Trending

Dokter sampai Si Sexy Killers bela Jerinx: Nggak perlu ditahan, cabut laporanmu IDI

Musisi asal Bali, I Gede Ari Astina atau Jerinx ditahan Polda Bali gara-gara postingan IDI kacung WHO. Drummer Superman Is Dead itu ditetapkan menjadi tersangka ujaran kebencian dan pencemaran nama baik Ikatan Dokter Indonesia.Namun dukungan mengalir ke musisi Bali itu. Dari dokter sampai si Sexy Killers bela Jerinx supaya nggak ditahan karena kritikannya.

Penahanan Jerinx memicu reaksi dari berbagai kalangan termasuk tenaga kesehatan. Dokter dan epidemiolog membela Jerinx, dan tak seharusnya musisi asal Bali itu ditahan karena melontarkan kritik.

Baca juga: Resmi ditahan polisi, Jerinx SID: Saya sekarang di sel, tak apa-apa

Dibela dokter

Jerinx dan Nora Alexandra
Jerinx dan Nora Alexandra. Foto Instagram @jrxsid

Dokter Berlian Idris membela Jerinx untuk tak ditahan. Menurutnya Jerinx tak semestinya sampai ditahan. Dia menyuarakan agar IDI berpikir ulang dampak dari laporannya terhadap Jerinx.

“Betapapun bikin dongkolnya Jerinx, ga perlu juga sampai ditahan. Tolong @PBIDI cabut kembali laporannya,” tulisnya dikutip Kamis 13 Agustus 2020.

Pembelaan juga datang dari epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono. Senada dengan pendapat dari dokter Berlian Idris, tak seharusnya IDI melaporkan Jerinx ke polisi dengan dalih ujaran kebencian.

“Kenapa harus ditahan dan dituntut ya? IDI tak perlu adukan, karena ia memang tidak faham. Beritahu saja dulu bahwa WHO itu sebenarnya pelayan untuk semua negara-negara di dunia yang setiap negara itu urunan agar WHO bisa berfungsi. IDI itu hanya organisasi profesi saja,” tulis Pandu.

Akun lainnya membela Jerinx di Twitter. Akun @imannugroho merasa pemidanaan Jerinx keterlaluan. Sebab ada kok petinggi negeri lain yang omongannya soal Covid membuat publik gemas, tapi tak diseret ke polisi juga.

“Jerinx tersangka. Berlebihan. Pejabat yang sebelumnya sempat ngawur komentar soal covid19 aja gak ada sanksi,” tulis akun tersebut.

Si Sexy Killers bela Jerinx

Jurnalis senior Farid Gaban (kiri) bersama Dandi Dwi Laksono (kanan). Foto: Limawaktu.
Jurnalis senior Farid Gaban (kiri) bersama Dandhy Dwi Laksono (kanan). Foto: Limawaktu.

Tak kalah aktivis juga langsung membela Jerinx dari jeratan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Dandhy Laksono menilai kritik Jerinx pada IDI bermula dari kasus persalinan yang wajib menjalani tes Covid-19. Lantaran penerapan ini, banyak kasus bayi meninggal karena orang tua tak punya biaya untuk untuk tes yang awalnya mencapai 400 ribu. Dari suara kritis Jerinx ini, kata Dandhy, semakin menegaskan adanya konspirasi dagang dalam dunia kesehatan.

Pembuat film dokumenter Sexy Killers itu mengatakan kritikan Jerinx memperjelas bibit konspirasi dagang di sektor kesehatan yang sudah lama tertanam. Dia menyontohkan hal klasik yaitu anggapan kini dokter atau rumah sakit selalu mendorong pasiennya melahirkan lewat operasi cesar. Belum lagi strategi pemasaran susu formula yang menggeser penggunaan ASI.

Dandhy menuliskan di Facebooknya, pelaporan terhadap Jerinx kian memperburuk situasi, hanya karena melontarkan kritik bernada cemoohan, seseorang bisa diperkarakan ke polisi.

“Apakah kalau kita gantu ‘IDI petugas WHO’ akan lebih baik? Seperti ‘Presiden petugas partai’. Bagaimana dengan ‘IDI sahabat WHO’? atau ‘IDI sahabat perusahaan farmasi’? Apakah ‘sahabat’ bermakna lebih positif daripada ‘kacung’ dan tak akan terjerat UU ITE dan ditahan polisi?” tulisnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close