Trending

Siswi non muslim dipaksa berjilbab, putri Gus Dur: Tegas jangan naif..

Putri Gus Dur, Alissa Wahid mengingatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas adanya pemaksaan siswa non muslim wajib berjilbab di sekolah. Menurutnya kejadian pemaksaan jilbab kepada siswi non muslim di jilbab ini mesti dihentikan dan Kemendikbud harus menindak dan memastikan tak ada pemaksaan berbalut simbol atau identitas agama.

Alissa Wahid meminta otoritas terkait masalah ini untuk jangan naif melihat pemaksaan atau pelarangan jilbab di sekolah hanya urusan pakaian saja, sebab jika ini dibiarkan akan makin berat masalahnya.

Dalam kicauannya di akun Twitter, Alissa mencermati adanya pola pemaksaan di lingkup sekolah dengan tameng mayoritas. Menurut putri Gus Dur itu, tak bisa atas nama mayoritas digunakan untuk pemaksaan pada siswa.

Baca Lainnya

  • Haram pemaksaan di sekolah

    Pemprov DKI liburkan sekolah dua pekan. Foto: Antara.
    Pemprov DKI liburkan sekolah dua pekan. Foto: Antara.

    Alissa Wahid meminta Kemendikbud untuk tegas, ekosistem pendidikan milik negara terlarang memaksakan jilbab untuk siswi nonmuslim. Bahkan untuk siswi muslim saja, sekolah tak boleh loh memaksa mereka mengenakan jilbab.

    Sebaliknya, sekolah juga tidak boleh melarang siswi yang memang ingin berjilbab.

    “Tanpa penegasan, para pengelola sekolah akan menggunakan tafsir yang berbeda-beda. Dan bila pengelola sekolahnya meyakini mayoritarianisme sekaligus klaim kebenaran mutlak, maka akan ada potensi aturan pakaian yang melanggar hak konstitusi, warga yang menjadi korban,” tulis putri Gus Dur itu dalam kicauannya dikutip Jumat 22 Januari 2021.

    Aktivis dan pegiat Gusdurian ini mengingatkan sekolah milik negara alias sekolah negeri di wilayah mayoritas muslim tak bleh juga semena-mena memaksakan wajib jilbab, demikian juga sebaliknya. Intinya jangan ada pemaksaan deh.

    “Sekolah milik negara di wilayah mayoritas muslim, tidak bisa atas namakan menghormati mayoritas lalu memaksa murid berjilbab. Sekolah di wilayah mayoritas non muslim, tidak boleh memaksa murid melepas jilbab. Hak warga atas pendidikan tidak dibatasi oleh pakaiannya,” jelasnya.

    Malahan Alissa mengaku sudah berulang kali menemukan kasus sekolah tak membuat aturan berjilbab secara tertulis, namun ada intimidasi halus kepada siswi muslim yang emoh berjilbab.

    Lakukan 2 hal ini Kemendikbud

    Mendikbud Nadiem Makarim Foto: Antara

    Alissa mengingatkan betul Kemendikbud agar melakukan dua upaya, supaya persoalan ini tak terjadi lagi di dunia pendidikan Tanah Air.

    Pertama, Kemendikbud wajib memperkuat perspektif konstitusi kepada indan pendidikan dan perkuat perspektif peran sebagai ASN yang harus selalu pakai kacamata wakil negara.

    Upaya kedua, yang wajib dilakuin Kemendikbud yakni perkuat lagi praktik beragama di Indonesia yang menghargai keberagaman keyakinan dan jauh dari sikap klaim kebenaran ajaran yang diyakininya. Yang ini, kemdikbud kudu kerjasama dengan kemenag.

    “Tanpa 2 hal ini, aturan tegas kemdikbud akan sulit dinternalisasikan oleh tenaga pendidikan. Makanya soal paradigma kehidupan beragama juga penting, bukan hanya aturan,” katanya.

    Mengakhiri kicauannya, Alissa meminta Kemendikbud tak memandang sederhana permasalahan ini hanya pada soal atribut pakaian atau seragam sekolah.

    “Jangan naif melihat pemaksaan/pelarangan jilbab di sekolah hanya urusan pakaian. Di balik itu ada trend penabalan ideologi mayoritarianisme dan eksklusivisme beragama. Dan ujungnya bukan hanya soal pakaian atau soal perempuan, tapi akan sampai ke soal kehidupan kebangsaan,” ujarnya.

    Viral siswi non muslim dipaksa berjilbab

    Sebelumnya viral postingan orang tua wali murid di Facebook menceritakan anaknya yang dipaksa berjilbab, padahal si siswi ini non muslim lho.

    Pemaksaan ini terjadi pada siswi SMK 2 Padang. Pada postingan di Facebook, orang tua siswa ini menghadap ke pihak sekolah untuk memperjuangkan hak dari anaknya.

    “Lagi di sekolah SMK negeri 2 Padang. Saya dipanggil karena anak saya tidak pakai jilbab. Kita tunggu aja hasil akhirnya. Saya mohon didoakan ya,” tulis postingan akun Elianu Hia.

    Viral pula, surat pernyataan Elianu dan Hia berserta putrinya yang intinya menolak mengenakan jilbab.

    “Tidak bersedia untuk memakai kerudung seperti yang telah digariskan oleh peraturan sekolah. Bersedia untuk melanjutkan masalah ini dan menunggu keputusan dan pejabat yang lebih berwenang,” tulis poin surat pernyataan tersebut.

    loading...
    Topik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button
    Close