Trending

Sepak terjang ngeri Al Sahrawi, teroris paling kejam di ISIS

Selama ini ada satu tokoh teroris ISIS yang paling diburu Prancis. Dia adalah pimpinan ISIS di Sahara Raya bernama Adnan Abu Walid Al Sahrawi. Saking diburunya, Prancis sampai-sampai all out melakukan penangkapan hingga diumumkan resmi presiden Prancis Emmanuel Macron.

Publik tentu penasaran seputar sepak terjang Al Sahrawi. Dia rupanya dikenal sebagai teroris paling kejam di Sahel. Dia punya reputasi terkenal akan aksinya memenggal tangan pencuri.

Disitat dari sejumlah sumber, Al Sahrawi memimpin afiliasi ISIS dan sangat aktif di Sahel tengah. Sahel telah dilanda pemberontakan jihad brutal sejak kelompok Islam menguasai Mali utara pada 2012. Prancis, bekas kekuatan kolonial, kemudian melakukan intervensi di Mali pada 2013 dan memukul balik para ekstrimis.

Terlepas dari kehadiran pasukan asing, kekerasan ekstrimis telah menyebar ke Mali tengah serta negara tetangga Burkina Faso dan Niger. Apa yang disebut Negara Islam di Sahara Besar (ISGS) telah disalahkan atas serangkaian serangan berdarah di wilayah semi-kering yang luas itu.

Ia mengaku bertanggung jawab atas penyergapan di dekat desa Tongo Tongo di Niger pada 2017 yang merenggut nyawa empat pasukan khusus Amerika Serikat (AS) dan empat tentara Nigeria.

Sahrawi. Foto: Ist.
Sahrawi. Foto: Ist.

Ia dipanggil al-Sahrawi sesuai dengan tempatnya berasal di Sahara Barat, di mana ia bertempur di Front Polisario, yang bertujuan untuk mengakhiri kekuasaan Maroko. Diperkirakan berusia empat puluhan, Al Sahrawi kerap mengenakan sorban hitam dan berjenggot di sejumlah fotonya yang diketahui.

Mati di tangan Prancis

Baru-baru ini Prancis mengumumkan kematian Al Sahrawi. Prancis sangat senang dengan keberhasilan mereka membunuh dia. Tentara Prancis mengatakan bahwa mereka telah membunuh pemimpin ISGS itu dalam serangan udara saat dia mengendarai sepeda motor.

Pernyataan ini sekaligus mengakhiri rumor yang berkembang selama berminggu-minggu bahwa dia telah meninggal.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan kepada radio RFI bahwa dia menjadi sasaran karena dia adalah “pemimpin otoriter yang tak terbantahkan” dari kelompok itu.

Diketahui, Al Sahrawi menghabiskan sebagian masa mudanya di Aljazair, di mana para ahli mengatakan dia ditarik ke dalam lingkaran ekstrimis.

Al-Sahrawi terlibat dalam pemberontakan Sahel sejak awal, sebagai anggota Gerakan untuk Kesatuan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO), salah satu milisi Islam yang menguasai Mali utara.

Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post
Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post

Sebelum intervensi Prancis, Sahrawi adalah juru bicara MUJAO yang bersekutu dengan al-Qaeda di kota utara Gao. Di sana, dia mendapatkan reputasi sebagai penegak hukum Syariah yang tidak fleksibel.

Seorang pejabat terpilih di kota itu, yang meminta namanya tidak disebutkan, mengatakan bahwa lebih banyak pencuri yang dipotong tangannya di Gao daripada di tempat lain.

“Itu karena instruksi Abu Walid,” katanya, merujuk pada Sahrawi

MUJAO kemudian bergabung dengan kelompok lain untuk membentuk milisi al-Mourabitoune, di bawah kepemimpinan Mokhtar Belmokhtar dari Aljazair. Namun pada tahun 2015, Sahrawi berjanji setia kepada ISIS yang pada saat itu menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah. Namun kini petualangan beliau telah berakhir.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close