Trending

Sindiran pedas Gus Dur untuk DPR, dari anak suci hingga provokator

Presiden Republik Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid kerap melontarkan kritikan pedas kepada sejumlah pihak. Namun yang berbeda dari kebanyakan politikus, pria yang akrab dipanggil Gus Dur ini mampu mengkritik dengan cara santun melalui humor. Seperti halnya ketika bersitegang dengan DPR, Gus Dur mampu melontarkan lelucon berbau sindiran sadis tetapi juga mengundang gelak tawa.

Perseteruan Gus Dur dengan DPR dan MPR terjadi pada tahun 2001 silam. Puncaknya kejadian itu terjadi pada Senin, 23 Juli 2001 dini hari, di mana untuk kedua kalinya setelah Soekarno, Presiden RI kembali menerbitkan dektret terkait pembubaran DPR-MPR.

Baca juga: Sejarah mencatat! Cuma dua Presiden RI ini yang berani bubarkan DPR

Dalam dekret itu, terdapat tiga poin utama yang diterbitkan Gus Dur yaitu, pembekuan DPR-MPR; pengembalian kedaulatan ke tangan rakyat dengan mengambil tindakan menyusun badan untuk penyelenggaraan Pemilu dalam waktu setahun; serta menyelamatkan gerakan reformasi total dari unsur-unsur Orde Baru dengan cara membekukan Partai Golongan Karya (Golkar).

Sosok Gus Dur. Foto: Wikipedia
Sosok Gus Dur. Foto: Wikipedia

Kala itu, dekret yang dilontarkan Gus Dur justru mendapat kecaman dari sejumlah pihak, salah satu di antaranya Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri serta Ketua MPR Amien Rais.

Keputusan dari pria yang menjadi putra Menteri Agama RI pertama,
Abdul Wahid Hasyim ini bukan tanpa sebab. Sejumlah alasannya pernah disampaikan langsung oleh Gus Dur melalu humor sentilan kepada anggota DPR.

Menghimpun dari berbagai sumber, berikut sindiran peda Gus Dur kepada DPR:

Sindir DPR sikapnya mirip bocah di taman kanak-kanak

Ketika Gus Dur menghadiri sidang paripurna di hadapa DPR terkait pembubaran Departemen Penerangan dan Departemen Sosial. Pada kesempatan itu, Gus Dur mengatakan bahwa lembaga Dewan Perwakilan Rakyat tak ada bedanya seperti bocah di taman kanak-kanak.

“Keterangan saya tidak begitu dipahami, karena memang enggak jelas bedanya antara DPR dan Taman Kanak-Kanak,” kata Gus Dur, mengutip merahputih.com.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Foto Instagram @ferdy.siregar

Akibat dari pernyataan itu, sejumlah anggota DPR merasa tersinggung dan mengecam Gus Dur agar menarik kembali ucapannya.

Tak lama berselang, Gus Dur pun menjelaskan bahwa ungkapannya itu hanya humor belaka dan tak berniat merendahkan lembaga DPR. Menurut Gus Dur, lucon yang dilontarkannya merupakan tradisi kiai-kiai di pondok pesantren yang masih ia pegang teguh kala menjadi seorang presiden.

“Kepada Pak Joko, ajudan saya, tadi saya sampaikan (seusai pidato di DPR), orang pondok itu kalau pidato sampai kepruk-keprukan (berselisih), maka orang pondok itu bercanda saja, biar tidak sampai bertengkar,” ujar Gus Dur pada (Kompas, 19 November 1999).

Ternyata DPR bukan bocah TK lagi, tapi turun jadi Playgroup

Ketika terjadi ketegangan di gedung parlemen antara Koalisi Kerakyatan dengan Koalisi Kebangsaan, Gus Dur yang saat itu sudah berhenti dari jabatannya sebagai Presiden sempat menyebut bahwa sikap DPR kian memburuk.

Cucu K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini pun mengomentari perilaku DPR dengan mengibaratkan, lembaga tersebut ternyata bukan bocah TK yang ia katakan sebelumnya, melainkan turun kelas menjadi bocah playgroup.

“DPR sekarang, biarkan saja seperti ini. Termasuk adanya komisi tandingan dari Koalisi Kerakyatan. Karena DPR bukan taman kanak-kanak lagi tetapi sudah melorot menjadi playgroup,” ujar Gus Dur.

Menyesal sebut DPR seperti anak TK yang masih suci

KH Maman Imanulhaq Faqieh atau yang akrab dipanggil Kang Maman merupakan salah satu ulama yang kerap mendapingi Gus Dur hingga wafat.

Dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur yang dibuat Kang Maman pada tahun 2010. Ia mengisahkan salah satu lelucon Gus Dur ketika berbincang-bincang di Masjid Al Munawaroh, di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sosok Gus Dur. Foto: Kalteng pos.
Sosok Gus Dur. Foto: Kalteng pos.

Dalam kesempatan itu, Gus Dur mengaku menyesal pernah menyebut anggota DPR sebaga bocah TK.

“Saya menyesal menyamakan DPR dengan taman kanak-kanak,” ungkap Gus Dur.

Kang Maman spontan bertanya. “Kenapa? Karena itu lembaga negara ya?”

“Bukan itu, saya merasa berdosa telah meremehkan anak-anak yang suci, cerdas dan kreatif dengan anggota DPR yang kotor dan kreatif mencari celah mencari uang,” jawab Gus Dur.

Julukan anggota DPR ‘Prof’ itu artinya ‘Profokator’

Dalam sebuah buku berjudul Gus Dur Menertawakan NU karya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra Hamzah. Ia mengisahkan pernah dibuat tertawa terbahak-bahak ketika berbincang dengan Gus Dur.

Kala itu, Gus Dur mengisahkan bahwa teman sekampungnya ada yang menjadi seorang anggota DPR.

Semenjak duduk di kursi DPR, panggilan rekannya itu pun berubah. Rekan Gus Dur itu, kini mendapat julukan ‘Prof’ dari teman-temannya yang lain.

Namun usai ditelusuri lebih lanjut, ternyata julukan itu bukan kepanjangan dari panggilan seorang profesor, melainkan ‘profokator’ (provokator).

Mendengar humor sindiran itu, keduanya pun tertawa bersama terbahak-bahak.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close