Trending

Sepak terjang Puan Maharani, kok bisa jadi Ketua DPR?

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2019-2024, Puan Maharani kini menjadi sorotan publik lantaran sikapnya yang dianggap oleh sejumlah pihak memaksakan berlakunya Omnibus Law UU Cipta Kerja, lantas bagaimana sepak terjang Puan Maharani di dunia politik?

Puan Maharani merupakan keturunan langsung dari trah keluarga Soekarno. Ibu kandung Puan adalah politisi legendaris yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, yaitu Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau yang akrab disebut sebagai Megawati Soekarnoputri. Artinya, Puan Maharani merupakan cucu dari Presiden Republik Indonesia pertama, Seokarno.

Baca juga: Potret mesra Ketua DPR Puan Maharani dan Megawati, kompak bikin iri

Wanita bernama Puan Maharani Nakshatra Kusyala Devi ini mengawali kiprah di dunia politiknya pada tahun 2006 ketika menjadi anggota DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Ia pun mencoba menyalonkan diri sebagai calon anggota legislatif pada Pemilu 2009 dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah V (Solo, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali).

Masa sekolah

Semasa kecil, Puan masuk Sekolah Dasar (SD) Perguruan Cikini. Layaknya bocah SD pada umumnya, Puan menjalani kehidupa sehari-hari secara normal. Usai lulus pada tahun 1985, ia pun melanjutkan pendidikannya di yayasan yang sama, yaitu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) Perguruan Cikini.

Puan Maharani muda bersama Megawati. Foto: intisari.grid.id
Puan Maharani muda bersama Megawati. Foto: intisari.grid.id

Wanita yang lahir pada 6 September 1973 ini mulai mengenal politik ketika remaja, tatkala ia duduk dibangku SMP. Saat itu, ibu kandungnya, Megawati sedang aktif muncul di dunia perpolitikan tanah air. Tak jarang ia sering menemani ibunya dan menyaksikan langsung bagaimana seorang politikus bekerja.

Setelah masuk SMA, Puan juga beberapa kali menemai sang ibu dalam sejumlah agenda politik. Bahkan, Puan menyaksikan langsung ketika ibunya mendapat serangan dari berbagai pihak terkait nama Megawati yang dilarang untuk masuk ke struktur pengurusan PDI. Kala itu, Puan melihat langsung bagaimana ibunya mendapat tekanan politik.

Kuliah di Universitas Indonesia

Usai tamat pendidikan SMA pada 1991, wanita berzodiak virgo ini memutuskan untuk mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dengan fokus jurusan Komunikasi Massa.

Layaknya mahasiswi lainnya, Puan sempat magang di media massa yakni di majalah Forum Keadilan. Masa kuliahnya dipenuhi dengan tantangan dan gejolak politik. Ia pun menjadi salah satu saksi hidup bagaimana perjuangan para aktivis termasuk ibunya berjuang melawan pemerintah Orde Baru. Salah satu peristiwa fenomenal yang penah disaksikannya yaitu Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan dua puluh tujuh Juli).

Potret Puan Maharani bersama Megawati. Foto: Instagram
Sepak terjang Puan Maharani (Potret Puan Maharani bersama Megawati). Foto: Instagram

Awal Karier di dunia politik

Barulah pada tahun 2006, Puan memulai kiprahnya di dunia politik dengan menjadi salah satu anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Tiga tahun berselang, tepatnya pada pemilu 2009, ia mencoba peruntungan sebagai calon anggota legisatif mewakili PDIP dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V yang meliputi Solo, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali.

Pada awal kariernya di kursi pemerintahan, pencapaiannya terbilang cemerlang. Puan berhasil meraih perolehan suara terbanyak kedua di tingkat nasional. Pada pemilihan anggota legislatif saat itu, ia meraup suara total sebanyak 242.504 suara.

Kariernya terus melesat tatkala Puan menggantikan posisi Tjahjo Kumolo sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI tahun 2012-2014.

Ketua DPR Puan Maharani. Foto: Antara.
Ketua DPR Puan Maharani. Foto: Antara.

Pada pemilu selanjutnya di tahun 2014, ia kembali lolos sebagai caleg. Kendati demikian, ia menolak kursi legislatif tersebut dengan menerima pinangan dari Presiden Jokowi sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) pada Kabinet Kerja.

Usia mengenyam kursi empuk menteri, istri Hapsoro Sukmonohadi ini kembali mengikuti kontestasi politik sebagai caleg pada Pemilu 2019. Hasilnya pun terbaca, Puan kembali terpilih dengan memperoleh suara tertinggi sebanyak 404.034 suara.

Sepak terjang Puan Maharani di dunia politik pun kian sempurna, sebab PDIP dinyatakan sebagai parpol dengan suara tertinggi pada Pileg. Alhasil, Puan dilantik sebagai Ketua DPR 2019-2024 dalam rapat paripurna yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 2 Oktober 2019.

Dengan demikian, seperti ibunya yang memecahkan rekor sebagai Presiden perempuan pertama Republik Indonesia, Puan juga melakukan hal yang sama, ia menjadi perempuan pertama yang duduk di kursi nyaman sebagai Ketua DPR RI.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close