakan suaminya mengalami demam ringan. Makin sering, demamnya mencapai 39,8 derajat celsius. Rima memutuskan untuk berkonsultasi online dengan dokter, dan diimbau untuk periksa ke RS jika demamnya berlangsung hingga 3 hari ke depan.

“Setelah 3 hari demamnya masih berlanjut sekitar 37-38 derajat celsius,” katanya dihubungi Hops Selasa 15 September 2020.

Kala itu dokter mendiagnosis DBD, tipes, dan hanya infeksi virus biasa. kemudian diberi obat antiviral dan vitamin. Suaminya sempat diperbolehkan kembali bekerja namun gagal masuk kantor karena tanggal merah dan cuti bersama.

“Suami saya tetap stay di rumah sampai tanggal 23 Agustus.”

Bersamaan suaminya recovery di rumah, pada 18 Agustus Rima merasakan flu ringan dan secara tiba-tiba indera penciumannya 100 persen hilang.

“Baru sadar karena habis mandiin anak pakai minyak-minyakan gak kecium sama sekali baunya. Langsung konsul ke dokter online,” ujarnya.

Pertanyaan yang diberikan dokter pertama kali adalah ‘apakah pernah kontak dengan pasien covid?’

“Di situlah saya deg-degan, apa mungkin suami gak sembuh-sembuh bukan hanya karena regular virus, tapi covid?” Pikirnya.

Kami bertiga positif covid-19

Tanggal 23 Agustus suami Rima sudah tak merasakan demam, hanya stamina yang belum 100 persen pulih. Namun malam harinya ia dan suami mendengar kabar bahwa salah satu kerabat dekat suami yang kontak dekat positif covid. Tanpa pertimbangan akhirnya ia dan suami memutuskan untuk tes PCR keesokan hari.

Bagai disambar petir, hasil tes menunjukkan bahwa Rima, suami bahkan anaknya yang masih berusia 2,5 tahun positif covid-19.

“Tanggal 24 Agustus kami tes PCR pagi. Hasil keluar sekitar jam 9 malam. Qodarullah kami bertiga POSITIF Sars-cov/Covid-19,” kenangnya.

Kondisi fisik saat itu suami dan anak Rima sehat, suhu normal tanpa gejala lain. Namun tidak dengan yang ia rasakan.

“Saya amat sangat lemah, mual sakit kepala, nyeri tulang seluruh badan, tidak bisa makan sama sekali. Intake seharian hanya 2 keping biskuit dan teh panas manis. menelan air putih pun mual,” ujarnya.

Tanggal 21 Agustus sore anak Rima mulai demam ringan. Karena ada riwayat kejang ia diminta agar jangan terulang lagi.

“Saya selalu siap amunisi untuk melawan demamnya. Saat anak orang di atas 37,5 sudah dikasih paracetamol, anak saya baru 37,3 sudah dikasih paracetamol. 38 Langsung masuk proris pantat. Stesolid obat anti kejang gak bisa didapat via online karena obat itu masuk kategori narkotika,” katanya.

Setelah tahu positif, suami Rima sigap dan gerilya cari info bagaimana baiknya. Langkah pertama ia secepatnya memisahkan diri karena di rumah ada 2 orang yang berusia di atas 60 dan ada 2 balita.

Pindah ke wisma Atlet Kemayoran: Urus-urus surat dan kondisi kamar

Kondisi Rima kala itu termasuk pasien komorbid karena dirinya memiliki hipertirroid. Karena termasuk pasien rentan, maka ia dan suami memutuskan untuk dirawat di RS swasta rekanan kantor suaminya di daerah Kemayoran.

“Tapi untuk surat rujukan dari RS tempat kita PCR, kita minta untuk dirujuk ke Wisma Atlet Kemayoran sebagai alternatif.”

Tanggal 25 Agustus seluruh keluarga besar Rima langsung tes PCR, dan semua negatif. Lansia dan balita yang ada di rumah juga diungsikan malam harinya.

“Paginya kami lanjut perjalanan ke RS. Kami berangkat dengan transportasi online. Karena gak mau makin drama aja kalau sampai dijemput ambulans. Bisa geger satu komplek, yang notabene saat itu heboh karena kami first case di sana,” ujarnya.

Sesampainya di IGD RS, kondisi Rima sudah sangat lemas. keluarganya diberikan ruang tertutup dengan 1 bed. Namun sayangnya RS tersebut tidak menyanggupi untuk merawat 3 orang, dan hanya bisa mendapat 1 ruangan.

Kala itu suami kondisi fisik suami Rima sudah baik. Jadi dianjurkan isolasi mandiri.

“Hanya saya dan anak yang bisa dirawat. Itupun tetap tidak bisa disatukan untuk dirawat. Akhirnya saya menyadari diri gak sanggup menjaga dia sendiri dengan kondisi fisik saat itu. Akhirnya kita pindah haluan ke RS darurat covid di Kemayoran.”

Sebelum berangkat ke Wisma Atlet, Rima dihubungi via telepon oleh RS untuk memastikan bisa langsung datang ke sana dengan surat-surat (KTP, fotokopi KK, printout hasil swab, rujukan RS saat PCR, dan dokumen rujukan puskesmas domisili).

Sampai di Wisma, di luar dugaan malah registrasi berjalaan lancar tanpa ada yang mempermasalahkan dokumen yang kurang.

“Surat-surat yang kami bawa cukup untuk kami bisa di rawat atau tepatnya di isolasi semi mandiri di sana.”

“Setelah melewati registrasi dokumen, kita dipanggil masuka IGD. Kita dikasih bed masing-masing berdampingan tapi anak saya tetep share sama saya.”

