Trending

Soal penembakan Cengkareng, bolehkah TNI kerja sampingan jadi keamanan di kafe?

Kasus penembakan di sebuah kafe kawasan Cengkareng jadi buah pembicaraan hangat warganet. Pasalnya oknum kepolisian nekat tembak tiga orang, salah satu di antaranya anggota TNI AD yang juga bertugas jadi keamanan di kafe tersebut. Lantas sebenarnya bolehkah seorang prajurit TNI kerja sampingan jadi keamanan di sebuah tempat usaha?

Menyitat dari laporan Tempo, apabila mengacu pada UU TNI, anggota TNI yang tengah menjalani Masa Persiapan Pensiun (MPP) atau yang masih aktif tifak diperkenankan bekerja di tempat lain.

Hal tersebut tertera pada Pasal 47 ayat (1) yang menegaskan hanya prajurit yang sudah pensiun yang boleh bekerja di tempat lain.

Terhitung menurut aturan yang tertera, adapun masa persiapan pensiun dalam undang-undang ditetapkan selama satu tahun. Dalam masa inilah prajurit TNI dilarang merangkap jabatan.

Namun bila nantinya telah pensiun, mereka diperkenankan untuk mencari pekerjaan lain.

Sedangkan mengutip Detik, prajurit TNI yang masih aktif tidak boleh menduduki jabatan sipil sebelum mengundurkan diri ataupun pensiun.

Mereka yang masih aktif hanya diperbolehkan menyiapkan diri mencari jenis pekerjaan lainnya terhitung satu tahun jelang purna tugas.

Mengacu pada UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia dalam Pasal 47 ayat (1) menyebutkan bahwa prajurit hanya dapat menduduki jabatan sipil setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas aktif keprajuritan.

Artinya, apabila prajurit yang bersangkutan ingin bekerja dan menduduki jabatan sipil maka harus mengundurkan diri atau pensiun dari dinas.

Penjelasan pasal tersebut mengatakan bagi prajurit yang menjalani masa pensiun berhak memperoleh masa persiapan pensiun (MPP) selama 1 (satu) tahun. Pemberian MPP tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada prajurit yang bersangkutan mencari jenis pekerjaan lainnya sebagai persiapan setelah pensiun.

Kendati begitu, tidak diketahui lebih lanjut apakah UU tersebut sudah direvisi sehingga prajurit TNI dapat dengan bebas bekerja di luar kewajibannya sebagai aparat.

Soal korban penembakan, Praka MKRS bekerja sebagai keamanan kafe

Pratu Martinus Sinurat, anggota TNI AD yang tewas ditembak polisi Bripka CS. Foto: Indozone
Pratu Martinus Sinurat, anggota TNI AD yang tewas ditembak polisi Bripka CS. Foto: Indozone |Soal penembakan Cengkareng, bolehkah TNI kerja sampingan jadi keamanan di kafe?

Hari ini publik digegerkan dengan pemberitaan anggota TNI AD yang ditembak Polisi di sebuah kafe dangdut di Cengkareng, Jakarta Barat. TNI itu adalah Praka MKRS.

Tidak hanya sendiri, selain Praka MKRS ada dua orang pegawai kafe yang turut menjadi korban keganasan Bripka CS. Anggota TNI dan ketiga orang lain (satu luka-luka), ditembaki Polisi berinisial Bripka CS.

Warga pun kemudian mengungkap sosok Praka MKRS tersebut. Menurut salah seorang juru parkir yang tak mau disebut namanya, anggota TNI korban penembakan Cengkareng sehari-hari memang berjaga di situ.

Dia selalu berada di RM Cafe untuk mengawasi kafe tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Iya jaga di situ, tiap hari emang disuruh ngawasin di situ,” ujar sang juru parkir, kepada wartawan, dikutip Kamis 25 Februari 2021.

Dalam catatannya, Praka MKRS sudah tiga bulan bertugas menjaga keamanan kafe tersebut. Dia tahu nama lengkap sang anggota TNI, karena saban hari memang kerap berinteraksi dengannya.

“Ditugasin buat jaga. Sudah lama juga sih, sebulan lebih ya bangsa tiga bulanan,” katanya.

“Ya dia kan disuruh bosnya suruh jagain situ, namanya orang minum-minum kan resek-resek apa ya kan, takut ada keributan di situ.”

Kafe lokasi penembakan Cengkareng. Foto: Antara.
Kafe lokasi penembakan Cengkareng. Foto: Antara.

Mengutip Kumparan, penembakan itu bermula dari cekcok antara pegawai yang menyodorkan tagihan kepada Cornelius sebesar Rp3,3 juta. Namun entah mengapa, Bripka Cornelius tidak terima dan bersikap arogan.

Mengetahui hal tersebut, anggota TNI yang juga bekerja sebagai keamanan kafe kemudian menghampiri Cornelius.

Meski begitu, Cornelius tetap bersikeras dan tidak menerima ditegur. Bersamaan dengan itu, dia langsung mengeluarkan pistol dan menembak anggota TNI bersama tiga pegawai lainnya.

Atas tindakan arogan itu, kini Cornelius ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat pasal 228 KUHP dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close