Trending

Siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas kemerdekaan Timor Leste?

Sejarah pelik hubungan kedua negara antara Republik Demokratik Timor Leste dengan Republik Indonesia telah dilalui beberapa dekade lalu. Kemerdekaan Timor Leste menjadi bukti bahwa Indonesia sebagai negara yang bermartabat.

Republik Demokratik Timor Leste merupakan sebuah negara pecahan yang melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 30 Agustus 1999. Sebelum merdeka, pada 1976 Timor Leste sempat menjadi bagian dari provinsi Indonesia ke-27 dengan nama Timor Timur.

Namun sekitar 78 persen mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia. Inilah yang menjadi tonggak sejarah dari awal berdirinya negara Timor Leste.

Baca juga: Membongkar alasan Soekarno pernah gaungkan Presiden harus Islam

Kala itu, bertepatan dengan jatuhnya Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun menjadi kabar bahagia bagi sebagian besar rakyat Timor Timur.

Tak lama setelah Presiden Soeharto lengser, lalu digantikan oleh Bapak Teknologi Indonesia, yakni BJ Habibie, pihak pemerintah Indonesia mengadakan referendum kemerdekaan di tanah Timor Timur. Permintaan itu diinisiasi langsung oleh BJ Habibie ke Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB pada 27 Januari 1999.

Pengajuan referendum dipilih BJ Habibie agar masyarakat di Timor Timur bisa menentukan sendiri nasib bangsanya. Ada dua pilihan yang diajukan, yakni menerima otonomi khusus untuk Timor Timur dalam salah satu provinsi di Indonesia atau menolak otonomi khusus dengan memisahkan Timor Timur dari Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Bendera Timor Leste. Foto: Isabel Nolasco via wikipedia

Hasilnya, sebagian besar masyarakat Timor Timur pun memilih untuk merdeka menjadi negara mandiri.

Kesimpulan itu diambil berdasarkan keputusan suara terbanyak dalam referendum, di mana dari total 438.968 suara, sebanyak 344.580 atau 78,50 persennya memilih untuk hengkang dari genggaman Republik Indonesia.

Sedangkan sisanya, sekitar 94.388 suara yang jika dipersenkan hanya mencapai 21,50 persen dari total pemilih tak setuju jika Timor Timur lepas dari Indonesia. Oleh sebab itu, sebagian besar di antara mereka beramai-ramai pindah ke wilayah yang paling dekat dengan Indonesia, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT).

Disitat Tirto.id, berdasarkan sebuah data yang dirilis Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Provinsi NTT pada tahun 2005, total keseluruhan masyarakat Timor Timur yang memilih pindah dan datang ke NTT mencapai 24.524 Kepala Keluarga atau sekitar 104.436 jiwa.

Alasan Timor Leste layak merdeka

Ketika masa penjajahan merebak di bumi Nusantara, pada abad ke-19 dasawarsa ke-6 atau tepatnya di tahun 1859, Portugis dan Belanda menyepakati sebuah perjanjian yang membagi wilayah Pulau Timor menjadi dua kekuasaan. Pada sisi bagian timur Pulau Timor milik Portugis, sedangkan di barat jatuh ke tangan Belanda.

Seiring berjalannya waktu, wilayah Pulau Timor bagian timur pun tumbuh dengan sistem, budaya, dan peraturan pemerintah Portugis. Tak heran jika di daerah ini penggunaan bahasa potugis sangat kental, berbeda dengan wilayah jajahan Belanda lainnya.

Selain perbedaan kultur dan sistem pemerintahan yang berkembang, pemerintah Belanda juga tak memasukkan wilayah Timor Timur dalam peta kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Pihaknya hanya memasukkan Timor bagian barat atau NTT.

Saat pemerintahan Soeharto berkuasa, Timor Timur juga tengah mempersiapkan diri sebagai negara berdaulat yang baru lahir dan lepas dari genggaman Portugis.

Kemerdekaan itu diberikan secara cuma-cuma oleh Portugis bersamaan dengan sejumlah negara yang sempat berstatus sebagai provinsi di luar negeri milik Portugis. Ada pun negara itu di antaranya Angola, Cape Verde, Guinea Portugis, Mozambik, Sao Tome, dan Principe di Afrika, Makau di Cina, serta India Portugis.

Ketika tengah disibukkan dengan sistem politik yang digawangi oleh sejumlah partai seperti Partai União Democrática Timorense (UDT) dan Front Revolusioner Independen Timor Timur (Fretilin), dan Populer Demokrat Asosiasi Timor (Apodeti).

Bendera partai Fretilin. Foto: verangola.net
Bendera partai Fretilin. Foto: verangola.net

Adanya kepentingan partai yang saling tumpang tindih menimbulkan gejolak politik yang semakin memanas hingga mengakibatkan pertumpahan darah. Pihak partai UDT pun menuduh bahwa partai Fretilin adalah sebuah partai beraliran komunis yang nantinya ketika merdeka akan membawa Timor Leste menjadi negara Komunis.

Meski kemerdekaan Timor Leste berada di depan mata, namun justru pergolakan internal politik dalam negerilah yang menghambat pencapaian tersebut.

Campur tangan pemerintah Indonesia pada Orde Baru

Melihat adanya gejolak politik di sana terutama adanya isu perkembangan paham komunisme, Soeharto mengkhawatirkan perseteruan itu akan merembet ke Tanah Air.

Pihak pemerintah pun menggalang dukungan ke Amerika Serikat yang saat itu baru saja menerima pil pahit yakni kalah dalam peperangan di Vietnam. Sama-sama ada kepentingan, pemerintah AS juga tak ingin di Timor Timur merdeka dengan paham komunis.

Pada akhir 1975, pasukan dari Indonesia mulai menginvasi Timor Timur dengan sebutan Operasi Seroja. Dikabarkan pula, militer Indonesia secara besar-besaran memasuki kota-kota di Timor Timur.

Operasi Seroja. Foto: facebook.com/Luhut Binsar Pandjaitan
Operasi Seroja. Foto: facebook.com/Luhut Binsar Pandjaitan

Penyerangan tak terduga ini membuat pasukan Fretilin kabur ke hutan-hutan hingga pegunungan. Mereka pun tetap menyerang dengan sistem peperangan gerilya.

Setelah pemberantasan pejuang Timor Timur yang disebut oleh pemerintah Indonesia sebagai separatis itu usai, wilayah Timor Timur pun masuk ke dalam provinsi ke-27 di wilayah NKRI.

Dalam penyerangan itu, menurut CAVR (Commission for Reception, Truth and Reconciliation) total korban meninggal yang tewas hingga mencapai 102.800 orang.

Sejumlah laporan menyebutkan, kala itu dalam penyerangan ke wilayah Timor Timur, pemerintah Indonesia ditunggangi oleh sejumlah negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris yang memberikan bantuan berupa pelatihan militer hingga dana segar yang cukup besar.

Kemerdekaan Timor Leste meninggalkan luka mendalam bagi kedua negara, kini Indonesia dan Timor Leste menjadi negara tetangga yang bersahabat. (CTH)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close