Ia menceritakan kondisi IGD di RS Kemayoran. Dalam IGD itu bisa menampung 20 orang dengan jarak cukup dan tanpa sekat.

“IGD-nya bisa menampung 20 orang dan gak dempet-dempet walaupun tanpa sekat. Yang pasti cukup bersih dan dingin luar biasa. Sembari menunggu giliran EKG dan ambil darah, kami diberi makan siang dan snack.”

Karena ini adalah RS darurat jadi ada beberaoa fasilitas yang menurutnya tidak bisa dibandingkan dengan fasilitas umum lainnya. Salah satunya EKG.

“Karena ruangan tanpa sekat, kita EKG ditutupi standing banner. Perawat dan dokter jaga adalah perawat dan dokter muda dari seluruh daerah di Indonesia. Jadi baru kali ini saya mendengar banyak logat dalam waktu yang sama,” ujarnya.

Proses registrasi dan screening awal cukup melelahkan. kami tiba di wisma pukul 10.00 WIB dan baru bisa masuk kamar pukul 17.00 WIB.

Kondisi kamar di Wisma Atlet
Kondisi kamar di Wisma Atlet Photo: Istimewa

“Urutan proses yang dilewati sampai masuk kamar adalah: Registrasi dokumen, masuk IGD diberi makan siang, snack, ambil darah, rekam jantung (EKG), cek gula darah, dan rontgent thorax.”

Di Wisma Atlet sistemnya semi mandiri. Mirip self service di rumah makan cepat saji. Bukan seperti di RS pada umumnya.

“Jadi kita dikasih makan 3 kali sehari plus snack 1 kali. Tensi suhu, saturasi oksigen, dicek 3 kali sehari. Obat dikasih sesuai kebutuhan masing-masing. Itu semua kita yang ambil nyamperin ke ruang poli setiap jam makan, bukanya seperti di RS yang susternya nyamperin kita. Oiya, rekam jantung juga dipantau secara berkala.”

Kondisi kamar di Wisma Atlet Photo: Istimewa
Aktivitas di Wisma Atlet Photo: Istimewa

Selama di rawat di Wisma Atlet, Rima mendapatkan beberapa jenis obat. “Kalau anak saya masih 26 bulan hanya dikasih multivitamin sirup 1 kali sehari. Suami dan saya dikasih obat terapi covid, antibiotik, zink, multivitamin yang isinya vitamin E,D,B complex. Seinget saya itu obat mual sebelum makan kayaknya obat keras, plus obat batuk saat perlu.”

Rima berujar bahwa selama perawatan dirinya mendapat obat tiroid secara gratis. Sementara itu, kondisi unit yang ditempatinya menurut Rima cukup nyaman. Tempat tidur plus selimut dan 1 bantal. Ada pula lemari, handuk, sapu dan alat pel.

“Yang lainnya bawa sendiri. Saya di hari ke dua riquest nyokap kirimin segala peralaatan perang untuk bersih-bersih cuci baju, cuci piring dan cuci botol anak saya,” katanya.

Alhamdulillah negatif dan diperbolehkan pulang

Selama dirawat di sana, Rima menjalani aktivitas seperti berjemur dan berolahraga. Kondisi suami dan sang anak disebutnya tanapa keluhan.

“Untuk kondisi fisik kita selama di sana, suami dan anak stay dengan kondisi awal masuk yang memang tanpa keluhan. Kalau saya mungkin karena merasa in safe place and hand, setiap hari saya merasa berangsur sehat. Penciuman saya mulai kembali 30 persen.”

Pada hari ke-6 stelah dirawat di Wisma Atlet, anak Rima akhirnya diperbolehkan pulang.

Aktivitas di Wisma Atlet Photo: Istimewa
Aktivitas di Wisma Atlet Photo: Istimewa

“Dia diperbolehkan pulang karena tingkat CT-nya sudah 36,6 walaupun statusnya masih positif. Menurut dokter angka ini sudah tidak infectious/menularkan (pasien dengan CT di atas 35 diperbolehkan pulang dan lanjut isolasi mandiri).”

Meski sudah diperbolehkan pulang, Rima dan suami menginginkan anaknya untuk stay bersama di Wisma Atlet.

Baca juga: Perjuangan dokter transgender rawat pasien covid: Saya dikira wanita tulen

“Kalau anak saya sebenarnya sudah diizinkan pulang duluan di hari ke-6 tapi kita minta bikin surat pernyataan untuk tetap stay sama kita di Wisma sampai saya juga pulang waktu itu.”

Pada hari ke-8 ia dan suami diswab ulang. Hasilnya negatif, namun kondisinya masih belum pulih. Sedangkan sang suami kala itu masih positif dan berpotensi menularkan dengan angka CT mencapai 31,8.

“Setelah hari ke 11, aku dan anakku diizinkan pulang, kalau suamiku di hari ke-18 dan melanjutkan dengan isolasi mandiri. (idealnya 7-10 hari). Suami saya melanjutkan dengan terapi obat di wisma sebelum di swab lagi 5 hari ke depan.”

Selama ia menjalani pengobatan, seluruh biaya ditanggung pemerintah dan gratis. “Kami bersyukur dan berterima kasih tak terhingga kepada pemerintah juga kepada seluruh petugas medis yang tak kenal lelah menjalankan tugas walaupun berbahaya.”

Kini, ia dan anak tengah menjalani isolasi mandiri di rumah dan sang suami juga melakukan isolasi di tempat berbeda, karena keduanya negatif di waktu berbeda.

Apa yang dialami Rima, bisa menjadi pelajaran bahwa covid-19 bukanlah isapan jempol belaka. Perjuangan pasien juga tidak main-main. Karena itu Stay Safe ya Hopers!

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close