Unik

Soal lempeng tektonik Samudra Hindia disebut akan pecah, BMKG: Bisa kiamat

Lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia sedang bergerak dan terancam terbelah menjadi dua. Temuan tersebut dilaporkan oleh laman Livescience minggu lalu. Tapi setidaknya butuh proses yang sangat lama.

Lempengan yang diketahui dengan lempeng tektonik India-Australia-Capricorn terbelah dalam kecepatan yang sangat lambat. Sekitar 1,7 milimeter per tahun. Tapi kalau dihitung, dalam satu juta tahun lempengan tersebut akan terbelah sekitar 1,7 kilometer dari jarak sekarang.

“Bukan strukturnya yang bergerak cepat, tapi tetap saja signifikan jika dibandingkan dengan kejadian lain di planet,” kata peneliti senior Aurelie Coudurier-Curveur di Institute of Earth Physics of Paris, dilansir dari Livescience, Rabu, 27 Mei 2020.

Gempa bawah laut dekat Indonesia

Lempeng tersebut terbelah dengan sangat lambat di bawah laut dan nyaris tidak ketara. Tapi petunjuk didapat dari gempa bumi yang posisinya tak lazim di Samudra Hindia, pertanda alam sedang berubah.

Pada 11 April 2012, gempa bumi dengan magnitudo 8,6 dan 8,2 mengguncang Samudra Hindia, dekat Indonesia. Gempa tidak dipicu oleh pergerakan lempeng yang saling tumpang tindih, melainkan di tengah lempengan. Kedua gempa tersebut, seperti halnya pertanda geologis yang lain mengindikasikan kalau semacam deformasi sedang terjadi jauh di bawah permukaan, area yang disebut Wharton Basin.

Bawah laut
Bawah laut. Foto: Tyler Lastovich di Unsplash

Meski begitu, hal ini bukan sesuatu yang tidak diprediksi sebelumnya. Pasalnya, lempeng India-Australia-Capricorn tidak berbentuk kesatuan. “Itu seperti puzzle. Tidak terbentuk dari satu lempeng. Kira-kira ada tiga lempeng yang saling terkait yang bergerak ke arah yang sama,” ungkap Coudurier-Curveur.

BMKG merespons

Fenomena pergerakan lempeng tektonik di Samudra Hindia akan terbelah menjadi dua dikomentari oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).  Semua lempeng tektonik terus bergerak tapi berjalan dalam tempo yang sangat lambat.

Baca juga: UAS pertama, ini daftar ustaz paling populer di RI sebulan terakhir versi survei

“Jadi pergerakannya itu sangat kecil dan lambat sekali. Tetapi (lempeng tektonik) itu terus bergerak,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dikutip dari Antara, Rabu, 27 Mei 2020.

Menurut Rahmat, ada penyebab lempeng tektonik tersebut selalu bergerak dengan lambat. “Semua lempeng tektonik itu berdiri di atas sebuah cairan likuid. Kemudian bergerak, tapi bergeraknya itu sangat pelan,” katanya.

Pantai
Pantai. Foto: Rostyslav Savchyn di Unsplash

Hamparan benua yang terbentuk saat ini, kata dia, merupakan hasil dari pergerakan yang terjadi sejak jutaan tahun yang lalu.

Pergerakan itu sering kali menyebabkan gempa bumi sehingga beberapa lempeng saling bergerak dan saling bertemu. Namun, ia mengatakan pergerakan tiap-tiap lempeng tersebut berbeda-beda.

“Kalau di selatan Indonesia, Hindia-Australia itu sekitar 7-10 sentimeter per tahun. Ada yang bilang sekitar 6 sentimeter. Tetapi itu relatif,” katanya.

Jika yang dimaksud perpecahan dalam prediksi para ilmuwan itu berada di batas pertemuan lempeng besar yang terakumulasi dalam waktu puluhan tahun sehingga melepaskan energi dan menyebabkan gempa besar, hal itu, katanya, bisa saja terjadi.

Namun, jika perpecahan itu terjadi secara tiba-tiba dan dalam jarak yang cukup besar, hal tersebut, menurutnya, tidak mungkin terjadi.

“Kalau tiba-tiba pecah dengan jarak yang besar, enggak mungkin. Bisa kiamat nanti negeri ini. Tidak hanya negeri ini, tetapi juga bumi ini,” ungkap Rahmat.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close